1/4

Sancka Stella
Chapter #15

# ¼

Pagi ini, aku praktik pagi. IGD ramai seperti biasanya.

Aku menghentikan langkahku. Jarak beberapa meter di depanku, berdiri seorang wanita. Masih muda, cantik, dengan perut membuncit kisaran usia kehamilan 28 minggu.

“Ners,” dia memanggil. “Sedang sibuk tidak?”

Aku menggeleng. “Ada yang bisa dibantu, ibu?”

“Saya bingung. Saya mau tanya ke siapa, bingung, karena keluarga saya belum ada yang tahu.”

“Terkait apa ya, ibu, kalau saya boleh tahu?”

“Em, begini Ners.”

“Ners, saya kemarin menyetujui untuk pemeriksaan HIV, ternyata saya positif.”

“Saya takut sekali, Ners, bagaimana ya. Karena pasti anak saya juga akan positif, kan? Saya.. saya enggak mau. Saya engga mau, suster,” nada suaranya bergetar.

Aku menggenggam tangannya, membimbingnya untuk duduk dulu.

“Ibu, begini. Ada kemungkinan resiko bayi ibu tidak tertular HIV, kok. Masih ada kemungkinan,” kataku berkata jujur. “Yang pertama, ibu teratur konsumsi ARV yang dianjurkan oleh dokter. Kemudian, ibu bisa memilih prosedur sectio caesaria, karena jika melahirkan lewat jalan lahir biasa, kemungkinan bayinya akan tertular. Sebab di jalan lahir akan ada penekanan terhadap bayi ibu. Dan yang ketiga, ketika masanya menyusui nanti, disarankan untuk tidak memberikan ASI dan susu formula secara bergantian. Salah satu saja. ASI saja atau susu formula saja. Kenapa begitu? Agar dinding pencernaan bayi ibu tidak mudah mengalami peradangan. Harapannya, virus HIV tidak bisa secara mudah masuk lewat ke saluran pencernaan bayi ibu.”

Aku lihat ia menangis.

“Takut saya, Ners.”

“Saya paham, ibu. Ibu tetap jaga makan, tetap istirahat cukup, dan minum obat teratur, ya?”

Ibu muda itu mengangguk. “Terima kasih Ners untuk penjelasannya.”


Setelah ibu itu pergi, aku baru merasakan tanganku gemetaran. Siap-siap lagi untuk memikirkan kasus ini sampai dengan waktu tidur, walaupun aku sedang tak ingin.

Aku memutuskan untuk pasrah saja.

Aku membersihkan rok bagian belakangku, bersiap untuk pulang. Kudapati Baron lewat didepanku.

Ngapain?”

Baron menoleh.

Ngapain gimana? Ini kan jalan umum.”

“Jalan umum yang enggak umum buat kamu. Biasanya kamu lewat jalan depan.”

“Komentar terus,” katanya kemudian kembali berjalan cepat.


¼


Aku menelepon Echo sesaat setelah aku sampai ke depan halaman mess milik dokter-dokter. Menyambung, tetapi tidak diangkat.

Aku mencobanya untuk kali kedua. Sama.

Tiba-tiba seseorang yang kukenal membuka pintu. Dokter Dave.

“Hei Rein! apa kabar?”

“Dokter, selamat siang. Baik, dok. Dokter Echo ada?”

“Tadi dia pulang duluan ke Bandung, Rein. Ada perlu, katanya. Cuman, dia titip sesuatu buat kamu,” dokter Dave menyerahkan sebuah amplop putih. Aku menerimanya dengan enggan.

Echo bilang katanya mau bertemu?


¼


Aku buru-buru masuk ke kamar. Melewati refter, aku sempat menanggapi ajakan Awina yang masih makan siang disana untuk bergabung dengan mereka. Tapi, aku harus segera tahu apa maksud Echo. Dia seharusnya bicara langsung saja jika ada yang ingin dibicarakan, seperti biasa. Atau mengirim pesan.

Kenapa kali ini lewat surat?


Hai, kecil.

Elu pantas dapet kata terimakasih dari gue.

Untuk, selama ini, mengijinkan gue masuk ke mimpi-mimpi lu.

It’s an honor for me—Rein.


It’s just about 15% tenaga kesehatan bisa beresiko rendah terkena HIV dari pasien.

Kebetulan, gue adalah satu dari lima belas persen itu.


Lepas dari itu, gue merasa tenang,

Tiap kali gue denger elu bersuara untuk pasien HIV+,

gue selalu merasa elu sedang bersuara untuk gue.


Reindita,

Jejak kaki kita mungkin enggak akan selalu berdampingan.

Dimanapun kita masing-masing berada,

Selalu ada elu, di dalam gue.


Sekarang, elu ada di dekat orang yang--gue rasa-- tepat.


Karena hati kita selalu dekat,

Kita enggak perlu lagi saling mencari.

I love you, bukan arti harafiah.

Tetapi arti sebenarnya.

Sekarang, selalu.


Echo.


Aku jelas ambruk. Tulangku meluruh entah kemana.

Baru saja aku ingin bahagia. Baru saja air segar itu mendekat lagi, belum sempat kumasukkan dalam-dalam ke saku kaus agar ia tidak kembali pergi.


“Rein?”, aku melihat sesorang. Ia memburam dimataku.

“Baron?”

“Ini saya,” Baron mengguncang bahuku. “Rein are you okay?”

“Bisa antar aku?”

“Ke klinik? Ayo, sekarang.”

Lihat selengkapnya