1/4

Sancka Stella
Chapter #10

#INSANE

You shouldn’t be at there, you know!”, Joy berteriak setelah ditemukannya sebuah pohon tua yang besar untuk tempat kami bersembunyi. Menyesal, akhirnya dia melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mendengar teriakannya barusan.

Aku menelan ludah. Sekeramat itukah tempat ini?

And why not? You were there also,” sahutku.

“Aku membuntutimu!”, balas Joy, rambutnya yang sudah agak panjang terlihat tak beraturan, menutupi matanya.

“You lied. I see you go to that place every single dawn,” tukasku ragu. “Kenapa kamu enggak pernah kasih tahu aku? Ada apa disini?”

“Terlalu berbahaya buatmu!” sergahnya. “Tempat ini--keramat, Re," penjelasan Joy sungguh masih abu-abu.

Aku tergagap.

So.. So, is that really you?” aku memvalidasi.

Joy tidak mengiyakan, tak juga menyanggah.

Karena itu, aku jadi mengingat percakapanku dengan Echo dulu, ketika Molly, anjing kesayanganku hilang di suatu sore.


Elu tahu enggak, gimana caranya tahu apakah seseorang lagi bohong, atau enggak?”

Aku tetap menangis sambil memegang tali leher Molly. Molly, anjingku, tiba-tiba hilang malam tadi.

“Pegang tangan dia,” Echo menggenggam tanganku. “Tapi jangan terlalu smooth, nanti dia baper,” Echo terkikik. Aku tersenyum kesal padanya.

“Raba aja denyut nadi dia, kalau sebelum itu dia enggak lagi beraktivitas berat, tapi heart rate nya cepat, it means he is lying to you.”

“Terus, kata ahli psikologi sih, kalau lagi jawab pertanyaan, orang yang lagi bohong biasanya melirik ke arah kanan.”

“Kalau liriknya ke arah kiri?”, ujiku.

“Kayak gini?”, Echo menatap mataku. “Berarti ada orang yang dia sayang ada disebelah kirinya.”

Taik, kamu,” aku geli sendiri. Echo terbahak.

“Yang ketiga, terkesan cepat menjawab, sambil showing uncomfortable body language.”

“Maksud kamu?”

“Misalnya, elu suka sama gue?”

“Apa?”, aku melotot. “Enggak!”

“Berarti itu indikasi berbohong. Elu bilang enggak tapi pipi lu merah.”

Sialan. “Panas, man!” aku menunjuk matahari. Echo tertawa.

“Tapi, kita juga bisa tahu kalo seseorang mau bohong, tapi enggak tega.”

“Ada ya, enggak tega kayak gitu?”

“Ada,” Echo melipat kakinya.

“Salah satu cirinya, dia jawabnya lama. Artinya dia lagi cari jawaban yang tepat biar enggak bikin kita sakit hati.”

Lu bisa coba ke temen elu itu, beneran dia ngambil Molly apa enggak. Coba aja dulu, kali berhasil.”


Joy belum menjawab pertanyaanku. Ini sudah cukup lama untuk aku menunggu jawaban. Apa ia sedang memikirkan jawaban yang membuatku jangan sampai sakit hati?

Aku memejamkan mata, memantapkan hati.

Ternyata memang dia.

“Dan kenapa buat kamu enggak?”

I am different, stone,” Joy menendang kerikil. Terlihat putus asa.

What were you doing there?”, tanyaku, merendahkan suara.

Gadis itu bergeming.

It isn’t your bussiness. Urusi saja urusanmu,” ia berbalik. Aku cepat-cepat memegang tangannya, erat. Ada hening yang mengangkasa beberapa detik lamanya.

Do you like me?”, potongnya terbata. Tangannya mendadak dingin.

Aku mengerenyitkan pelipisku.

Do-you-like-me, Rein?” ulangnya.

“Kenapa bertanya begitu?”

Just answer.”

“Of course I like you,” kataku, menyelipkan tanganku ke saku jaket. “We are friend.”

“Bukan seperti kamu dan Vita, tapi seperti Jack dan.. Bara?”, jelas Joy—terbata.

Apa yang barusan dia katakan?

“What do you mean?”, aku mundur beberapa inci, seakan membuat batasan.

Satu dua helai daun kuning kecoklatan jatuh bebas di atas kepala Joy, namun tak berhasil mengalihkan fokusnya kepadaku.

Is she insane?

Langkah Joy kemudian pelan-pelan menjauh. Berbalik. Berlari.


¼


“Kemana aja, kamu?”, Baron menyilangkan tangannya di depan dada. Ia masih memakai sepatu boots nya yang biasa ia pakai setiap kali pergi ke kota. Aku mengeraskan rahangku.

“Udah pulang, kamu?”

Matanya menatapku dengan pandangan that’s-not-the-answer, idiot.

“Nyari angin, Ron. Sumpek disini,” aku menyandangkan tas selempang yang tadi kujinjing ke atas bahuku. Mengalihkan perhatiannya. Tetapi gagal, sepertinya. Baron tak juga beranjak dari situ.

“Kemana aja kamu?”, tanyanya sekali lagi, membuatku lagi-lagi harus bertopeng.

“Cari angin,” ulangku dengan tatapan tak suka.

Baron melepaskan jaketnya dan menaruhnya sembarang.

“Apa yang terjadi disini dan saya enggak tahu?”, nada bicaranya terdengar memaksa.

Better take a bath, Bar. Sebentar lagi lonceng makan malam,” kataku. Ia benar-benar punya waktu dan tenaga untuk mengurusiku.

Lihat selengkapnya