Mobil suv terasa terlihat gagah melekat pada sekujur body melekat warna hitam. Keempat bannya sangat besar menggelesar berjalan menyusuri jalan beraspal hitam, siang itu terlihat sepi sekali.
Kaca mata hitam menyelimuti mata berlatarbelakang wajah tampan. Terduduk dibelakang setir, wajahnya seraya tergurat penuh harapan namun berkecamuk sesal yang mendalam.
Dari penampilannya lelaki itu sungguh pasti akan menawan hati bagi pemujanya, mana mungkin gadis-gadis tidak ingin menjadi pacarnya. Setelan outfitnya saja tidak murahan semua itu pasti bermerk mahal. Dua tangannya masih pegang kemudi setir, sekali jemari kirinya melepaskan gagang kaca mata kiri. Sungguh terlihat tampan wajah lelaki itu, bibir tipisnya sungguh menggoda beratap kumis tidak terlalu lebat.
"Gua harap, gua dapat nemuin dia dimana?" guman lelaki tampan itu.
Kaca mata hitam kembali melekat menyamari pandangan teduh dua matanya melihat keluar jalan, walau tersekat dengan kaca mobil tebal. Mobil suv hitam terus menggeleser berjalan susuri jalan beraspal hitam, tidak tahu kemana keempat rodanya mengajak lelaki tampan itu.
***
Pintu pagar warna hitam terasa tinggi menghalangi pandangan rumah tidak tampak terlihat dari luar, terlihat sepi seraya tidak berpenghuni. Setengah bangunan rumah terlihat dari luar, bergaya bangunan rumah lama namun terkesan masih terawat.
Kiri-kanan pintu gerbang saja sudah banyak ditumbuhi aneka macam pohonan berdaun lebat hijau, pasti sang pemilik rumah sangat terkesan menyukai tanaman.
Mobil suv hitam berhenti, kacanya turun otomatis. Ingin rasanya ia turun dari mobil, tapi terasa ragu kedua kakinya tidak ada kata perintah dari hati kecilnya.
Wajahnya saja sudah pesimis makin mengular dalam benaknya, apa niat lelaki itu untuk menemui seseorang akan kandas. Sekali menarik napas seraya ada tarikan mengajak keyakinan dalam hatinya, disertai kaki kanannya sudah menapaki pelataran rumah masih terhalangi pintu gerbang.
Sekali lagi napasnya menarik pelan, kini ia sudah berdiri belakangi mobil suv hitam miliknya. Tersenyum kecil kedua mata kakinya berselimut sepatu kets putih mengajak melangkah berjalan.
Tapi kenapa kembali ragu lagi, ia sudah berhenti depan pintu kecil masih menyatu dengan pintu gerbang. Telunjuk kanannya ingin menekan bel rumah tapi tidak jadi.
"Klik,"
Sekali telunjuk kanan lelaki itu menekan bel rumah yang ada disisi kiri pintu gerbang.
Kini hanya menunggu kebaikan sang pemilik rumah setelah lelaki tampan itu menekan bel, apakah diperbolehkan masuk atau tidak.
Wajahnya kini makin berharap cemas sesaat hanya menatap pintu gerbang. Deguban jantung terasa mulai menebar rasa kecemasan, akankah segera dibukakan pintu dipersilahkan masuk oleh sang pemilik rumah atau terusir dengan nada ketus.
"Klotek, klotek!"