Sungguh lelap ia tertidur dilantai depan pintu kamar, tidak beralas tentu sehelai kainpun. Sekujur tubuhnya kedinginan sulit menolak terpaan angin malam terasa basah.
Wajahnya masih tersisa sembab, kesedihan masih membekas pada wajah cantik berbalut hijab putih. Hanya bantal kepala kepala saja yang menjadi alas kepalanya, tapi tidurnya terlihat lelap dan pulas sekali.
Sunyi sepi terlihat sekitar dalam rumah, hanya terdiam setiap perabot dan furniture seraya tidak berani bangunkan wanita terlelap tidur dilantai. Andai saja dua anaknya tahu, walau keadaan dua anaknya berbeda dengan anak-anak lain. Pastinya keduanya akan sangat terluka dan bersedih sekali melihat kamar ibunya sudah diakui wanita yang bukan siapa-siapa baginya.
"Astagfirullahaladzim,"
Terjaga bangun Anisa, mungkin saking lelapnya ia tertidur sampai lupa, bila suara kumandang adzan subuh memanggil dari toa masjid terdengar mengusik relung hatinya.
Sesaat wajahnya tersenyum seraya dua lobang kecil hidungnya menghirup udara pagi. Terpejam dua matanya terbayang dalam benaknya, sesaat lagi ia akan kembali bersujud dan mengadu pada Sang Ilahi.
"Terima kasih ya Allah. Pagiku ini masih membangunkan raga dalam tidur sesaat untuk kembali bersujud padaMu," guman seraya menebar senyuman.
Beranjak bangun Anisa meninggalkan bantal begitu saja depan pintu kamar. Dua mata kakinya seraya menebar senyuman mengajak kedua langkah kakinya semakin cepat berjalan.
Wajahnya masih meninggalkan basah, basah bukan karena air mata. Tapi tersisa basah bekas air wudhu penuh kesejukan, kian melunturi semua relung kesedihan yang akan berganti dengan keyakinan.
Sudah berselimut mukenah putih, ia berdiri tegakan dua kakinya menghadap kiblat penuh keyakinan beralas sazadah. Wajahnya mulai tersenyum seraya mengetuk hati Sang Pemilik Alam ini, dimana ia akan segera mulai mengumandangkan setiap lantunan doa-doa disertai keyakinan hatinya.
Dengan niat dan takbiratul ihram, disertai bacaan niat posisi berdiri tegak menghadap kiblat, dilanjutkan dengan mengucap takbiratul ihram. Kemudian berdiri bersedekap sambil membaca iftitah, dilanjutkan membaca surat al fatihah dan surat dalam Al Quran, kemudian rukuk.
Kini ia terduduk bertumpuh pada dua kaki sambil mengendahkan tangan, wajahnya kian tersenyum tersimbul haru kesedihan dan hatinya seraya bergetar.
"Ya Allah, jadikan setiap doa-doaku selalu mustajab untuk kebaikan almarhumah ibuku, ayahku, suamiku serta kedua anakku. Aku yakin padaMu, Ya Allah. Tidaklah Kau selalu menurunkan cobaan berat pada hambamu ini, yang sebegitunya yakin hambamu ini padaMu. Hambamu yakin dalam setiap cobaan berat yang selama ini hamba ratapi, pasti suatu hari akan terbuka pintu senyumanMu akan mengetuk hati hamba, agar selalu yakin dengan jalanMu selalu. Karena hamba yakin, dalam setiap jalan kesukaran, pasti hamba akan bisa melalui semua jalan kesukaran itu atas ridhoMu. Aamiin ya rabbal alamin,"
Sungguh yakin disertai guratan senyuman diakhiri dua husapan telapak tangan hangat mengusap wajahnya.
"Rifan ...!" terdengar teriakan dari luar.
Anisa cepat beranjak bangun, dua tangannya melipat sazadah kemudian disandarkan pada bahu kursi. Tidak tahu, siapa sepagi itu suara teriakannya kencang sekali terdengar, padahal waktu subuh belum habis.
***
"Siapa yang meletakan bantal itu disini! Huhhh!"
Teriakan itu datang dari Rosi terjatuh depan pintu.
"Kamu jangan diam saja! Cepat bantuin aku!" rengek marah manja Rosi.
Setengah membungkuk Rifan, sambil dua tangannya merentang bantu bangunkan Rosi tersenyum manja menggoda seraya bibirnya ingin dibiarkan terkecup.
Dua mata masih sepet mengantuk, kini dua mata itu makin melotot di pagi subuh mengundang hasrat melihat belahan paha putih mulus sedikit tersingkap dress merahnya keatas. Sontak dua tangan Rifan ditariknya, terjatuh Rifan menindih tubuh Rosi, dua wajah saling menatap dan dua bibir kian terasa tidak tahan ingin saling mengecup.