Selesai sarapan pagi sudah, terlihat bersih dataran piring kecil hanya tersisa bekas serpihan sedikit minyak mentega roti.
Perasan air jeruk sungguh nikmat terteguk dipagi hari, sontak cairan kuning terasa asam bercampur sedikit manis akan melarutkan serat-serat roti, agar segera lunak melaut dalam lambung tidakkan lagi merasa lapar sampai menjelang siang.
Tersisa bulir-bulir perasaan air jeruk dalam dasar gelas putih sudah digeletakan bersebelahan dengan piring kecil datar.
Wajahnya sungguh terlihat tampan masih sama dengan malam dua belas tahun lalu, dimana ia melancarkan serangan menaklukan keras hatinya seorang gadis yang selalu bercokol dalam dunia malam.
Setelan jas krem berdasi biru lengkap dengan dalamannya kemeja biru dongker, siap akan mengantarkan Rifan berangkat menjerat semua impian masa depannya.
Kumis tipis memayungi bibir berapa kali terseka tissue menyapu basah bibirnya dari sisa-sisa sarapan pagi.
Jemari kanannya mulai terkulik rasa rindu, dimana setiap hari dua tatapan matanya selalu termanjakan dengan meluapkan kerinduaan pada istri dan anaknya. Kini sudah jemari kanan merogoh ponsel pintar dari saku celana bagian kanan.
Wallpaper tercubit sekali sentuhan halus jempol dan telunjuk jari, tersenyum wajah tapi terendung sedih hatinya seraya ingin memeluk tapi terhalang jembatan putus panjang terbentang.
Ritme jantungnya seraya ikut sedih tidak ingin menyuarakan getaran deguban suara jantung. Hatinya seraya ikut berpacu cepat dalam suasana bersedih, untuk segera memompa napas.
Tersenyum sumringah Anisa merangkul Carlos dan Niar menebar senyuman, dalam layar ponsel. Tidak bisa dihindari tatapan dua mata kian mengundang kerinduan, yang tidak akan pernah menemukan tepian.
"Sudah sering Ibu nasehati kamu sebelum menikah dengan Anisa, tapi kamu malahan selalu keras kepala Rifan. Nah, sekarang kamu baru menyesali pernikahan kamu dengan Anisa,"
Ponsel pintar cepatkembali menyarang masuk kedalam saku celana kanan. Sudah berdiri Tatu, sosok ibu yang sejak dulu memang tidak pernah ada kata memberikan restu dengan keinginan anaknya untuk menikahi gadis pilihannya itu.
Nyata sampai saat ini kata restu itu tidak pernah terucap, apalagi terumbar karena niat hatinya untuk memberikan restu pernikahan pada anak dan menantunya.
Sudah mengerut tua wajahnya, lihat saja tulang pipinya sudah celong berbalut keriput. Dress panjang motif batik serta terbalut hijab putih membalut melingkari wajahnya, terduduk berhadapan dengan anaknya terasa malas setiap pagi akan ada nasehat yang membuat perasaannya bertambah sedih.
"Sejak lama Ibu nasehati kamu untuk berpikir panjang, Rifan. Tapi apa? Kamu selalu membantah nasehat Ibu, dengan kamu selalu menyangkalnya bila nasehat Ibu adalah tekanan untukmu agar tidak menikahi Anisa. Jadi beginikan sekarang,"