"Mungkin tidak lama lagi umur ini masih menyatu dengan raga yang tengah rapuh. Tapi apa salahnya selagi raga yang rapuh ini masih di kasihani dengan umur, kita berdua ingin sekali melihat anak-anak kita hidup berbahagia," tutur Raharja berdiri sesaat menatap wajah wanita tua terduduk diatas undakan anak tangga.
Wanita tua itu tidak serius menanggapi keinginan lelaki tua yang jalannya selalu dibantu sebatang tongkat. Mungkin kaki kanannya terasa berat melangkah atau sulit berpijak.
Siang terlihat indah disambut bahagia dengan lebatnya dedaunan menari-nari sungguh bahagianya terhempas semilir angin terasa kering.
Tidak jauh dari Istana Negara, berdiri megah dan kokoh Masjid Istiqlal begitu indah nan agung. Tamannya sangat luas sekali ditanami banyak pepohonan hijau seraya lebat meneduhkan sepasang mata melihatnya, tentu bagai hutan kota lengkap dengan kolam air mancur terhampar luas.
Dari teras beranda depan Masjid, terhampar megah luas bangunan utama Masjid dengan kubah besar dan menaranya menjulang tinggi, seraya ingin menggapai langit.
Pasti ketika malam datang, tentu tersajikan pemandangan indah Masjid bermandikan cahaya lampu yang memberikan suasana damai dan teduh.
Didalam Masjid terhampar luas karpet merah marun menutupi seluruh lantai, seraya memberikan suasana teduh kian mendekatkan umat pada Sang Pemilik Jagat. Tiang-tiang besar menopang kubah diatasnya, dengan aneka ragam hiasan ornamen Masjid begitu sangat meninggalkan kesan elegan. Sama halnya seperti sisi luar bagian interior juga memiliki pencahayaan sungguh sangat mempesona.
"Dua belas tahun lalu, pikiranku mulai terhantui rasa khawatir. Tapi goncangan paksaan itu selalu menerpa kekuatan hati ini untuk tidak merestui pernikahan yang sudah terjadi Raharja,"
Beranjak bangun Tatu dari duduk, ia berbalik perhatikan megahnya tampak depan Masjid. Lalu ia berbalik, kedua kakinya pelan sekali menuruni undakan anak tangga. Sedikitpun wajahnya tidak melempas senyuman pada lelaki masih berdiri tidak jauh darinya.
"Tapi itukan jadi komitmen kita berdua, untuk menikahi Anisa dan Rifan waktu dua belas tahun itu. Tapi kenapa seakan-akan sekarang hatimu tercengkram rasa egois untuk menghambat kasih sayang Rifan pada dua anaknya dan Anisa," kilah Raharja.
Senja mulai beranjak pergi seraya ketakutan dengan cakar-cakar malam, cahaya mulai menyelimuti setiap bangunan dan sudut Masjid terlihat indah dan agung sekali beratap langit mulai datang gelap.