Jam kerja baru saja usai. Aku menengok HP ku dan ada notifikasi SMS banking. Gaji bulan ini sudah masuk dan ini sudah ketiga kalinya saldo di rekeningku bertambah cukup signifikan. Itu berarti, sudah tiga bulan aku bekerja disini.
Aku sudah membuat pengaturan agar lima persen dari isi rekeningku auto tertransfer ke rekening Echo, ditambahkan pesan “Buat si Ganteng Geris” didalam narasi beritanya. Beberapa saat kemudian, ada panggilan mendarat di ponselku, dan tertera nama Echo di layarnya.
Aku kesal dan rindu disaat yang bersamaan. Setelah sekian senja dan pagi, akhirnya dia menghubungiku juga. Seolah suara hatiku terhubung dengannya.
“Halo, Cho?”
Suara di seberang diam.
“Echo?”
“Gue udah kirim balik transferan lu.”
Hatiku mencelos. Ada orang setega ini.
“Kamu kenapa sih?”
“Ngapain kirim-kirim? Emang lu anggap gue apa?”
“Kok tanya gitu?”
“Kalo lu anggep gue deket, kenapa keputusan sepenting “pindah kerja” engga lu kasih tahu ke gue?”
“Nyolot.”
“Hah?”
“Nyolot, nyolot, nyolot terus tapi kamu engga pernah denger penjelasan aku. Echo. Berisik. Echo paling berisiiiiik sedunia!”
“Kok jadi elu yang marah?”
“Biarin! Kamu kayak anak TK!”
“Rein..”
“Apa? Apa? Hah! Gapapa, Whatsapp aku ga usah dibalas aja, Cho! Kamu pindah aja sekalian ke bulan!”
“Hei, hei..”
“Hei, Rein.”
Suaranya terdengar lebih jernih.
“Rein.”
Aku berbalik. Laki-laki jangkung itu sudah berdiri di tepi pintu. Dulu, hampir setiap hari aku bersama-sama dengannya. Setelah jam kerja, setiap hari libur. Kali ini, walaupun aku baru melihat parasnya lagi, rasanya tetap tak berbeda.
“Echo!”, aku hendak memeluknya ketika aku tersadar aku masih menggunakan seragam kerja.
Echo tersenyum dan menghampiriku.
“My girl,” dia menepuk pipiku dua kali. “Selamat.”
“Selamat? Buat?”
“Karena bisa melewati tiga bulan hidup tanpa gue,” Echo kemudian terkikik.
Rasanya mau menangis saja mendengarnya. Enak saja dengan seenak udel mengatakan hal itu. Dia tidak tahu bagaimana aku begitu rindu ingin bercerita kepadanya tentang ini dan itu.
“Iya, kayaknya aku udah bisa deh, hidup ga pakai ngerepotin kamu,” kataku tak jujur.
“Tapi gue gak mau," Balas Echo.
“Elu harus tetap ngerepotin gue, selama-lamanya.”
Aku mendelik kesal. “Kayaknya hidup kamu lebih tenang tiga bulan kebelakang. Buktinya gak ada tuh, basa-basi telepon, atau even kirim pesan, gitu, Cho. Enak kan, ya, ga ada aku?”
“Nah, belum ngerti juga kan, maksud gue. Jadi percuma gue diemin bulan-bulan kemarin.”
“Aku emang ga ngerti," aku berniat usil.
“Lu ga ngerti, karena hidup lu seperti biasa aja, walaupun ga ada gue.”
“Emang!”, aku terbahak. Berbohong lagi.
Echo mengacak rambutku.
“Yuk!”, seruku.
“Yuk?”, Echo heran.
“Rujak bebek? Nasi tutug oncom? Sambel petai?”
“Ada?”, mata Echo berbinar-binar.
Aku mengangguk bersemangat.
¼
Aku menghabiskan sendok terakhirku dan merasa lebih dari rakus. Aku senang nafsu makanku muncul kembali setelah melihat Echo makan. Setelah selesai, Echo merebahkan lehernya di bantalan kursi, kekenyangan sepertinya. Aku tergelak melihat matanya yang masih memperhatikan sisa rujak bebek didepannya—yang kami nobatkan sebagai dessert—tapi perutnya seperti sudah tidak mampu menampung apapun.
Aku menatapnya beberapa kali. Ternyata serindu itu aku padanya.
“Masih ada besok,” kataku cemas melihat baju bagian perutnya mengetat dari sebelumnya. “Kamu disini sampai kapan, sih?”
“Satu minggu,”, balas Echo. “Mungkin.”
“Sebegitu kangennya sama aku, sih, Cho. Sampe disengajain, seminggu stay disini,” aku menggaruk pangkal bahu Echo seperti kucing dan mengedipkan satu mataku.
Echo mengerling dengan tatapan “enyah-gak-lo-dari-bahu-gue”. Aku terbahak.
Echo menoyor dahiku pelan. “Lu pikir gue kesini buat ketemu elo?”
“…”
“Ya itu salah satunya, sih.”
“…”
Jadi—“, Echo mencubit pipiku pelan. “Yang pertama, gue kesini emang buat ketemu elo. Yang kedua, ada yang mau gue kerjain sama Dave,” akhirnya dia memperjelas.
Aku melanjutkan senyum tersipuku.
“Senyam senyum.”
“Biarin.”
“Cho, aku ada rahasia.”
Echo menyelesaikan tegukannya. Ia meletakkan gelas berukuran sedang itu kembali di meja. Sudah habis duapertiganya.
“Yaudah, ga usah diceritain.”
“Kenapa?”
“Kan rahasia.”
“Jadi kalo kamu punya rahasia, kamu ga cerita ke aku?”
“Enggak.”
“Aku punya rahasia dan aku mau ceritain ini ke kamu,” aku memperjelas.