Teringat masa dua belas tahun silam ...
Jaket hitam yang dipakai lelaki itu dilepaskannya, lalu dipakaikan pada Anisa. Mungkin lelaki tampan itu tidak ingin tubuh Anisa kedinginan, atau dua mata lelaki itu merasa risih melihat dress putih pendek terlalu tembus pandang menyembul belahan dada.
"Niatku sungguh ingin jadikan kamu istriku," ucap tulus Rifan.
"Kamu tulus mau terima aku apa adaanya! Tapi Ibumu?!" sahut ketus Anisa.
Rambut panjangnya makin tergerai tertiup angin dingin malam, menoleh kesamping kanan begitu juga papan ayunan terdorong belakang kedepan oleh angin.
"Aku yakin, Ibuku pasti mau menerima kamu," dengan yakinnya kata Rifan.
"Tapi kamu tahukan, aku ini?" __ "Ayah mau kamu menerima Rifan,"
Terdiam terpaku wajah menua, jelas tergurat kesedihan, kegelisahan bercampur cemas ketika sudah berdiri disamping calon menantunya, ia adalah Raharja. Seorang Ayah yang sangat mengkhawatirkan anak semata wayangnya, hampir sering ia meminta pada anaknya agar segera menikah dan menjalin kehidupan baru dengan lelaki yang pasti akan membuat hidupnya beratap langit surga.
"Rifan selalu mengatakan pada Ayah, bila dia mau menerima kamu apa adanya. Ayah yakin dengan niat ketulusan Rifan, akan menjadikan kamu istri yang solehah setiap doa-doa selalu terijabah Allah. Ayah mau kamu jadi istri buat Rifan," tutur Raharja jalannya saja pincang gunakan tongkat kayu.
"Tapi Ayah?" kilah Anisa masih tidak yakin.
"Sudahlah Anisa, tinggalkan kehidupan malammu yang bertaburan dosa itu. Ayah yakin, insyah Allah. Rifan akan jadi imammu yang baik," tandas Raharja.
Raharja terduduk dikursi santai, kedua kakinya setengah ditegakan, jemari kanannya kuat sekali memegang ujung tongkat.
Saling menatap sendu berkaca-kaca, Anisa duduk berdeku seraya ingin bersujud pada ayahnya, yang wajah sudah mengriput tua, rambutnya sudah dipenuhi rambut putih.
Wajah kirinya mendarat pada pangkuan dua pergelangan tumit ayahnya, menarik napas panjang seraya belaian jemari kiri mengusap rambutnya, sontak menggetarkan hati Anisa terangsang kesedihan.
Rifan tersenyum berdiri disamping ayunan, mungkin lama tidak lagi akan ada yang menduduki papan ayunan itu. Apalagi dua gadis yang hidupnya selalu ingin bebas tidak ingin terikat janji, setiap malamnya selalu berada di lantai rooftop.
"Rifan, kamu sungguh mau jadi imamku?" tanya bergetar basah bibir Anisa.
Hanya mengangguk tersenyum, wajahnya sontak melirik taplak meja warna putih. Taplak itu lalu diambilnya dan dipakaian pada kepala Anisa jadi kerudung. Wajahnya sungguh terlihat cantik sekaki, dua mata berbinar berkaca-kaca seraya meluncur keharuan dalam hatinya terpancar pada wajahnya.
"Iya, aku akan jadi imammu," jawab yakin tersenyum haru Rifan berdiri disamping kanan Raharja wajahnya ikut terhanyut haru dalam kesedihan.
***