"Bu, aku tidak mau temui Dokter Rini! Pasti aku nanti diminta agar tidak makan banyak-banyak lagi!"
Carlos tahu, bila ia akan menemui Dokter Rini yang selalu memintanya agar tidak makan banyak. Tentu saja ia malas menguring serta memasang wajah masam terduduk disisi pintu kanan barisan jok kedua.
"Carlos, kamu harus temui Dokter Rini. Dokter Rini baik loh dan Dokter Rini sering kasih kamu mainan jugakan?" seraya merajuk Anisa pada anaknya.
"Lihat dong Niar, adikmu saja tidak masalah ingin bertemu dengan Dokter Arip. Dokter Arip, baik hatikan Niar?" kata Anisa sambil mengelus kepala Niar terduduk ditengah terapit ibu dan kakaknya makin masam wajahnya.
Anisa terduduk disisi kiri, sekali-kali wajahnya menoleh kearah luar jalan tersekat kaca pintu. Terlihat sepi tepian sepanjang jalan, karena hari sudah menjelang siang tidak seperti pagi tadi, biasanya banyak orang berjalan cepat sekali ingin segera menjemput harapan kehidupan yang tidak pasti.
Sepanjang jalan hanya berjejer gedung bertingkat menunjukan kebanggaannya memperlihatkan betapa kokohnya dan betapa arogannya setiap bangunan. Aneka model dan gaya bentuk seraya ujungnya menjulang tingginya akan mencakar langit beratap terik sinar matahari.
Tersenyum tatapan wajah Anisa menoleh pada selembar kertas putih sudah tertumpang angan-angan impian Niar. Tidak bisa menahan kesedihan melihat apa yang sudah tergambar pada selembar kertas putih, betapa inginnya Niar dan Carlos disuapi makan oleh ayahnya. Tapi sepertinya semua itu hanya angan dan mimpi Niar saja, terlebih betapa benci ayahnya pada kakaknya.
Lirikan mata Juki sempat melihat pada kaca spion tengah, padahal dua tangannya masih kemudikan setir mobil, tapi jelas sekali dua matanya melihat kesedihan Anisa.
"Bu!" disodorkan selembar kertas putih itu pada Anisa.
Jelas gambar seorang ayah sedang menyuapi makan dua anaknya persis dihadapan dua mata Anisa makin berkaca-kaca menahan haru.
"Kamu pandai sekali menggambar. Ibu yakin, kamu akan jadi pelukis hebat," erat sekali pelukan Anisa pada Niar tersenyum.
"Kring ... Kring ..." suara dering ponsel.
Anisa masih memeluk Niar sambil perhatikan lengan kiri Juki menempelkan ponsel pada kuping kirinya, sedangkan jemari kanannya masih kendalikan kemudi setir mobil tetap stabil.
"Ya hallo? Baik, baik Pak. Setelah mengantarkan Ibu kerumah sakit, saya lekas kembali pulang," jawab Juki lewat sambungan telpon.
Sedikit terdengar suara dari cerobong speaker kecil ponsel miliknya Juki, bila suara lelaki itu minta segera kembali pulang.
"Bapak minta saya segera pulang. Saya diminta antarkan teman wanitanya itu kesalon. Karena mobil satunya lagi, dipakai Bapak kekantor," kata Juki sambil meletakan ponsel diatas dasbort mobil.
Mobil minibus silver terus berjalan susuri jalan aspal hitam pekat mulai terasa panas karena sengatan sinar terik matahari siang. Kebetulan siang itu setiap sudut jalan tidak terlalu padat, mungkin setiap pemilik kendaraan sudah terduduk berhadapan dengan sekelumit permasalahan segudang pekerjaannya.