"Allah akan selalu senantiasa mengabulkan dari doa-doa istri yang selalu terjerat dalam kesabarannya. Karena setiap lantunan doa dari istri penyabar akan selalu terucap mustajab, ketika doa-doanya selalu mendoakan suaminya untuk kebaikan dalam setiap apapun yang terucap dari mulut istrinya. Maka dari itu, Allah pasti akan menjanjikan dan mengabulkan doa-doa istri-istri penyabar,"
Masih kenakan baju koko dan kain sarung bersalur kotak-kotak hitam putih, Raharja menahan sedih seraya menabur benih kesabaran serta keyakinan pada anaknya.
"Tapi Ayah? Asa itu seakan hilang sudah? Seakan doa-doa selama ini yang selalu aku panjatkan pada Allah, seakan memudarnya keyakinan itu tidaklah menjadikan mustajab lagi setiap doaku,"
Bertutur sedih masih berselimut mukenah putih, terduduk diatas sazadah lebar seraya hatinya kini makin tidak lagi berselimut keyakinan. Bila setiap doa-doanya pada Allah akan jadi jawaban doa mustajab dari doa istri penyabar, guratan wajahnya makin yakin bila harapan itu telah hilang selamanya.
"Bu?" sepintas terdengar panggilan Niar dari belakang.
Tatapan kesedihan makin mengulik makin meyakinan Anisa, sesungguhnya harapan setiap doa-doanya yang selalu dilantunkan untuk suami tercinta seakan tengah terhempas badai ditengah gurun sahara yang luas.
Seakan Allah saat ini tengah menutup kedua telinga dan dua matanya tidak lagi melihat pada ratapan kesedihannya. Padahal ia merasa yakin bila kesabaran doa dari istri yang sabar akan menjadikan doa yang mustajab.
Niar juga masih kenakan mukenah warna merah muda, wajahnya hanya menatap sedih pada kakek dan ibunya. Sedangkan dari tadi Carlos sudah tidak sabaran ingin segera menyudahi sholat magrib, mungkin saja perutnya sejak tadi kian menabuh genderang kelaparan.
"Bu, aku lapar!" kata Carlos tidak sabaran.
"Iya, iya Carlos. Ibu juga sudah lapar. Ayah jugakan sudah lapar? Ayo kita makan malam,"
Anisa beranjak bangun, relungnya masih tidak terpisahkan dengan kesedihan. Sesaat ia menoleh pada ayahnya masih terduduk saja.
"Ayah?" __ "Kalian saja makan malam sana,"
Guratan kegelisahan makin kentara jelas diwajah Raharja, malam itu perutnya masih belum memanggil rasa lapar. Padahal anaknya sungguh perhatian sekali padanya.
"Kek," ajak Niar.
"Kakek masih belum lapar," sahut menolak halus Raharja.
Carlos sudah tidak tahan lapar, ia berlari cepat sekali. Tidak peduli, walau kepalanya masih berselimut peci kecil warna putih.
Seringkali lelaki tua itu banyak mendengar tentang ungkapan. Bahwa dibalik laki-laki yang sukses, maka selalu ada wanita hebat dibelakangnya.