1 Rumah 2 Cinta

Herman Siem
Chapter #4

Rasa Lapar & Kesedihan Dalam kelas

Perutnya saja tambun buncit seperti wanita yang sedang hamil sembilan bulan, menunggu kapan jabang bayi siap terlahir menghirup udara sesak dunia fana ini.

Tapi perut tambun buncit itu kepunyaan Kepala Sekolah SDN Nusa Bangsa, ia adalah Satria. Sampai salah satu kancing tidak tahan, benangnya perlahan terlepas tidak kuat menahan buncitnya perut Satria. Sontak saja setelan jas pendek warna coklat muda, kehilangan salah satu kancing terpental.

Untung saja kancing itu tidak mengenai wajah Wiwin, guru cantik baik hati berhijab putih. Perut tambun buncit Satria makin kelihatan tapi terhalang kaos oblong dalam berwarna putih.

Serasa pendapat Kepala SDN Nusa Bangsa selalu benar, ingin rasanya Wiwin memohon pada Sartia tapi percuma saja.

Kadang Wiwin ingin marah, tapi selalu menahan rasa gelak tawa. Mesem-mesem menertawakan model gaya potongan rambut Kepala Sekolah itu seperti cetakan mangkuk bulat. Kumis hitam melintang memayungi bibir tebalnya, jemarinya hampir diselubungi ikatan cincin aneka batu alam.

"Pak Sartia, tidak begitu saja Bapak ingin memutuskan sepihak memberhentikan Carlos dan Niar," kilah Wiwin lagi-lagi menahan gelak tawanya.

Sepasang sepatu hitam bolong kelihatan jempol kanan berselimut kaos kaki putih, itu juga ada tambalannya. Wiwin hanya terduduk, kadang makin tidak tahan ia menahan gelak tawa, walau hatinya makin tidak sependapat dengan Kepala Sekolah keras kepala dan kikir itu.

"Kenapa kamu cengar-cengir begitu?!" __ "Tidak apa-apa Pak,"

Sambil menahan guratan pada wajahnya, Wiwin makin tidak tahan tawa lagi-lagi ada yang membuat aneh saja melihat tingkah Kepala Sekolah itu yang pelit dan kikir. Lihat saja, belakang celananya bolong sampai terlihat celana kolor dalamnya warna merah tua.

"Pokoknya, saya tidak mau lagi mendengar dua anak itu masih sekolah disini! Banyak keluhan orang tua sampai pada telinga saya!" tandas Satria.

"Sudah sono, ngapain kamu masih duduk disitu saja!" usir Satria.

"Tapi Pak?" __ "Tidak ada tapi-tapi!"

Akhirnya Wiwin pasrah dengan keputusan Satria yang kekeh ingin mengeluarkan Carlos dan Niar, agar tidak lagi bersekolah di sekolah SDN Nusa Bangsa.

Pasti relung hatinya kian berselimut kesedihan, tidak inginnya ia berpisah dari dua murid yang sangat disayanginya itu. Semua keputusan penanganggung jawab sekaloh sudah tidak bisa diganggu gugat dan Wiwin tidak bisa berbuat banyak.

Tergurat sedih wajah berbalut hijab putih dengan setelan tunik warna salem panjang, kedua kaki bersepatu teplek hitam terasa berat meninggalkan ruangan Kepala Sekolah Nusa Bangsa.

Sekali Wiwin berbalik hatinya masih berharap, tapi usiran tangan kiri Satria membuat semakin pasrah guru mapel Agama Islam itu. Ia terpaksa kini mengikuti langkah kedua kakinya keluar.

***

"Sini berikan bekal makan siang itu buat saya!" pinta paksa Carlos sambil merampas.

"Uuuuhh ... Huhuhhh ... Jangan, jangan diambil. Itukan bekal makan siang," kilah murid gadis merengek sedih.

Lihat selengkapnya