1 Rumah 2 Cinta

Herman Siem
Chapter #3

Dua Belas Tahun Lalu

"Aku ngak mau teringat malam itu lagi," guman dalam hati Anisa sedih.

Setelah malam itu tepatnya dua belas tahun telah berlalu, membuat waktu begitu cepat berlalu tanpa mengenal lelah, terlebih kesedihan selalu terasa dalam relungnya.

Waktu dua belas tahun terasa cepat sekali berlalu, pasti kejadian malam itu tidak akan pernah beranjak pergi meninggalkan hati, kejadian malam itu akan selalu terkenang dan membekas dalam relung hati Anisa yang selalu bertumpuh dalam kesedihan dan kesetiaan cinta.

Wajahnya kini sudah berbalut dengan aneka warna hijab selalu menyelimutinya, semata-mata ia hanya ingin menjadi istri soleha. Karena setiap untaian lantuan doa istri soleha pasti akan didengar Allah, karena doanya selalu mustajab.

Tidak lagi ia mengenakan dress pendek ketika masa dua belas tahun lalu, kini sekujur tubuhnya sangat rapat sekali dan setiap hari selalu berselimut dress panjang menutupi sekujur tubuhnya.

Semua itu datang dari dalam hatinya, bukan karena semata-mata ia terpaksa harus menerima cinta dan bujukan atas kecemasan dan kegelisahan ayahnya.

Semua itu ia lakukan sungguh tulus datangnya dari hati dan panggilan dari Allah, tapi kenapa setelah semua ini menjadikan perubahan besar pada Anisa, yang dulunya ia hanya gadis malam sudah terjerembab dosa.

Kini malahan menjadikan semua kesedihan yang selalu bertumpuh tidak beraga, selalu menjadikan ia bersedih sungguh berbeda dengan keadaan masa dua belas tahun lalu.

Sejak tadi Raharja hanya berdiri depan pintu kamar anaknya, sungguh kali ini hatinya selalu terbentur dengan segudang dosa yang makin membuatnya yakin, bila ia nanti mati akan masuk neraka. Sebabnya hanya karena gegara kecemasan dan kegelisahannya, sampai memaksa kehendaknya agar anak semata wayangnya lekas menikah.

Semua impian Raharja kian terhempas angin besar menggoda lautan samudra tenang terjaga bangun segera terjadi hentakan gelombang besar.

Ia makin merasa berdosa, mungkin pikiran dua belas tahun lalu tersuguhi dengan keyakinan akan pilihannya. Tapi kali ini sesungguhnya hatinya selalu dipaksa untuk menitikan derasnya air mata, dengan melihat jelas siapa sebenarnya lelaki yang segitu dipaksanya untuk menjadi istri anak semata wayangnya itu.

"Ayah?!" sepintas Anisa menoleh kearah pintu.

Raharja cepat menutup pintu, Anisa baru sadar sejak tadi ayahnya menguping kesedihan dan kepiluannya.

Taplak meja warna putih cepat dimasukan kedalam lemari lagi, mungkin hanya taplak meja warna putih itu akan selalu jadi kenangan manis seorang Rifan dengan ketulusannya sudah melamarnya pada masa dua belas tahun lalu.

Cepat dua kakinya mengajak melangkah keluar dari dalam kamar, pasti ayahnya akan sangat terpukul dengan melihat dan mendengar kejadian nyata.

***

"Ibu ... Aku lapar ... Aku mau makan ..." teriak lapar Carlos.

Lihat selengkapnya