1/4

Sancka Stella
Chapter #9

#PERSIDANGAN ALA BARON

Sejak hari pertama Joy pulang dari klinik, dia belum menemuiku. Aku pun belum menemuinya. Kami beberapa kali berpapasan di refter ketika makan malam, dan di ruang belajar, tetapi aku merasa ia menghindariku. Sejalan dengan itu, aku merasa aku memang tidak mempunyai alasan khusus mengapa aku harus berbicara dengannya.

Aku hanya cukup lega karena ia terlihat sehat.

Satu-satunya hal yang membuatku terbangun pagi itu ialah derap kaki. Langkah itu terkesan buru-buru dan seperti dikejar-kejar. Aku lantas bangun dan mengintip melalui jendela kamar. Terlihat rambut cokelat itu lagi, dengan sepatu kets yang jelas memaksa rerumputan untuk bisa memberinya jalan.

Joy?

Ini masih pukul 03:15.

Hatiku tiba-tiba mencelos tak karuan.

Aku mengucek mata sekali lagi, dan bergegas memakai selopku. Dengan berjingkrat-jingkrat keluar kamar, aku berharap tidak membangunkan Ret dan Awina yang rumornya mempunyai pendengaran cukup tajam.

Sampai didepan pintu keluar, aku memantapkan hati. Sebenarnya, aku ragu untuk keluar subuh-subuh begini. Rasa takut mencuri sebagian keberanian yang tadi sempat terkumpul.

Mungkin aku akan menemukan sesuatu dibalik pepohonan itu, kataku menguatkan niat.

“W—whoa! Apa ini?”, aku menginjak sesuatu.

Sandal. Bertuan.

“Baron?”

“Ternyata kamu,” ia memicingkan mata.

“Eh? Apa?”

“Yang aku lihat selama ini—mengendap-endap keluar mess menuju hutan?”

Aku tergagap. “Aku? Hei, aku enggak..”

“Kembali ke kamar. Kembali tidur. Sidangnya besok siang saja.”

“Baron, bukan aku!”, tukasku. “Dengar dulu, aku—”

Baron menyeret lenganku yang masih berpiyama. Aku mencopot sandalku dengan tergesa. Masih setengah meronta dan mencoba menjelaskan, lengan tukang jagal Baron sepertinya semakin kuat memegang lenganku.

Enggak ada yang bisa lebih buruk dari ini.


¼


Aku mencari-cari salah satu dokumen rekam medis di dalam laci. Super waspada, karena mata Baron ada dimana-mana, mengawasiku. Hanya bermodal ingatanku akan zona hijau—bed nomor enam tepat tiga hari yang lalu. Nomor bed di IGD kadang dicantumkan, kadang tidak. Yang pasti dicantumkan adalah nomor kamar jika ia rawat inap. Rekam Medis IGD belum bisa sepenuhnya dicatat di komputer pendokumentasian, karena pasien yang datang silih berganti kadang mengacaukan pencatatan, sementara petugas rekam medis disini terbatas.


Betul, rekam medis Joy adalah yang sedang aku cari saat ini. Aku sudah berniat mengacuhkannya saja, tetapi pikiranku tentangnya mengikuti. Dan akupun tak tahu mengapa sebegitu gencarnya aku mengurusi ini. Aku hanya merasa perlu tahu, karena beberapa kali aku menemukan ia berlari ke arah hutan.


Sepertinya semesta berniat untuk memberitahukan sesuatu.


Aku ingat, ketika aku hendak menemuinya sekali lagi—tentu saja—Baron menyeretku untuk mensterilkan barang. Aku menyelesaikan pencatatan barang-barang yang sudah selesai disterilkan setelah senja berganti bulan.


Itu kedua kalinya aku gemas karena rasa penasaranku lagi-lagi harus ku tunda, dan kedua kalinya pula aku harus menangis karena lapar.                                                                                                                                                                                              


Aku pikir, mungkin Joy sebenarnya tahu tentang ada apa di hutan itu. Kemungkinan dia tahu jelas bukan nol persen. Bagaimanapun aku harus menemukan data-data miliknya.

Sayang, Dion tidak masuk hari ini. Satu-satunya informan terpentingku tidak masuk karena sakit. Semetara, perempuan memang tidak boleh masuk ke mess laki-laki, begitu pun sebaliknya. Kami hanya boleh saling bertemu di ruang -ruang bersama, seperti refter, ruang pertemuan, ruang belajar. Jelas kemungkinan kecil Dion pergi kesana jika memang ia sakit.


Kembali aku memutuskan untuk mencari diantara map-map coklat itu, siapatahu aku menemukan keberuntungan. Beberapa kali aku harus menunda pencarianku karena pasien membludak hari ini. Aku harus bersabar menunggu waktu makan siang tiba.


Erina lewat didepanku, kemudian mundur lagi. “Ada masalah apa, sih, Rein?”

“Aku—” aku melap tanganku setelah mencuci tangan. “Enggak. Aku hanya lagi mencari data seseorang. Kenapa memangnya?”

“Enggak, bukan itu maksudku,” Erina menggeleng. “Baron mengumpulkan anak-anak ketika makan siang nanti. Di refter. Kudengar beberapa kali dia menyebut namamu. Ada apa, sih?”

Persidangan—thing. Aku menghela napas. Waktu pencarian ketika makan siang terancam gagal.


Lihat selengkapnya