1 Rumah 2 Cinta

Herman Siem
Chapter #18

Bodohnya Aku

Malam makin panjang, semilir angin kian terasa basah dingin menelusuk masuk kedalam setiap relung. Anwar sudah terduduk dibelakang kemudi setir mobil, tatapan dua mata masih tidak ingin beranjak pergi melihat wajah sendu Anisa berdiri disamping mobil.

Tapi tatapan kemarahan Rifan makin tidak ingin melihat berlama-lama Dokter itu masih menatap istrinya, ia makin terasa camburu dan marah.

"Aku tahu, kenapa kamu tiba-tiba bersedih setelah melihat papan reklame tadi Anisa. Kamu sungguh merindukan kapan lelaki itu bisa sholat berjamaah bersama, namun kenyataannya mengatakan lain. Bila lelaki itu sedang mempertaruhkan kesetiaan cintamu," tersenyum sinis Anwar nadanya menyindir.

"Dan betapa bodohnya aku, kenapa sampai detik ini masih mengejarmu hanya untuk meyakinkan pencarian benih yang pernah aku tabur. Dan bila sesungguhnya aku masih menaruh harapan besar padamu, bila benih yang pernah aku tabur itu terjawab olehmu," guman dalam hati Anwar.

Mobil suv hitam perlahan mundur, berat hatinya Anisa ditinggalkan Dokter tampan itu yang dulu pernah tersangkut hatinya dalam ikatan cinta terlarang. Wajahnya sedikit merasakan sakit bekas bogeman mentah tadi, tapi hatinya kini mulai paham sesungguhnya apa yang tengah terjadi dengan Anisa.

Sinar cahaya sorot lampu mobil suv hitam tidak lagi terlihat, kini semkain terasa sepi hampa hati. Sekali wajahnya mendongkak keatas, beratap sinar cahaya rembulan terang menyinari rooftop.

Tatapan sinis terbalas dengan tatapan sinis dingin wajah Rosi, rangkulan dua tangannya mendarat pada bahu belakang dengan dagunya ikut mendarat pada bahu kanan Rifan.

"Harusnya aku yang marah, bukan kamu! Apalagi sampai memukul Anwar!" ketus kata Anisa.

Bibir seksi Rosi menjebeh pada Anisa terasa masa bodoh, langkah kedua kakinya mungkin sudah kandung marah dan kecewa pada suaminya. Kenapa ia sampai berbuat begitu dengan Anwar, sampai ia memukul. Harusnya Anisa yang marah dan kecewa, karena Rifan seenaknya membawa pulang dan membawa masuk kedalam kamar wanita yang tidak jelas.

"Lelaki itukan, yang sudah bikin Anisa hamil duluan sebelum menikah dengan kamu?!" terdengar ketus menyindir nadanya.

Langkah Anisa terhenti tidak lantas berjalan, ia hanya berdiri belakangi Rosi dan Rifan masih didepan teras depan rumah.

"Pantas saja Ibumu tidak menyukai istrimu! Kalau aku tidak salah lihat, wajah anakmu yang gempal itu mirip dengan lelaki itu!" sindir lagi Rosi.

Makin tersenyum sinis Rosi menahan tawa, Anisa makin tidak bisa menahan sedih berlari kearah undakan anak tangga rooftop. Tidak peduli papan penghalang undakan anak itu diterobos dua kakinya, sampai terbelah dua papan terbuat dari triplek tipis itu.

Rifan hanya diam, wajahnya masih terpapar rasa marah dan cemburu.

"Rifan!" teriak Rosi sempat menoleh pada undakan anak tangga.

Lihat selengkapnya