1/4

Sancka Stella
Chapter #14

#AKTIVITAS BARU

Ini adalah slide kedua belas yang ditampilkan oleh Justice. Bulan depan akan ada rencana seminar terkait dengan manajemen stress yang dialami LGBT. Mereka sudah menetapkan waktu dan tempat, dan hari ini mereka sedang membahas materi apa saja yang akan disharingkan.

“Ada masukan, Rein?” Justice bertanya padaku.

Sudah beberapa hari ini, ia melibatkanku dalam untuk berbicara dalam tiap rapat.

“Mm, udah bagus. Bisa ditambah dengan dampak secara patofisiologi akibat stress itu sendiri. Dampak ke tubuh individu itu seperti apa. Supaya audiens tahu bahwa—oh penting banget untuk melakukan manajemen stress karena emang dampaknya nyata ke fisik seseorang,” jawabku.

“Dan sepertinya kita harus tambahkan etiologi yang menyebabkan kerentanan stress pada LGBT+.”

Justice tersenyum. “I think we have to re-arrange nara sumbernya.”

“Tugas pertama buat lu, ya, Rein. Jadi salah satu narasumber untuk seminar ini.”

Aku agak terhenyak karena cukup tiba-tiba, tapi sepertinya binar dimataku tidak bisa kututupi.

Seems that I don’t need any answer,” kerling Justice. “Kami butuh soft file materi fiksnya minggu depan, sekalian CV, ya,” tambahnya.

“Mohon bimbingannya,” aku mengangguk bersemangat. Membayangkan akan bertemu dengan sebuah komunitas LGBT saja rasanya akan sangat menyenangkan. Kuharap akan ada sesi mengobrol ringan dengan mereka, tentang alasan dan cerita mula-mula mereka menjadi seperti itu. Aku selalu menyukai bagian ini.

Justice menyenggol bahu Baron. “Kalo butuh bimbingan, abang satu ini ready 24 jam, kok.”

Baron mengerenyit. “You wish.”

Justice nyengir. Aku sudah tak heran. Malah aneh rasanya kalau Baron bersikap hangat padaku.

Seusai rapat, aku mampir ke pantry. Hari yang tidak begitu penat, namun membuat secangkir teh panas untuk cuaca yang agak mendung ini, rasanya keputusan bijak.

Ada yang mengikutiku, rupanya. Mr. ‘you wish’ tadi ikut mengambil cangkir dan mengambil bekas teh celup dari cangkirku, kemudian menaruh itu di cangkirnya.

“Belum juga pekat, ini,” kataku protes melihat warna teh dicangkirku yang pucat. Mata Baron memicingkan matanya tak bersahabat. Ya Tuhan. Tiap hari. Harus bersinergi dengan orang seperti ini.

Ngeteh, ngeteh, ngeteh. Pagi, sore, malam. Pulang ke Bandung ginjal kamu kena, Rein.”

Itu bahkan bukan urusannya.

“Duduk,” Baron menunjuk sebuah kursi dengan matanya. “Saya mau bicara.”

Aku duduk dan disaat yang sama aku berpikir kenapa aku harus menuruti perintahnya.

“Kamu tau enggak sih, sesibuk apa kamu nanti? Maksud saya, kamu enggak bisa juga langsung mau terima tawaran Justice, sementara kamu belum tahu gimana waktu kamu akan terbagi?”

Aku masih mencerna kata-katanya yang sangat tidak memotivasi. Dia yang melibatkan aku disana dan sekarang dia juga yang mematahkan tunas-tunas yang baru tumbuh, baru saja menjelma menjadi sekuntum semangat.

“Bar—”

“Paling enggak, kamu ikut dulu, lihat dulu, pertimbangkan dulu, pikir dulu apa kamu sanggup ngerjainnya. Jangan asal oke-oke, sementara di IGD juga kamu terhitung baru, kan. Lihat kemarin? Aku minta kamu benahin triase di IGD, malah keluyuran buang waktu.”

“Bar—”, kok jadi mengungkit yang itu, sih?

“Jadwal harian kita masih sama, ya. Beres kerja, kamu bantu saya monitoring kelengkapan dokumentasi, abis itu kita bikin web of caution penyakit teratas, dan—”

Aku memberanikan diri memegang punggung lengan Baron, akralnya dingin.

“Bar, bisa aku bicara sekarang?”

Baron diam, mungkin ini saatnya.

“Bar, enggak sedetik pun aku berpikir buat menomorduakan kerjaanku, oke? Seperti halnya langkahku yang pasti ketika kamu ajak aku ke sana kemarin, sepasti itu juga langkahku ketika aku setuju ditempatkan bekerja di sini."

“Jadi, aku—si anak baru ini—mau minta satu hal sama kamu.”

Baron masih diam.

“Karena kamu yang melibatkan aku disana, jadi tolong- dukung- aku.”

Baron melihatku sekilas, sebelum menyesap teh dari cangkirnya.

“Saya—”, Baron berdehem sekali.

“Saya belum ngerti sih Rein. Karena jarang ada orang kayak kamu. Maksud saya, apa yang bikin kamu sangat tertarik fenomena LGBT ini?”

Ini kali pertama Baron ingin mendengar alasanku.

Jika bisa, aku ingin mencubit lenganku sekilas dan memastikan ini bukan mimpi. Si kepala batu ini ingin aku bercerita? Yang benar saja.

“Aku lebih concern sama HIV AIDS, sebenarnya, Bar. Malah aku engga kepikiran ke LGBT, awalnya. Sampe aku pernah mikir gini, bisa engga sih, Bar, angka kejadian HIV AIDS di dunia ini engga betambah walaupun LGBT tetap atau bertambah?”

Baron tersenyum khas. Khas senyum dia. Senyum ingin menyetujui tapi tidak bisa.

“Sementara tahun 1981 HIV pertama kali ditemukan pada klien dengan orientasi homoseksual? Enggak bisa, Rein. Salah satu etiologinya kan itu. Aktifitas seksual mereka yang beresiko tinggi menyebabkan penularan HIV. Faktanya itu, Rein.”

Aku harus tes DNA Echo dan Baron, sepertinya mereka ada hubungan saudara jauh. Mirip sekali pandangannya kalau sedang membahas ini.

“Tapi, Bar. Bisa gak sih kita menempatkan diri jadi mereka? Gak ada hujan, gak ada angin, gak di jampi-jampi tahu-tahu mereka lahir dengan kesukaannya dengan sesama jenis. Sakit gak sih, Bar?”, aku mencoba mengujinya.

“Sakit.”

“Dan mereka nyaman dengan orientasi seksual yang seperti itu. Merasa lebih hidup, lebih bahagia, lebih bisa menjalani keseharian mereka dengan baik,” jelasku.

“Tapi, Rein. Kamu pernah kepikirian begini gak. Kan ada yang namanya adaptasi morfologi, ya.”

Aku lanjut mendengarkan.

“Kayak, misal. Jerapah dulunya punya leher yang pendek. Tapi karena daun-daun tumbuhan yang masih tersisa adalah yang letaknya agak tinggi, jadi leher mereka beradaptasi, biar bisa tetap bertahan di lingkungan tempat dia hidup dan tidak punah.”

“Saya sama sekali bukan menyamakan manusia dengan hewan. Tapi kita punya kesamaan, yaitu sama-sama bagian dari alam. Bukan buatan tangan manusia. Artinya kalau memang Sang Pencipta kita menyediakan lingkungan yang mengharuskan kita survive didalamnya, akan ada perubahan morfologi yang mengikutinya.”

“Misal Sang Pencipta kita mau menciptakan sebuah lingkungan dimana saat ini laki-laki dan laki-laki bisa hidup berdampingan, berketurunan, dan tidak mengalami kepunahan, maka logikanya akan ada adaptasi morfologi untuk mendukung itu semua. Misal, adanya uterus, muncul indung telur, atau perkembangan kelenjar mammae. Sama seperti leher jerapah yang dibuat lebih panjang agar tetap bisa hidup. Tidak mengalami kepunahan.”

“Tapi kenyataannya, begitu enggak?”

Giliran aku yang terdiam. Pertanyaan retoris yang Baron dan aku tahu jelas jawabannya.

“Jadi, kamu gak bisa serta merta peduli sama HIV AIDS dan mengabaikan LGBT nya. Karena tidak adanya adaptasi menguntungkan apapun. Dan perilaku mereka bisa merugikan diri mereka sendiri.”

“Saya tahu akan sakit kalo emang bener, mereka, tanpa faktor penyebab apa-apa tiba-tiba terlahir dengan LGBT+. Tapi kamu tau enggak, pasien dengan penyakit bawaan biasanya akan berusaha untuk melakukan sesuatu agar masih bisa bertahan hidup bersama dengan penyakitnya itu. Menjalani perawatan, pengobatan, dan lain-lain. Karena pada akhirnya, jika tidak diatasi, akan menyebabkan masalah lain yang semakin besar, semakin merugikan, semakin mengancam nyawa.”

“Jadi kamu secara enggak langsung bilang kalau LGBT+ ini adalah sebuah penyakit?”

Lihat selengkapnya