Senja hari telah beranjak pergi berganti dengan gelap malam, membawa miliran mata-mata selalu berkedip menyuarakan keindahan malam selalu berselencar dibalik bulatnya sempurna indung bulan.
Dua wajah tidak berani untuk menoleh terlalu fokus menatap kedepan jalan, sudah berbalut gelap malam dengan sinar cahaya sepanjang jalan.
Tebaran aneka warna cahaya lampu begitu mengajak nuansa romantis, tebaran sinar cahayanya seraya mengulik perasaan yang tidak peka. Sinar cahaya aneka warna hanya terpasung dalam papan reklame billboard tidak jenuhnya atau sekedar membosankan pandangan mata ketika menatapnya.
Hatinya kian tersentuh terlebur jadi satu mengamuk dalam perasaan, ketika dua mata sendu menatap papan reklame billboard. Sempat dilirik dua mata beralas wajah tampan perhatikan papan reklame billboard itu, tergambar satu keluarga utuh dua anak, ibu dan ayah sedang bersujud sholat berjaamah.
"Anisa?" pelan sekali bertanya Anwar.
Dua matanya kian hancur terlebur teramuk marah dalam relung hatinya, mungkin saja pesan yang terkandung dalam papan reklame billboard itu sejak lama dinantikan wanita yang terduduk disamping Anwar.
Selembar tissue diambil, jelas kini wajahnya menangis sedih tegas dilihat dua mata Anwar, bila wanita yang duduk disampinya sedang bersedih. Terseka wajah kesedihannya dengan selembar tissue putih, tapi Anwar masih tidak tahu apa yang membuat sedih Anisa.
"Ada yang salah dengan papan reklame billboard tadi, Anisa?" tanya Anwar tetap dua tangannya kemudikan setir mobil.
Sebentar ia menoleh kebelakang pastikan dua anaknya terdidur lelap, wajahnya tesrenyum berbalut hijab hitam makin terlihat cantik sekali paras Anisa. Sampa-sampai Anwar menelan ludah saking kagum sekali mencuri tatapan wajah berparas cantik itu.
"Tidak ada yang salah dengan papan reklame itu," tandas Anisa tidak banyak kata.
Dua matanya pelan sekali dipejamkan, sudah beranjak kealam mimpi benaknya mengajak pikiran wanita itu agar tidak terlalu terkuras dalam kesedihan. Padahal relung perasaannya tidak bisa dipungkiri. Bila kenyatannya, ia ingin sekali hidup berbahagia selalu tersenyum tulus bisa selalu bersama sholat berjamaah.
Mobil suv hitam terus menggeleser berjalan susuri jalan-jalan yang kini mulai terasa dingin berselimut gelap malam. Sepanjang jalan sekali-kali wajah tampan itu tidak pernah hentinya menatap wajah berparas cantik kini sudah lelap tidur terbawa mimpi indahnya.
***
Cemas dan gelisah menghantui relung perasaan seorang kakek, sejak tadi ia hanya terduduk sendirian dikursi teras beranda depan rumah.
Wajahnya sekali-kali perhatikan kiri-kanan jalan hanya ada kesepian mulai menemani gelap malam. Dua telapak tangannya tegas bertumpuh diatas pegangan tongkat, kadang sekali ujung tongkat ujung bawah dipindahkan karena saking cemas dan gelisahnya.
"Kakek Harja belum tidur?" tanya Juki.
Juki merasa tidak enak hati, ia kemudian menarik kursi dan terduduk disamping Raharja.
"Anak dan dua cucu saya belum pulang. Pasti jika dipaksakan tidur, tidur saya tidak akan lelap," sahut Raharja berkerinyit keningnya.