1 Jejak Rasa

Putri Rafi
Chapter #6

Tiga Putaran

Sepuluh menit yang lalu, Fira sudah tiba disekolah barunya. Suhu udara pagi yang berbeda dari kota asal, ia rasakan. “Dingin banget Pakde...” Ujar Fira yang sedari tadi sudah duduk, berdiri, duduk lagi dan berdiri lagi.

“Tadi kan sudah dikasih tahu pakai jaket, bukan sweater! Kamu pakai baju olah raga juga, jadi enggak terlalu dingin kan?” Pakde menyahuti Fira.

Dengan menggigil Fira menjawab. “Ya.. Fira enggak tahu kalau ternyata sedingin ini. Baju olah raga enggak mempan! Masih dingin Pakde...”

“Makanya kalau dikasih tahu, manut... ini di Malang bukan Samarinda.” Imbuh Pakde.

Ada rasa sesal dalam diri Fira karena tak menuruti Pakde. “Kita juga kepagian, ini masih sepi.”

“Mending kepagian, daripada kesiangan!”

Murid baru yang pertama kali tiba di sekolah adalah seorang laki-laki bertampang imut mengenakan jaket hoodie abu-abu tua. Kini, sedang duduk sambil melipat kedua tangan didada. Dia ditemani oleh ayahnya yang mengenakan seragam tentara, berkumis lebat, kurus dan tingginya sekitar 178 cm. Ayah? Iya, ayahnya. Karena mereka memiliki wajah yang mirip. Antara sangar dan kocak menjadi satu. Sedari tadi mereka memperhatikan Fira dan Pakde yang selalu bicara tanpa henti. Sedangkan ayah dan anak itu hanya duduk, berdiam diri.

Bukan Fira namanya jika suka berlama-lama di satu tempat. Apalagi udara dingin membuat dirinya serasa membeku. Fira meniup kedua telapak tangan dan jari-jarinya yang dingin dan ngilu. Tiupan-tiupan itu mengeluarkan udara yang membentuk asap.

Fira sudah tak tahan berlama-lama dan akhirnya berdiri, beranjak pergi menjauh dari Pakde yang masih duduk-duduk santai. Pakde melirik ke arah Fira yang semakin jauh darinya.

“Eh, Fir... mau ke mana?”

“Mau jalan-jalan, bosan di sini terus.” Jawab Fira.

“Tingkahmu Fir... Fir... persis kayak Peppi (Ibunya Fira).” Gumam Pakde dalam hati. Akhirnya, ia juga ikut menyusul Fira.

Sambil melihat-lihat keadaan sekitar, Fira asyik mengomentari tempat-tempat yang baru ia lihat. “Ini parkiran buat guru, di sana buat murid-muridnya. Oh, ada tempat taruh sepeda juga. Ada musala, hem... lumayan besar ya. Ada kantin tapi masih tutup, ada laboratorium, ruang praktikum, dan toilet.”

“Pakde.”

“Apa”?

“Sekolahnya kayak hutan ya, hihihi... pohonnya besar-besar, dikelilingi kebun juga.”

“Ini sekolah tua Fir, sudah lama berdirinya.”

“Iya Pakde, Fira tahu dari brosur. Didirikan pada 12 Januari 1968."

Setelah melewati pohon-pohon, Fira melihat ada sebuah bangunan tinggi berwarna putih kusam. Dan di seberang bangunan itu ada pintu berwarna biru tua yang sedikit terbuka. Fira lebih penasaran dengan bangunan tinggi bertembok kusam. Hm... Itu ruangan apa ya? besar sekali, seperti gedung.

Pakde mengangkat bahu sambil menggeleng. Karena penasaran, Fira berhenti dan mendekati bangunan tersebut. Ia menemukan sebuah pintu, lebih tepatnya itu adalah sebuah gerbang setinggi sepuluh meter.

“Fir, mau apa?” Tanya Pakde yang berada di sebelah Fira.

“Fira penasaran, di dalam situ ada apa?” Fira mencoba mendorong pintu dan tidak bisa karena terkunci.

Pakde jadi sedikit waspada, memastikan tidak ada orang yang melihat kelakuan ponakannya. Fira meraba-raba tembok dan pintu, mencari celah supaya bisa melihat sesuatu.

Fira berjalan ke samping, memastikan apakah masih ada pintu yang lain. Ternyata tidak ada, di sana hanya ada tiga ventilasi dengan posisi tiga kali lipat dari tinggi tubuhnya. Fira kembali lagi ke posisi awal dan akhirnya ia tersenyum lebar, karena menemukan kisi-kisi di antara pintu dan tembok.

Lihat selengkapnya