"Assalamualaikum ..." terdengar ucapan salam dari luar.
Sesaat hanya berdiri didepan, sekali wajahnya melongok kedalam hanya terlihat sepi dilorong pendek jalan.
Tidak sedikitpun terumbar senyuman dari wajah ibu mertuanya Anisa, sesiang itu tidak tahu maksud kedatangan dan tujuannya untuk apa. Apa mungkin kedatangan Tatu hanya semakin ingin meyakinkan pilihannya pada Rosi atau hanya mengumbar berkelana bebas rasa ketidak sukaan pada Anisa.
Pandangannya perhatikan sekitar pelataran halaman rumah, sudah mulai tergantikan dedaunan yang layu dengan dedaunan segar hijau bermain dengan jilatan sinar matahari siang.
Lantai teras beranda depan sungguh bersih sekali, kursi dan meja terasa nyaman walau kosong sama sekali tidak tersentuh debu. Sekali telunjuk jemari kanan menyolek kaca jendela, pastikan tidak ada debu membekas pada ujung telunjuknya.
Ia hanya berdiri dibalik kaca jendela luar perhatikan ruangan tengah cukup tertata rapi semua perabotan. Walau penglihatannya terhalang tirai jendela warna biru dongker, jelas terlihat masih terpampang pada dinding ruangan depan sejak dari dulu foto-foto kedua cucunya, yang tidak dianggap selalu dekat bersama ibu tersayangnya. Dan hanya ada satu foto Rifan bersama istri dan kedua anaknya.
"Assalamualaikum ..." sesaat ia menunggu didepan sampai mengucapkan salam lagi.
Tidak juga ada yang membalas salam Tatu, langkahnya berjalan kearah depan. Ia berdiri disamping mobil minibus warna silver, lalu wajahnya mendongak keatas. Lambaian setiap dedauan hijau menyumbul seraya memangggilnya dari celah-celah besi stanlies balkon rooftop.
"Waalaikumsalam ..." terdengar balasan salam.
Tatu berbalik, sedikit menebarkan senyuman wajahnya pada Rosi.
"Ibu? Aku pikir siapa? Maaf, tadi aku tidak dengar. Aku tadi lagi repot didapur. Biasa, lagi masak untuk makan malam Rifan dan keluarganya," itu pengakuan bohong Rosi.
Pandangan Tatu lagi-lagi mengarah kearah lorong jalan pendek, ikut menoleh kebelakang Rosi mungkin saja ia ketakutan ketahuan dengan sikap kebohongannya itu pada ibu calon mertuanya.
"Anisa?" tanya Tatu.
"Anisa? La _ La _ Lagi tidur, Bu!" jawab terbata-bata Rosi dua bola matanya berputar licik.
"Tidur?" balik tanya Tatu mulai terpancing kesal wajahnya.
"Sejak aku disini, semua pekerjaan rumah aku yang kerjakan. Sampai cuci teriska pakaian semua aku yang lakukan, masak dan bersihkan rumah, semua aku lakukan. Hanya ingin mendapatkan hatinya Rifan. Aku juga mengalah tidur dilantai depan kamar Anisa," tutur Rosi wajahnya tergurat licik.
"Ibu?"