"Anwar?!" __ "Anisa! Tunggu Anisa!"
Dugaan Anisa benar, awalnya ia ragu sejak tadi melihat papan nama berselimut arkilik pada daun pintu benar adanya. Bila nama itu dikenalnya, Anisa menarik dua tangan anaknya keluar dari dalam ruangan praktek.
"Tidak Anwar! Aku tidak mau bertemu atau berurusan dengan kamu lagi!" tandas Anisa.
"Silakan masuk Bu," dengan sabarnya suster persilahkan masuk kembali.
Setelan atasan seragam putih dengan celana levis warna biru dongker, bila Anwar benar Dokter. Semakin ingin yakinkan wanita berhijab hitam dengan dress panjang warna biru tua, Anwar mencoba menghentikan Anisa.
Mungkin rada terkejut juga Anisa melihat lelaki yang pernah dikenalnya masa dua belas tahun lalu, kini sudah menjadi Dokter. Tetapi lelaki itu sudah menyakiti hati dan masa depannya, yang kini tidak bisa lari dari kenyataan pahit karena perbuatan lelaki itu.
"Aku Anwar, Anisa. Aku bukan Anwar yang dulu sekarang. Aku dan Dokter Rini sama-sama satu profesi Dokter specialis anak, yang juga melanjutkan studi lagi dengan fokus pada ahli nutrisi dan penyakit metabolik yang dialami anakmu itu," rinci Anwar seraya merajuk.
Anisa perhatikan wajah Carlos dan Anwar tidak berbeda jauh, sepertinya ada darah yang mengalir dalam jiwa keduanya. Apakah ini jawaban yang selama ini tidak membuat Tatu, ibu mertuanya makin keras hatinya tidak ingin membukakan pintu restu pernikahannya dengan Rifan.
"Dokter, benarkan nanti aku tidak disuntik dengan jarum suntikan?" tanya Carlos merajuk.
Anwar terduduk berdeku beralas dua tumit kakinya menopang sekujur tubuhnya. Sentuhan jemari hangat berapa kali mengelus wajah temben bocah bertubuh tambun itu. Dua mata Dokter tampan itu seraya berkaca-kaca menahan haru kian tidak ingin terpejam dua matanya menatap Carlos.
"Kata siapa kamu akan disuntik?" balik tanya Anwar tersenyum.
"Itu kata Niar!" __ "Weeeh!"
Lidah Niar menjulur meledek pada Carlos sekali telunjuk kanannya menunjuk pada adiknya sekali lagi menjulurkan lidah seraya meledek.
Anisa hanya berdiri terapit dua anaknya, seraya relung hatinya tersayat sakit teriris. Ia hanya menatap betapa sungguh hangatnya berapa kali sentuhan jemari lelaki tampan berseragam putih itu mengelus wajah dan perut bocah bertubuh tambun itu.
Tidak seperti ayahnya sendiri, yang ia sungguh tidak pernah sekalipun mengelus wajah atau menatap senyuman seperti Dokter tampan itu.
"Ya sudah, sekarang kamu masuk. Dokter akan periksa kamu," kata Anwar sambil melirik Anisa.
"Tapi benarkan Dokter? Aku diperiksa saja dan tidak disuntik dengan jarum suntikan?" balik tanya lagi Carlos rada ketakutan dan ragu.
"Weeeeh," ledek lagi Niar menjulurkan lidahnya.
"Tidak. Dokter janji tidak akan suntik kamu," jawab Anwar mengajak masuk Carlos.
Makin tersundul kesedihan wajah Anisa melihat betapa hangat dan dekatnya Anwar merajuk Carlos agar mau diperkisanya kedalam ruangan praktek. Suster sekali mengangguk senyum seraya memuji kecantikan Niar dituntunnya kedalam oleh ibunya.
"Benarkan, Dokter tidak menyuntik kamu," terdengar dari balik tirai warna hijau muda.
Anisa dan Niar hanya terduduk berhadapan meja banyak tumpukan rekam medis pasien. Sekali wajahnya menoleh pada dipan ranjang pasien masih tertutup tirai tandanya Carlos masih diperiksa.
"Niar, kamu bohong. Ternyata aku tidak disuntik sama Dokter," kilah Carlos tersenyum.