1 Rumah 2 Cinta

Herman Siem
Chapter #20

Dua Anak Kiriman Surga

Sebenarnya yang bodoh dan rendah harga dirinya adalah Rosi, betapa mudah dan tidak malu ia sudah begitu saja masuk kedalam rumah dan tidur dalam kamar orang yang bukanlah milikknya.

Apa karena desakan Ibunya Rifan membuat ia semakin yakin untuk dapatkan cinta dan mengusir cintanya Anisa keluar dari relung hati Rifan.

Apakah seegoisnya sampai membuat Rosi jadi wanita skala rendahan, betapa mudahnya ia menuduh sangat bodohnya Anisa begitu memberikan kehormatannya pada lelaki itu. Yang jelas lelaki itu datang kembali hanya untuk memastikan, bila benih yang sempat ditaburnya kini sudah tumbuh.

Yang rendahan itu adalah Rosi, saking ia tamak akan segalanya, apalagi cinta butanya pada lelaki yang sebenarnya sudah punya istri. Tapi sampai segitu rendahnya Rosi mau saja mengikuti desakan calon ibu mertuanya untuk tinggal satu rumah dengan istri dari teman lelakinya itu.

Sampai-sampai ia merebut kamar tidur dan menguasai dipan ranjang tidur dan tidur sekamar tanpa ikatan resmi apapun yang membelenggunya. Apakah Rosi tidak rendahan dari matrabat dan harga dirinya Anisa, yang notabendnya ia sungguh menyeselai perbuatan masa kelamnya.

Dimana sebenarnya Anisa menolak lamaran pada malam dua belas tahun lalu, ia menyadari bila harga dirinya terlalu mahal untuk dinikahi seorang Rifan. Padahal ia sudah terlumuri kubangan dosa yang pastinya akan membuat sulit mendapatkan restu dari ibunya mertuanya.

Sungguh kali ini membuat dilemma yang akan selalu menghukum relung hatinya dan pasti akan membuat Anisa selalu dalam keterpurukan sesal yang berkepanjangan. Andai saja ia bisa mengulang waktu masa dua belas tahun lalu, mungkin ia akan menolak lamaran Rifan malam itu dan berusaha menolak desakan ayahnya, yang sungguh percaya sekali pada lelaki itu dan ingin sekali Anisa menikah dengan lelaki yang menurutnya lelaki baik.

Langkahnya pelan sekali menuruni undakan anak tangga, ingin rasanya ia berada diatas rooftop saja sepanjang malam. Tapi rasa kantuk dan sedihnya makin mengular pada dua matanya, yang ingin rasanya diajak untuk terpejam walau sesaat saja.

"Pantesan saja Ibumu tidak suka dengan istrimu itu! Nyatanya dia benar-benar wanita rendahan!" tudingan itu terdengar dari dalam kamar.

Kian bertambah sedih dirinya dituding sebagai wanita rendahan, makin terpuruk sedih ia terduduk bersandar dengan dinding kamar. Seraya wanita terbuang hanya terbiarkan duduk depan pintu kamar, seraya terusir dari belaian kasih sayang seorang suami.

"Aku mau kamu cepat menikahi aku, Rifan!"

Makin tersayat sedih terjelas keinginan Rosi dari dalam kamar. Ia seraya memaksa Rifan sejak tadi tidak terdengar sekata bantahan sama sekali.

Kini kedua kakinya memanjang dilonjorkan kedepan, seraya melepas pegal keduanya kakinya merasa nyaman sekali. Kibasan semilir angin merasuk relung sukmanya kian terasa dingin menyatu dalam hati mengundang kesedihan yang memgembara.

"Aku yakin dengan cerita Ibumu, bila istrimu itu memang sudah hamil saat menikah dengan kamu. Sampai sebenci itu Ibumu pada istrimu. Aku yakin, Ibu lebih memilih aku dari pada istrimu!" terdengar lagi dari dalam kamar.

Lihat selengkapnya