Sebenarnya aku hendak mengusulkan sebuah pertemuan untuk semua yang terlibat dalam pelaksanaan “terapi konversi” pada Joy tempo hari. Walaupun itu lebih kepada terapi pembunuhan manusia secara perlahan-lahan, menurutku. Tapi, Baron sudah mengajakku lebih dulu untuk bertemu dengan Justice dan beberapa anggota tim yang mereka bentuk ketika kebetulan kami mempunyai waktu setelah lepas jaga malam.
“Kita belum tahu hasilnya, kalau eksperimen nya aja engga tuntas, Bar,” Justice lagi-lagi memotong argumenku. “Dan, elu mau percaya mentah-mentah sama hasil dari jurnal-jurnal luar? Dan itu penelitian lama. Kita, di jaman ini, sudah berbeda karateristik, berbeda budaya, berbeda nilai-nilai. Apa salahnya dicoba lagi?”
“Cara itu sudah pernah dicoba dan hasilnya enggak efektif, Justice. Engga perlu berbeda karakteristik karena respondennya sama; manusia!”, selaku. “Malah cara itu bisa menambah trauma kepada korban, psikologisnya bisa kena, Justice. Dampak negatifnya akan lebih besar dibanding kemungkinan dampak positif yang didapat. Kita engga perlu meminum cairan yang sama, kan, kalau didalam penelitian sebelumnya isi cairan itu sudah terbukti racun?” kataku berargumen.
Tenang, tadi malam aku sudah mendopping diriku sendiri dengan empat buah telur ayam kampung dan madu, untuk bisa tangguh berdebat didepan laki-laki ini. Di akhir, jika aku masih punya kesabaran untuk melihat wajahnya, akan kugunakan waktu untuk meminta ia bertanggung jawab karena bahuku lebam akibat dorongan dia kemarin di lorong.
“Dan elu mau delapan belas hari ini sia-sia?”, Justice berkacak pinggang. “Meskipun volunteer, Joy itu pakai usaha mati-matian loh, Rein. Delapan belas hari ini dia udah sakit fisik: kita udah melakukan segala cara yang mungkin. Terus elu mau menghentikan hal itu—yang tinggal tiga hari lagi kita bakal lihat hasilnya!”, Justice menunjukku. Mataku tak berpaling sedetikpun dari wajah Justice—tidak berupaya untuk melunak padanya ataupun memberikan isyarat minta tolong pada Baron.
“Kita enggak tahu akan ada apa di hari ke-19, 20, 21, Justice. Kamu engga lihat kemarin, dia sudah kelihatan payah?”
“Dari observasi sekilas itu memangnya apa yang bisa lu temukan? Lu bahkan engga melakukan pemeriksaan fisik,” ujar Justice. “Sok tahu.”
“Gimana dia mau melakukan pemeriksaan, Bro, lu nyuruh dia pergi,” sela Baron. Justice memandang Baron tak percaya.
“Lantas, lu punya rencana yang lebih baik, dengan kemungkinan keberhasilan lebih besar dan dampak negatif yang lebih minimal?”, Justice menantangku.
Aku enggak tahu ini bakal berhasil atau enggak, tapi boleh aku usul sesuatu?”
Justice menghela nafas, tak acuh.
“Lanjutkan,” Baron bersiap, dengan seksama, mendengarkanku.
“Kalau ada faktor lingkungan yang bisa membuat orientasi seksual mereka berubah, aku kira faktor lingkungan juga yang bisa menjadikan orientasi seksual mereka kembali seperti semula. Ini hanya berlaku untuk mereka—yang punya motivasi internal untuk mengubah orientasi seksual mereka.”
Baik Baron, maupun Justice, belum menanggapi apapun.
“Kita bisa coba live in—tinggal bersama selama beberapa bulan—dengan pemuka agama yang dianggap lebih paham terkait pendidikan rohani, atau orang-orang yang dianggap mempunyai pemahaman lebih terkait hal itu. Kita buat MOU dulu dengan mereka. Gimana?”
Justice menarik sebelah sudut bibirnya. “Weird. Cara kuno. Buang-buang waktu.”
“Udah pernah dicoba disini?”, tanya Rein.
Justice bergeming.
“Tetap saja. Ga akan berhasil.”
“Jika faktor yang mempengaruhi mereka menjadi homoseksual adalah lingkungan sekitar, perlu lingkungan juga untuk membalikkan keadaan menjadi seperti semula, Justice.”
“Lu tau jelas kan etiologinya bukan cuma lingkungan? Emang orientasinya dari lahir seperti itu, Rein!”
“Banyak juga yang karena menular, sekalinya merasakan asyik dan enak lalu addict. Lu kayak engga pernah anamnese klien dengan gay aja sih, Tice,” Baron yang menjawab kali ini.
“Hasil akhir engga ada yang pernah tahu, Justice,” aku menguatkan. “Yang jelas, mereka punya niat untuk mengubah orientasi seksual mereka. Cara ini lebih aman, Justice, karena tidak membahayakan.”
“Betul juga,” Baron berkomentar. Pernyataan dia disusul dengan anggukkan beberapa anggota mereka yang lain.
“Kita rancang Plan of Actionnya malam ini.”
“Sementara itu, kita bisa lanjut untuk melakukan edukasi pada klien-klien beresiko, yang kita pantau berdasarkan latar belakangnya. Misalnya, latar belakang keluarga yang bercerai, keluarga dengan banyak konflik, hubungan yang tidak baik dengan orang tua, pemahaman tentang agama yang rendah, atau remaja dengan eksposur media pornografi yang tinggi,” Baron membaca catatannya di sela-sela rapat kami.
“Belum konkrit, sih Bar. Gimana caranya kita dapat komunitas dengan latar belakang seperti itu dalam satu waktu?”
“Survei aja,” Jawabku. “Seperti waktu mata kuliah keperawatan komunitas. Memang kita sudah lama berkerja di rumah sakit, tapi hanya ilmu keperawatan komunitas yang mungkin bisa dipakai untuk mengidentifikasi angka kejadian seperti yang Baron sebutkan tadi, di masyarakat. Kita kumpulkan datanya, tetapkan masalah yang paling prioritas, dan tentukan juga penyelesaian yang paling tepat. Saya bisa buat port folio untuk surveinya. Nanti pakai dua teknis aja, google form atau hard print.”
“Tentang agama? Tentang konflik didalam keluarganya? Lu yakin mau identifikasi hal-hal itu? Dengan orang-orang yang baru kita kenal?”, Justice menolak mentah-mentah usulku.
“Tice,” ujarku pelan. “Mungkin kamu hanya kenal sedikit orang-orang disini, tapi mereka adalah pasien kami. Pasien Baron, pasienku. Ada beberapa yang sudah sangat dekat. Kita bisa minta bantuan juga dari Bapak RT dan RW,” jelasku.
Justice lalu terdiam.
“Bro,” Baron meminta persetujuan Justice. “Lu tahu gue ga bisa samapi sini kalo lu ga ada,” Baron menepuk bahu Justice.
“Lantas jangan batu,” sanggah Justice. “Harga diri gue kalah sama cewek baru ini,” dia menunjukku kesal.
Baron merangkul bahu Justice. Justice tetap berwajah masam kepadaku, tetapi dari nahasa tubuhnya aku tahu kali ini dia mulai setuju.
¼
“Gue denger dari Echo lu sakit?”, suara Vita terdengar melas di seberang telepon. “Udah baikan, bu bos. Makasih udah nanyain kabarku. Aku kangen, lho, ini,” jawabku.
“Gue jugaaa!”, Vita berteriak. “Berapa bulan lagi, sih, Rein? Berasa seabad, tau, gak!”, Vita merengek. Aku setuju dengannya.
Seseorang mengetuk pintu kamar.
“Eh, udah dulu ya, Vit. Nyambung lagi tar malem, ya?”, usulku, dijawab “oke” oleh Vita. Telepon ditutup. Aku membuka pintu.
Ada Joy didepanku.
“Rein, boleh masuk?”
“Disini aja, ya,” kataku pelan. Joy menurut.
“Aku mau bilang terima kasih,” katanya. “Untuk kemarin.”
“Sama-sama, Joy. Makasih juga karena kamu udah mau berhenti.”
Hening.
“Joy, pasti ada cara yang lebih manusiawi yang bisa diusahakan,” lanjutku.
Joy menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti.
“Rein, sepertinya kamu sudah tahu banyak hal. Mungkin dari Baron. Mungkin dari Justice. Aku hanya minta, semoga kita masih bisa jadi teman.”
Kami saling menatap, kemudian dijawab anggukanku.
“We’re still friends, you know that,” aku tersenyum.
Tak ada perbincangan apapun lagi setelah malam itu.
Aku tak pernah menginap di kamarnya lagi, begitupun sebaliknya.
Perbincangan kami selanjutnya dan hari-hari berikutnya hanya seputar pekerjaan di refter saat makan siang, atau sekedar bertegur sapa di lorong klinik.
Kami sama-sama tahu, ini batas terbaik yang kami pilih.
¼
“Rein,” Ret mengetuk pintu kamarku. Aku, baru saja selesai melakukan skin care rutin, beranjak dan membuka pintu.
“Ada si cowok ganteng,” Ret mengedipkan mata. Sudah jelas yang dia maksud adalah Echo. Aku tersenyum dan mengangguk. “Thanks Ret, aku bentar lagi selesai.”
“Bobogohan nya?”, goda Ret.