Pandangan matanya seraya tidak ingin bergeming sedikitpun menatap pintu kamar sudah tertutup rapat. Samar cahaya penerangan menapaki wajah cantik berbalut hijab putih dalam kesedihan. Serasa berat sekali wajahnya sudah terimbas tetesan deraian air mata makin mengetuk relung hatinya agar bersedih tumpul tidak yakin lagi.
"Siapa dia?" guman hatinya bertanya sedih.
Relung hatinya bertanya siapa wanita berpakaian seksi bersama suaminya, kini keduanya hanya terhalang pintu kamar dan dinding tembok.
Siapa, sedang apa, apa yang mereka lakukan berdua didalam kamar, tidak semestinya seorang suami mengajak dan masukan wanita lain kedalam kamar tanpa sepengetahuan dan seizin istrinya.
Tidak bersimbah darah, tapi wajahnya kian bersimbah basah dengan deraian air mata kian basah. Hatinya berguncang sedih seakan ingin meluapkan kemarahan, tapi rasanya itu tidak mungkin.
Ia hanya berdiri depan pintu kamar, kian banyak pertanyaan dalam hatinya tentang siapa wanita itu, kenapa sampai suaminya mengajak masuk kedalam kamar begitu saja.
"Kenapa Rifan mengajak masuk wanita itu kedalam kamar? Siapa sebenarnya wanita itu?" guman Anisa.
Padahal ujung telunjuk kanan akan mengetuk daun pintu tapi tidak jadi, karena sejak tadi hatinya kian banyak pertanyaan.
Sentuhan angin dingin malam seraya kian menyatu dalam kesedihan, kian mengulik banyak keraguan dan pertanyaan dalam hatinya.
"Anisa?"
Tidak jadi lagi ujung telunjuk kanan menyentuh daun pintu.
Hanya tatapan sedih tergurat rasa marah dan cemburu terpapar pada wajah Anisa menoleh pada ayahnya sudah berdiri disamping kanannya. Wajah tua kian berkerut pasrah menatap penuh keharuan wajah anaknya kian teramuk rasa marah dan cemburu yang tertahan.
Seebenarnya Raharja tahu apa yang akan terjadi pada anaknya, komitmen antara ia dengan besannya sudah dinyatakan gugur hanya gegara Tatu curiga dengan cucunya, yang tidaklah mengalir darah keturunannya. Sehinggah Tatu memperbolehkan pulangan anaknya, dengan syarat keegoisan hatinya akan selalu mengiringi langkah anaknya dengan membiarkan seorang wanita ikut bersamanya.
"Sabarlah Anisa. Tidaklah selama Allah akan membiarkan kesedihan yang kamu rasakan selalu. Allah Maha Tahu dan Dia Maha Segalanya. Tetapkan jadikan kesebaranmu sebagai obat dari segala doa untuk menjadikan setiap doamu mustajab," tutur sedih Raharja.
Sekali mengangguk ayahnya tidak mau ikut larut dalam kesedihan, langkah tongkatnya sudah mengajak berjalan meninggalkan anaknya semakin menahan derasnya air mata kesedihan. Wajahnya kembali ditegarkan dan menghilangkan kesedihan, ia yakin bila Allah tidak akan selamanya selalu membiarkan kesedihannya.
Sekali lagi mengangguk sebelum Raharja masuk kedalam kamar terbalas dengan senyuman Anisa kian tergurat keyakinan pada wajahnya. Raharja kemudian masuk kedalam yang berjarak tidaklah terlalu jauh dimana Anisa berdiri, kini kepalan kanannya sudah menempel pada daun pintu.
"Tokk!" sekali terdengar ketukan pintu.