1 Jejak Rasa

Putri Rafi
Chapter #7

Kost

Fira kembali Fokus berlari. Ia mulai mempercepat laju dengan konstan. Suara Pak Muntiono yang berkoar-koar tidak Fira hiraukan. Ia tak peduli dengan orang-orang yang telah mendahului, yang terpenting bagi Fira bisa menyelesaikan tiga putaran.

“Yes! Akhirnya sudah lewat satu putaran.’ Fira berhenti sejenak, dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia melihat keberadaan Pakde Bas yang sedang berbicara di handphone. Lalu ia lari kembali dengan kecepatan yang lebih pelan dari sebelumnya.

Sudah setengah putaran, yang artinya sebentar lagi ia akan menyelesaikan putaran ke dua. Fira berhenti lagi, keringat membasahi dahi hingga punggungnya. Setelah itu lari lagi dengan kecepatan yang ditambah, sampai akhirnya selesai dua putaran. Fira kembali memelankan laju.

Dari arah belakang, tiba-tiba ujung baju di lengan Fira ditarik oleh seseorang dan ia menoleh ke belakang. Dengan nafas terengah-engah, dia memanggil Fira. “Mbak... mbak... tunggu mbak... kita sama-sama ya larinya.”

Fira pun berhenti. “Meli?” Ujar Fira sambil menyeka peluh di dahi.

“Iya, kita lari bareng. Jadi... aku... ada... temannya...” Ucap Meli yang masih dengan nafas terengah.

“Kamu sudah berapa putaran?” Tanya Fira

“Dua.” Jawab Meli.

“Ya sudah, yuk!” Ajak Fira.

Mereka pun lari beriringan dengan pelan. Tampak banyak sekali orang-orang yang sudah duduk selonjoran sambil minum sesuatu atau memakan jajanan. Sambil berlari, Fira dan Meli saling bertukar cerita. Sebentar-sebentar lari, sebentar-sebentar berhenti, sebentar-sebentar jalan, sebentar-sebentar lari lagi.

Sudah tidak ada lagi yang lari di lapangan, kecuali mereka berdua. Seluruh peserta berteriak menyoraki Meli dan Fira untuk segera sampai ke garis finish. Suara Pak Muntiono juga tidak kalah membahana.

Dan peserta terakhir yang menyelesaikan lari adalah Fira dan Meli.

**

Pagi itu, sebelum kedua orang tua Fira berangkat kerja mereka menghubungi Bude Anik. Mereka kira, Fira belum berangkat sekolah.

“Satu jam yang lalu, Fira sudah berangkat diantar Mas Bas. Dia pakai baju olah raga, mau tes lari katanya.” Ucap Bude Anik.

“Owalah Mbak, berarti aku yang telat teleponnya. Iya, hari ini Fira tes lari.”Peppi menekan tombol ‘loudspeaker’ hingga suaminya juga bisa ikut dengar dan bicara.

“Mereka berangkatnya pagi sekali mbak...”komentar Guntur, Ayah Fira.”

“Kalau enggak pagi-pagi khawatir telat sampai sekolah, macet Tur... apalagi kalau sudah dekat Terminal Arjosari. Itu kalau pagi, macetnya bisa sampai dua jam.” Terang Bude Anik.

“Oh... begitu. Mbak, Fira bawa handphone kan ke sekolah?” Tanya Peppi.

“Bawa kok, tadi sempat bilang ke Mas Bas. ‘Kalau disekolah, Fira titip handphone ke Pakde’ terus Pakdenya jawab ‘iya’ hehehe.

“Oke mbak, nanti aku hubungi Fira ke handphonenya saja. Matur suwun sanget (terimakasih banyak) Mbakyu, Assalamualaikum.” Peppi mengakhiri panggilan pagi itu.

“Wa’alaikum salam.” Jawab Bude Anik, lalu meletakkan gagang telepon ke tempatnya.

Lihat selengkapnya