Tempat ini lebih cocok disebut rumah sakit mini. Jika dibilang klinik, ruangannya sudah cukup banyak. Ada IGD, lagi. Tetapi jika dibilang rumah sakit, kurang pas juga. Tidak ada poliklinik. Tidak ada ruang konsultasi gizi atau ruang khusus untuk sterilisasi alat.
Aku mengikuti Baron sambil melihat-lihat tiap sudut yang bisa kuingat.
“Selamat datang, Reiiiiin!”, beberapa teman baruku di IGD menyambutku dengan hiasan balon dan puding berwarna oranye yang kutaksir mereka buat sendiri. Wajah-wajah ceria yang mereka suguhkan padaku sukses menyamarkan seragam mereka yang terkesan tua. Cepolan rambut yang super rapi secara alami memaafkan sepatu mereka yang sudah tak putih lagi. Aku tersenyum hangat. “Terima kasih, mohon kerja sama dan bantuannya ya, kak.”
Baron berada paling belakang, kemudian pergi sesaat setelah aku memotong puding menjadi bagian yang kecil sebelum membagikannya.
“Semoga betah, Rein,” seseorang memelukku. “Oh iya, Erina,” katanya menyebutkan nama, lalu merangkulku lagi. Aku balas merangkulnya. “Katanya, sebelumnya kamu kerja di IGD juga?”
“Iya, jawabku. “Baron yang cerita?”
“Iya, kemarin dia bikin rapat kecil-kecilan untuk membahas kedatangan kamu.”
Aku menelan ludah. Mungkin Baron juga sudah membahas tentang ketidakberniatanku berangkat kesini dan kelakuanku menyelinap ke kebun orang.
“Kepala ruangan disini siapa, Na?”, tanyaku.
“Lho, enggak tahu? Kan dia,” Erina menatapku heran.
“Dia?”, tanyaku. “Maksudnya.. Baron?”
“Iya, aslilah kamu. Lucu banget,” Erina tergelak. “Kan yang milih kamu buat jaga di IGD juga dia.”
“Tapi, dia kan perawat pindahan dari luar, Na?”
“Iya. Abis pinter, sih, dia. Sebenernya bos disini namanya Pak Butam. Dia baru pensiun dua minggu yang lalu. Sementara cari gantinya, kita pilih Baron dulu jadi kepala ruangan. Semacam PJS, begitu. Hasil voting, lho. Jadi sekarang dia merangkap kepala mess dan kepala ruangan disini.”
Whoa. Dan kemarin kutaksir usianya sekitar 20-something. Dia bukan hanya setajam, tetapi juga semisterius es batu.
“Oke. Orientasi tempat dulu, deh. Yuk,” ajak Erina. Aku mengikutinya ke tengah ruangan. Sekumpulan meja yang ditata sedemikian rupa sehingga bisa menampung semua barang yang kuduga penting, dan sedikit space untuk kami duduk.
“Ini Nurse Station,” Erina mengitari meja-meja di hadapan kami. Hanya satu buah komputer tabung terletak disitu, selebihnya adalah status pasien yang disampuli dengan map warna coklat muda. “Disini kursi terbatas, jadi untuk menulis status, kadang kita harus berdiri,” jelas Erina. “Tepat dihadapan Nurse Station adalah area gawat darurat, zona merah. Cuma tiga tempat tidur.” Aku melihat tiga tempat tidur dan satu monitor di tengah-tengahnya. Tiga buah oksigen mobile terletak di samping-samping bed. Alat saturasi dan tensimeter terpisah dari monitornya, masih memakai yang manual.
“Disamping kiri, ruang rehidrasi,” Erina mengajakku ke sayap sebelah kiri. “Zona hijau.” Aku melihat hanya standar infuse yang terletak disini, bersama dengan dua buah bed. Berbeda dengan bed zona merah, bed zona hijau tak memakai pagar pengaman samping tempat tidur.
“Dan, sayap kanan adalah untuk pasien dengan luka-luka karena kecelakaan, dan sebagainya,” Erina mengajakku ke sisi yang lain. Aku melihat troli GV—begitu kami menyebutnya—untuk perawatan pertama terhadap luka. Alat GV disitu cukup lengkap. Benda-benda steril standby, juga sarung tangan dan berbagai cairan pembersih luka.
“Cukup untuk hari ini. Ada pertanyaan, Rein?”, tanya Erina.
“Em.. tempat cuci tangan dimana, Na?”
“Oh, kalau disini tempat cuci tangannya harus ke kamar mandi. Kamar mandinya ada disebelah sana,” Erina menunjuk sebuah sudut.
No wastafel. “Oke,” aku cukup puas dengan penjelasan Erina. “Bisa mulai.. kerja?”, tanyaku bersemangat.
Erina menggeleng.
“Disini, hari pertama dan kedua belum boleh pegang pasien. Kamu lihat-lihat saja dulu,” Erina menyatukan telapak tangannya. “Maaf, ini peraturan yang Baron kasih.”
“Enggak apa-apa, Na,” aku maklum. “Dua hari ini mau aku bisa belajar mengenal, kamu tahu, tentang letak barang-barang, dan situasi..”
“Time to work, ladies,” seseorang menghampiri kami. “Oh, oke,” Erina mengerling padaku sekilas. Seperti sebuah sinyal pertanda “waspada” yang ia berikan untukku. “Nanti lagi ya, Rein,” serunya, kemudian kembali ke Nurse Station.
Baron menatapku dalam diam. Rahangnya kaku. Melihat wajahnya selalu membuatku tegang tanpa alasan yang jelas.
“Ada apa?”, akhirnya pita suaraku berguna juga.
“Pake,” dia menyodorkan masker disposible kepadaku. “Bed 01 bronchopneumonia, bed 02 TBC kronis,” katanya sambil menungguku mengambil dari tangannya.
“Hari ini aku enggak ke pasien, Ron. Erina bilang aku lihat-lihat dulu saja.”
“Hari ini, sampai jam makan siang, kamu temani aku. Kita lihat klinis pasien dan kita bikin contoh-contoh prioritas masalah.”
¼
Aku mau menangis saja, rasanya.
Setelah kami melewati jam makan siang, kita melewati jam makan malam. Entah dari apa perut Baron itu terbentuk. Mungkin dari karet atau dari beton. Mungkin dia tidak memelihara gembel di perutnya untuk ia beri makan. Sungguh, aku lapar sekali.
“Pohon masalahnya belum sempurna. There, kamu tidak mencantumkan asam laktat didalam proses terjadinya nyeri. Bagaimana itu terbentuk, apa saja faktor yang membuat dia keluar secara alami dari tubuh kita.”
Oh, Tuhan. Bahkan aku tak mampu lagi berpikir untuk saat ini. Paling tidak aku membutuhkan segelas teh dan dua batang gula-gula buatan Bu Warsini.
“Ron..”
“Lalu, masalah nomor satu pada kasus bronchopneumonia Tn. Y itu bukan nyeri, tetapi perubahan pola pernapasan,” Baron mencoret sketsaku.
“Dia datang kesini karena ada luka diabet di bokongnya yang belum sembuh, Ron. Dia enggak sesak waktu aku kaji. Even coughing.”
“Diagnosanya adalah Bronchopneumonia, Rein.”
“Ron,”
“Perbaiki itu.”
Mataku mendelik kasar. Aku protes.
Ingin sekali aku melesat menuju dapur dan mengambil nasi.
Aku melihat Baron dengan khusuk mengerjakan sketsanya. Sekali-kali ia terlihat membuka buku, sekali-kali googling.
Dia menulis, menggaris, membulati, menghapus, mencoret, menebalkan.
Menulis, menggaris, membulati, menghapus, mencoret, menebalkan. Lagi.
Aku menguap untuk kesekian kalinya. Tak terasa detak jam dinding sudah mengucapkan selamat tinggal pada pukul 24:00.
¼
Pagi hari, aku mendapati diriku sudah berselimut di kasurku sendiri. Masih ingat terakhir kali yang kulihat adalah wajah Baron yang sudah mulai mengantuk dan kertas-kertas besar berisi prioritas masalah yang belum selesai kubuat. Apa aku berjalan tidak sadar ke tempat tidurku?
Tak terasa lagi lapar yang kemarin hinggap. Aku hanya haus. Segera kurogoh sepasang sandal di bawah ranjang. Aku menapakinya dan baru kusadari ada orang yang tidur disebelahku.
Aku mengambil bantal diam-diam. Mengendap-endap, aku mendekati dia dan dengan geram bersiap memukulnya. Sialan, apa maksudnya ini!
Dia menggeliat pelan. Tersembul rambut kecokelatan. Seingatku, rambut Baron hitam pekat.
“Hm, morning, Rein. You look so..awk—ward,” Joy menguap. “Jam berapa ini?”
“J—Joy?”, aku menghela napas panjang. “Sejak kapan kamu tidur disini?”
“Kalian rodi amat,” Joy tidak menjawab pertanyaanku. “Sakit, baru tahu.”
Joy tidak menjawab pertanyaanku.
“Pegal lama-lama kalau kamu terus tidur dalam posisi duduk begitu. Aku yang memindahkanmu. Tak masalah?”
Aku melotot. “Dan kamu lebih super woman dariku,” sindirku, melihat tubuhnya yang bahkan beratnya mungkin sama dengan berat badanku.
Joy menenggelamkan diri kembali di bawah selimut. “Too early to wake up, Rein. Tidur lagi saja,” matanya mengintipku. Akhirnya menepuk-nepuk bantal disampingnya, menyuruhku kembali berbaring. Ini jelas tidak boleh. Peraturannya semua penghuni mess harus tidur di kamar masing-masing. Tidak terkecuali aku, ataupun Joy.
Jangan sampai Baron tahu, karena bisa memperkeruh masalah.
“Aku mau ambil minum,” aku membenahi selimutnya dan membuka pintu kamar.