1/4

Sancka Stella
Chapter #12

#KSATRIA

Echo berkali-kali mengusap tanganku dan memberikan secangkir teh panas, untuk menghangatkan telapak tanganku. Setelah kami kena hujan deras sore itu, Echo bolak balik ke mess kami, mengkhawatirkan keadaanku. Akhirnya, Bu Warsini mengijinkan dia untuk menjengukku ke kamar saja, karena terlalu sering datang sehingga membuat kegiatan beliau di dapur sedikit terganggu. Lagipula, Bu Warsini sudah mendapat info dari rumah sakit kami perihal kedatangan Echo ke mess ini.


Dari tadi, kudapati Echo belum menanyakan apapun padaku, padahal terlihat sekali raut mukanya kebingungan. Satu-satunya kalimat yang kudapatinya keluar dari pita suaranya hanyalah, “lu butuh apa?”, sementara dia sudah melakukan semuanya: meminta tolong Bu Warsini menyiapkan air hangat untukku mandi, menyiapkan pakaian dan jaket, membalur telapak kakiku dengan minyak kayu putih, dan memakaikan kaus kaki. Sementara, aku tahu dia sendiri kehujanan—sama denganku—dan belum berbenah. Aku menjawabnya dengan gelengan, karena sungguh semua kebutuhan fisikku sudah ia penuhi. Ruangan yang hangat, kaki yang nyaman, dan teh hangat dalam genggaman. Aku hanya butuh ketenangan dan waktu untuk mencerna apa yang kulihat di rumah itu sore tadi. Baron, Joy, parade itu, sebuah cambuk, kotak es, dan fotoku.


Aku baru mengetahui identitas laki-laki yang berada di hutan dengan kami kemarin. Dia adalah kakak Joy. Mengikuti Joy selama ini ke Cikalong Wetan--hingga menemukannya menjadi korban untuk praktik jahat itu.

“Echo?”, seseorang menyembul dari balik pintu. Awina.

“Kamu yang Namanya Echo, ya?”, tanya Awina. Echo mengangguk. “Ada apa, ya?”

“Boleh engga, minta waktu kamu sebentar?”

Echo menoleh padaku. Alih-alih mengangguk menyetujui, aku melirik Awina. “Mau diapain, Win?”

Awina tersenyum.

“Ada yang mau ketemu sama dia, sebentar aja,” jelas Awina.

Echo memegang bahuku. “Gue mau dikasih makan, kayaknya. Temen lu ini lebih perhatian dibanding elu, nih. Cacing-cacing di perut gue udah hipoglikemi ini, minta nasi,” Echo terkikik.

Elu istirahat, ya. Gue cepet, kok.”

Echo beranjak dari samping tempat tidurku, lalu mengikuti Awina keluar pintu.

Pukul setengah delapan malam, masih terlalu pagi untuk mengucapkan selamat tidur.

Tapi, memejamkan mata dan mengistirahatkan pikiran adalah sebuah pilihan yang tepat. Sebelum overthinking ini semakin menjadi.


¼


Arlojiku menunjukkan pukul 06.27. Aku bangun terlalu siang.

Bu Warsini datang tepat saat aku merapikan rambutku. Hendak mengambil handuk lalu kemudian mandi.

“Rein,” Bu Warsini duduk di tempat tidurku.

Aku kembali duduk “Enjing, Ibu.”

Bu Warsini tersenyum.

“Si neng sudah baikan?”, tanyanya lembut.

“Saya enggak apa-apa, bu,” jawabku.

“Kalau engga apa-apa, kenapa dia sampai tidak tidur semalaman.. Dia bilang sama Ibu, kalau ada apa-apa sama kamu, tolong dia diberitahu.”

“Siapa, bu?”

“Itu.. Pacar kamu, ya?”, Bu Warsini “Kok engga pernah cerita, kalau punya pacar sebaik itu?”

Aku mencoba mengingat. “Echo?”

“Iya, Ibu mireng ti Awina, namina Echo.”1

Aku tersenyum. “Bukan pacar, Bu. Dia teman dekat. Dari kecil,” aku tersenyum. “Sudah dekat banget, Ibu. Jadi kayak pacar, ya.”

Ibu Warsini mengangguk.

“Rein,”

“Ibu bade nyarios hungkul,2 Bu Warsini mendekat ke tempatku duduk.

Ulah hilap ngadu’a, nya."3

Aku terharu. Ibu Warsini yang biasanya tidak banyak bicara, tiba-tiba memberi wejangan seperti ini. Sejuk terasa di hati ini, ketika mendengarnya.

“Bu..”

Ibu Warsini memeluk bahuku. Telapak tangannya seringan kapas. Aku tenggelam dalam pelukannya. Walaupun tidak bisa menggantikan pelukan mama, tapi ini sudah lebih cukup untuk menenangkanku.

Dan memang betul, sudah terlewat sekian malam tidurku tanpa diinisiasi doa.

“Sudah ada sayur bayem bening sama jagung, tempe dan ayam goreng. Sarapan dulu ya, sebelum berangkat.”

Aku mengangguk, mencoba bersemangat. “Terima kasih, Bu.”

Sepeninggalan bu Warsini, aku kembali harus diliputi kebingungan.

Bagaimana aku harus menghadapi ini?

Bagimana aku mengadapi Baron di klinik nanti?


¼


Benar dugaanku.

Baron tepat berdiri di depan pintu IGD, seolah memang sedang menungguku.

Aku sudah mengumpulkan segulung keberanian untuk saat-saat seperti ini.

“Hari ini aku harus memberitahukan tentang kegiatan kamu pada perawat klinik dan anak mess kita,” kataku bersungguh-sungguh.

Saya sudah menghentikan itu. Saya sudah-menghentikan-itu,” Baron memegang lenganku.

“Kamu tunda. You postpone it,” ralatku. “Dan tetap akan kamu lakukan, kan. Are you happy? Did it make a pleasure for you?”, aku berteriak tepat di depan hidungnya. Dengan berjinjit, tentu saja.

“Ini sebabnya saya engga boleh bilang tentang ini sama kamu. Karena kamu engga bisa denger penjelasan dari saya. Dan kamu tetap memilih menjadi 'Thomas' sampai detik ini.”

Aku baru mengerti 'The Maze Runner' yang ia paparkan padaku lusa lalu.

“Apapun alasannya, apapun niat baik kamu, kamu engga akan menyiksa orang kayak begitu, ya, Bar. Engga akan!”, suaraku mengecil namun meninggi.

Baron mengepalkan tangannya, berujung meraih kedua tanganku dengan tangannya.

Joy is lesbian! And she is falling in love with you!”

Aku seketika berubah menjadi batu es.

“Saya sedang mencoba beberapa alternatif yang bisa dilakukan untuk membuat dia sembuh. Dan dia sendiri yang minta bantuan kepada saya, Rein. Dia sendiri yang mau. Salah saya dimana?”

Aku mencoba untuk menguasai diriku sendiri ditengah keterkejutanku.

“Dengan arang panas, balok es batu, cambuk, dan sayatan-sayatan itu? Kamu masih tanya sama aku dimana salah kamu?”

Lihat selengkapnya