"Juki, kamu tahu ada masalah apa dengan Carlos dan Niar di sekolah?" tanya cemas Anisa.
"Waktu kemarin saya ngejemput Carlos dan Niar, ngak ada yang aneh. Cuman ya itu doang, seragam Niar pada belepotan bekas pencil warna aja," jawab Juki sambil kemudikan setir mobil.
Sepanjang jalan Anisa raut wajahnya kian terpapar cemas dan gelisah, ia duduk dibelakang sendiri sekali melempar melihat keluar sisi tepian kanan jalan.
Mobil minibus warna grey magma meluncur susuri jalan beraspal hitam. Sepanjang jalan mengajak keempat rodanya mengelinding cepat, agar perasaan yang kian cemas gelisah segera terjawab.
Pantulan cahaya sinar matahari terasa menyilaukan setiap pandangan ketika melihat jejeran gedung-gedung bertingkat berselimut potongan kaca gelap. Ingin segera rasa cemas dan gelisah yang sejak tadi menyelimuti relung hatinya mendapatkan kabar dari sekolah, bila segera datang Anisa kesekolah.
Trafic light berdiri tegak tiangnya disisi bahu kanan jalan, tentu semua kendaraan berhenti beraturan tidak melewati garis marka putih. Lampu merah masih menandakan perintahkan semua pengemudi agar hentikan kendaraannya, persis dibelakang garis marka putih berbatasan dengan garis-garis penyebrangan orang.
Wajahnya kian terlihat cemas gelisah, ia hanya terduduk dibelakang sendirian menatap keluar jendela kanan. Berkaca-kaca sendu dua mata tidak tahan menintikan air mata sontak terseka hasupan jemari kiri.
Melihat seorang ibu ditepian bahu kana jalan. Ibu itu menggendong anak kecil dengan kain melilit pada bahu lehernya. Anak kecil itu terlelap dalam tidur, tidak merasa terganggu dengan suara tidak merdu sang ibu mengundang haru pada setiap pengemudi.
Juki menoleh kanan, sungguh tega tidak tega seorang ibu begitu seenak jidatnya mengajak anaknya yang masih kecil berselimut lelap dalam gendongan. Alasan saja jadikan anak kecil itu sebagai pengundang haru kasihan pada setiap pengemudi, agar memberikan sedikit rejeki membayar suara tidak merdu.
Kaca otomatis turun, baru saja lembaran rupiah warna biru akan diberikan untuk ibu itu. Tapi tarfic light sudah menunjukan warna hijau, kendaraan yang tadi berhenti kini dipersilahkan jalan.
Hanya menatap sedih seraya jemarinya ingin sekali melemparkan uang lembaran warna biru pada ibu yang hanya berdiri ditepian kanan jalan masih menggendong anaknya.
***
"Ibu-ibu tenang dulu," seraya menenangkan.
Wiwin tahu maksud kedatangan ibu-ibu yang sejak tadi ingin meminta kepastian dari Kepala Sekolah SDN Nusa Bangsa. Sejak tadi menunggu diluar, tapi dimana Kepala Sekolah itu, apa ia masih berada didalam ruangannya.
"Tapi tidak bisa dibiarkan saja anak itu masih bersekolah disini!" __ "Benar Bu! Anak saya saja! Sekujur badannya banyak, luka bekas tusukan pencil!"
Dua ibu-ibu makin tidak sabaran ingin meringsek masuk kedalam ruangan Kepala Sekolah, tapi sejak tadi masih tertutup pintunya.
"Iya, saya mengerti perasaan Ibu. Tapi alangkah baiknya kita tunggu Pak Sartia keluar dan saya juga sudah mengundang orang tuanya Carlos dan Niar," sahut Wiwin wajahnya kian cemas juga.
"Tapi saya tetap mau anak itu segera dikeluarkan dari sekolah ini!" tandas dari salah satu ibu sudah tidak sabaran ingin masuk kedalam ruangan Kepala Sekolah. Baru saja akan mendorong pintu, pintu sudah terbuka.