"Bu, aku lapar lagi," merengek masih minta makan lagi.
Carlos menguring kesal, perutnya masih menagih lapar padahal hari kian sudah mengajak malam.
"Astaghfirullahaladzim! Ini sudah malam Carlos. Tadi, bukannya kamu sudah makan banyak? Nanti perut kamu jadi sakit,"
Benar saja jarum panjang dan pendek jam dinding sudah bercokol diangka jam sembilan, tandanya makan jam segitu sudah tidak baik untuk pencernaan dalam perut.
Sungguh sabar walau terkadang emosinya tidak terkontrol, namun tetap saja sebagai ibu dari dua anak yang prilakunya berbeda membuat Anisa harus dituntut extra bersabar.
Menahan sedih berkecamuk kecewa dalam hatinya, tapi husapan dua telapak tangan mengelus pipi temben Carlos. Kaosnya saja sampai melar karena tidak sanggup dengan lengkungan perutnya yang makin gendut membuncit, celananya saja harus pakai ukuran yang besar.
"Sudah malam, besok saja kamu makan lagi. Ibu takut, perut kamu malahan jadi sakit, kalau kamu makan banyak lagi," tersenyum seraya menahan sedih Anisa perhatikan wajah Carlos.
Sekali wajah Anisa menoleh pada undakan anak tangga tidak jauh dari ruangan tengah, tapi anak tangga itu sudah terhalangi papan. Anak tangga itu pasti akan menuju lantai rooftop, mungkin sengaja ditutup hanya untuk menghalau kenangan masa dua belas tahun akan tidak teringat lagi.
Terenyuh juga Carlos dengan kesabaran ibunya, mungkin saja husapan hangat setiap telapak-telapak tangan surga ibunya membuat perutnya mengetuk hatinya jadi luruh mengurungkan rasa laparnya.
"Niar, kamu juga sana lekas tidur," kata Anisa.
Anisa menoleh kesamping kanan, Niar masih terduduk dilantai. Tidak boleh dibiarkan kosong lembaran kertas putih selalu tertumpahkan reruntuhan hati kerinduan dan kesedihan.
"Bu!" panggil Niar.
Baru saja Anisa akan mengambil selembar kertas sudah tertuang gambar, tapi tiba-tiba dan tidak biasanya pelukan hangat Carlos mendarat seraya tidak ingin terlepas.
Sontak saja, yang tadinya kedua matanya tidak ingin menintikan air mata kini jatuh sudah menetes basahi pipinya.
Pelukan hangat Carlos baru terjadi malam itu, sungguh dibuatnya sedih relung hati Anisa terdongkrak paksa dengan pelukan hangat anaknya itu.
"Sana kamu tidur. Sudah malam," membungkuk Anisa sekali mengusap pipi kanan Carlos.
"Bu, kapan aku boleh main keatas rooftop itu?" tanya Carlos menoleh pada anak tangga.
"Nanti kalau perut kamu sudah kurusan. Ibu takut kalau kamu sampai naik keatas rooftop, bisa-bisa lantai rooftop bergetar dan runtuh karena kamu masih gendut," sahut Anisa sambil cubit perut Carlos tersenyum.