Pagi sungguh telah datang membawa kedamaian pada semua penghela napas di bumi yang begitu indah sekali. Langit serta hamparan hijau perbukitan indah sungguh nyata, itu adalah lukisan paling sempurna ciptaan Sang Ilahi.
Kicauan burung-burung kecil terdengar merdu suaranya, tiada tandingnya dengan suara konser musikal yang ada di gedung opera mewah. Sang Ilahi sungguh masih berbaik hati, telah menyediakan segalanya dengan sempurna yang harus terjaga kelestariannya.
Tiada tertandingi, tiada bandingnya dengan segala bentuk planet manapun yang ada diatas sana, dengan keindahan planet bumi yang begitu sungguh sempurna indahnya.
Hembusan semilir angin sejuk, suara gemericik air bermain dengan riak-riak kecilnya, hijau rerimbunan dedaunan selalu setia menemani setiap ranting, sinar hangat cahaya matahari menerangi dari kegelapan malam, serta sinar cahaya rembulan malam menutupi lembaran sinar terang, kesemua itu ada pada bumi terindah dan masih banyak lagi ciptaan Sang Ilahi yang selalu ada ketika dua mata terjaga bangun dari tidur.
Dua mata mengundang senyuman mengetuk relung hati, ia terduduk jongkok dengan jemari hangat bersahabatnya memetik dedaunan kering pada setiap ranting cabang pohon. Sekian lama telah terlelap akarnya dalam tanah kering berpot aneka warna sudah retak pecah, karena saking tidak kuatnya menahan sengatan terik sinar matahari.
Mungkin benaknya ingin sekali mengusir rasa dahaga berkepanjangan pada setiap pepohonan itu. Wajahnya kian makin tersenyum, namun tidak ingin kembali mengingat rasa sakit masa dua belas tahun lalu.
Makin tersenyum wajahnya sembari pandangan dua mata perhatikan seluruh tanaman, tidak berpangku lagi dedaunan layu disekitar pelataran halaman rumah.
Wajahnya sudah basah dengan bulir-bulir peluh pagi dingin, terseka wajahnya dengan ujung lengan kanan dress panjang warna salem mengusir bulir peluh.
Tidak sengaja wajahnya menoleh pada atas rooftop, wajah setengah mendongak keatas sesaat terketuk hatinya untuk mengingat masa dua belas tahun lalu.
Lihat saja besi-besi stanlies penyangga balkon rooftop sudah terasa kusam, tidak lagi tersentuh jemari tangan halus. Tampak juga sebagian dedauan pepohonan terlihat layu kering, mungkin sudah terlalu lama menahan dahaga haus dan sentuhan jemari bersahabat.
Menarik napas pelan Anisa seraya mengusir masa ingatannya, serasa ia tidak mau lagi terjerat pada masa dua belas tahun lalu.
Ia membungkuk, sedangkan jemari kanannya menyiduk air dalam gayung. Lalu air itu kemudian disiramkan pada sekujur pepohonan seraya berucap terima kasih, karena telah terlepas dari belengu haus dahaga berkepanjangan.
"Bu, aku lapar!" memanggil perut laparnya Carlos.
Gayung kembali bermain dalam air dalam ember warna hitam.
Anisa sesaat perhatikan anaknya berdiri depan kursi dan meja sejak tadi hanya terdiam membisu saja.
Sedikit tersenyum walau keningnya berkerinyit, Anisa menghampiri anaknya agar tidak menguring marah dipagi hari.
Sekali menguap lebar mulutnya, masih tanda mengantuk bocah bertubuh tambun itu. Berapa kali dua tangannya menenangkan dengan mengusap perutnya, agar bersabar menahan rasa lapar.
"Mandi dulu sana. Lalu sarapan pagi. Ibu sudah buatkan nasi goreng dan ayam goreng kesukaan kamu dan Niar," kata Anisa.
Sekali husapan telapak kanan Anisa mengusap hangat pipi temben bocah bertubuh tambun itu seraya menyapa pagi.
Pandangan mata wajah berbalut hijab putih menatap kearah lorong pendek ruangan tengah. Ditambah wajah Carlos juga menoleh kebelakang, benar seperti ada suara tawa kecil terdengar dari ruangan makan.
"Kamu kenapa?" balik tanya Anisa.