1 Rumah 2 Cinta

Herman Siem
Chapter #22

Bahagia, Kesedihan Diatas Rooftop

Langit makin terlihat cerah, diatas sana seprihan awan-awan putih terlihat putih sekali sampai-sampai tertembus jilatan sinar matahari siang. Tidak lagi terlihat malam hari, sungguh jelas jejaran gedung bertingkat dan padatnya rumah terhampar dipelataran Kota Jakarta.

Ia hanya berdiri bersedih diatas rooftop, tapi pandangan dua matanya terajak yakin dnegan lafal Allah masih terpaku diatas kubah masjid.

Seraya ada bisikan dalam hatinya mengumbar sedikit tersenyum pada wajahnya, bila sesungguhnya Allah akan jadi pencemburu bila hambanya selalu lupa dan menduakannya. Mungkin cobaan itu yang selalu mendera Anisa menjadikan ia harus kuat tegar menghadapainya dan semakin yakin dalam menghadapi cobaan dari Allah.

"Kamu harus tegas sekarang pada istrimu!" terdengar nadanya memaksa.

Rosi dan Rifan sudah berdiri dibelakang Anisa, hanya terdiam lelaki pengecut itu seakan ia hanya terdiam berani menatap sekitar rooftop. Apakah otaknya sudah tercuci dengan setiap desahan desakan napas ibunya dan teman wanitanya itu.

Wajahnya tidak berani lagi terlalu lama menatap sekitar rooftop. Apakah Rifan takut akan terkenang kembali dengan ketulusan dan keyakinan masa dua belas tahun malam itu.

"Kamu pilih aku atau istrimu, Rifan?!" tandas Rosi menoleh sinis pada Anisa.

Dua cengkraman jemarinya seakan kuat sekali mencengkaram besi stanlies penopang balkon rooftop. Ingin rasanya jemari-jemarinya Anisq mencekek dan menampar leher serta wajah Rosi.

"Anisa?" __ "Sudah cukup Rifan, aku tahu apa yang kamu mau katakan!"

Diselah pertanyaan Rifan hanya menatap wajah istrinya, seraya tahu apa yang akan dikatakannya.

"Rifan, aku tidak mau satu rumah ada dua cinta!" tandas Rosi.

"Maksudmu, aku yang harus mengalah?" kilah Anisa tegarkan wajahnya.

"Itu juga kalau kamu sadar diri! Semestinya kamu jadi istri harus sadar diri, sudah tahu Ibu mertuamu tidak suka padamu. Ini malahan kamunya saja yang tidak tahu diri, malahan mau bangat pertahankan maligahi rumah tangga tanpa restu Ibu mertua! Sampai segitu rendahnya kamu jadi istri!"

Sindiran Rosi bernada ketus seakan membuat kian terpapar sedihnya Anisa, ada benarnya juga apa kata wanita yang tidak jelas itu.

"Benakku makin yakin terang benerang. Sungguh itu akan terjadi sebentar lagi. Bukan hanya satu rumah ada dua cinta lagi, tapi sebentar lagi kamulah yang akan terhempas pergi!" tandas Rosi makin yakin.

"Tidak! Biarkan aku bertahan dirumahku sendiri! Walau betapa sakitnya aku rasakan dalam satu rumah kamu membagi dua cinta," kilah Anisa menoleh pada Rifan.

Terika sinar matahari seakan kian membakar relung hati keegoisan Rosi. Rasanya ia ingin cepat menghempaskan pertahanan istrinya Rifan. Lihat saja tatapan sorotan tajam dua matanya seraya ingin memuntahkan lahar panas pada wajah Anisa.

Lihat selengkapnya