"Rifan, kamu harus banyak makan. Biar sehat dan kuat," ledek dan sindir manja terumbar dari bibir seksi.
Tidak lagi berpakain seksi, sekujur tubuhnya sudah terbalut dress panjang, namun kepalanya masih belum berhijab. Paksaan sesuap nasi goreng dan pocelan telur dadar beralas sendok berapa kali memaksa masuk kedalam mulut Rifan. Husapan selembar tissue membasuh bibir tidak lagi basah, apa itu hanya disengaja oleh Rosi membuat Anisa makin diterjang rasa cemburu.
Menahan rasa perut lapar dan rasa cemburu makin tergurat dari wajahnya, sejak tadi ia hanya menyapu lantai yang tidak kunjung berkesudahan. Wajahnya semakin termakan cemburu melihat dengan sengajanya Rosi, kini menyandarkan pipi kirinya pada bahu kanan lelaki yang hanya selalu dalam tekanan.
"Aku mau nanti gaun pengantinku, bagus dan aku tidak mau seperti itu! Norak!"
Tatapannya sinis pada lukisan pengantin Anisa dan Rifan yang terpampang dihadapan mata Rosi. Memang rada norak sepasang pengantin dengan gaun pengantin serta setelan jas yang sederhana sekali.
Kembali duduk lagi Rosi setelah puas mengulik rasa cemburu dan menahan amarahnya Anisa sepagi itu sudah seperti pembantu.
Makannya lahap sekali, lihat saja perutnya saja sudah melar kedepan dan pipinya saja sudah temben. Sejak tinggal dirumah Anisa, Rosi bagai ratu yang setiap ia melek mata segala sesuatu sudah harus ada dan tersedia.
Tidak hanya urusan makan saja sudah harus tersaji di meja makan, sampai pakaian juga sudah harus rapi, kadang bila sekujur tubuhnya pegal-pegal Anisa yang memijatnya serta sampai urusan merapihkan dipan ranjang Rosi masih meminta Anisa yang merapihkannya.
"Kamu kenapa? Kok sinis begitu lihat aku?" tanya Rosi kesal pada Rifan menahan tawa.
Mulutnya Rifan tidak jadi terbuka lebar dan sendok berisi nasi goreng dan pocelan telor dadar terpaksa kembali diletakan diatas piring ceper bersatu dengan butiran nasi lainnya.
Anisa menahan gelak tawa sambil tangan kanannya menyapu lantai, itu yang selalu dilakukan Anisa setelah ia melepas lelah semalam. Walau hatinya terundung sedih dan menahan amukan rasa cemburu yang selalu menghantui dengan wanita yang saat ini ada dalam rumahnya. Semua itu Anisa lakukan hanya semata-mata untuk bertahan demi kedua anaknya agar dekat dengan ayahnya. Walau hatinya terkadang luka dan tidak yakin dengan apa yang dilakukannya, akan membuahkan kebaikan selalu berpihak padanya.
"Kamu kenapa si? Kok mesem-mesem begitu?" tanya lagi Rosi penasaran pada Rifan mesem-mesem tidak jelas.
Tidak lagi terduduk, walau Rosi memakai dress panjang tertutup, tapi pipinya sudah terlihat tambah temben dan dua pergelangan tangannya makin gempal.
"Hehh! Kamu kenapa? Kamu tertawakan aku ya?!" nada tinggi pertanyaannya.
Rosi menghampiri Anisa sedikit kelagapan mundur selangkah, tapi sayangnya gagang sapu berhasil dirampas paksa dari tangan Anisa. Tapi genggaman kanan Anisa kuat sekali menahan gagamg sapu itu, walau kuat juga genggaman tarikan dua tangan Rosi. Dan seketika genggaman tangan Anisa melepasnya, seketika Rosi terjatuh kepalanya terbentur lantai, lagi-lagi Anisa menahan tawa.
"Yah! Huhh!" __ "Aku lapar,"
Rifan terapit dua anaknya berdiri masih kenakan piyama tidurnya. Wajah Rifan ragu menoleh pada Carlos menelan ludah melihat masih utuh nasi goreng dan telor dadar dalam piring ceper. Tapi wajah Rifan tersenyum menatap wajah Niar sekali menguap, sontak saja Carlos akan terduduk dikursi tidak jadi.
"Ehhh! Ehhh! Siapa yang suruh kamu duduk dikursi itu! Dan kamu ngapaian berdiri disitu. Sana kamu! Huhhh!" bentak dan usir Rosi pada dua anak itu.
"Uhh!" sahut Niar kesal merajuk ayahnya.
Rifan hanya terdiam saja saat jemari kanannya ditarik Niar. Carlos makin sedih dan perutnya makin memanggil lapar seraya mengundang haru ibunya hanya meratapi sedih.
"Yah!" ditariknya lagi pergelangan kiri Rifan.