Sinar terik matahari kian terasa menyengat memaksa merasuki setiap pori-pori kulit dan bahkan membuat bertambah sakit kepala. Langit saja diatas sana begitu bebas dari serpihan awan-awan putih yang biasanya selalu menghalau laju sinar terik matahari.
Ada yang terduduk sekedar bercanda, ada yang berdiri terpapar setiap wajah kebingungan nasib bagaimana selanjutnya, ada juga yang kasak-kusuk tidak jelas bibir-bibirnya mengarah pada sang majikan sejak tadi hanya berdiri didepan perkantoran.
Sudah tersegel dan tergembok dan jelas bila perusahaan miliknya Rifan sudah disegel dan diambil alih oleh bank, jika sampai ia bisa membayar kewajibannya sebagai debitur salah bank di Jakarta. Maka perkantoran miliknya akan dikembalikan lagi padanya.
"Saya sudah berusaha pada pihak bank untuk memberikan tengat waktu, untuk membayarkan sisa kewajiban kita sebagai debitur. Tapi lagi-lagi pihak bank tidak mau tahu dan mereka sudah menyegel kantor ini, Pak." tutur cemas salah satu pegawai wanita.
Kepalanya tambah pusing, wajahnya seakan makin tidak sanggup menahan sakit. Apalagi melihat banyak semua pegawinya hanya berdiri dan duduk-duduk depan perkantoran. Apa tadi karena seseorang lewat sambungan telpon sudah menghubunginya, menjadikan sakit kepala Rifan makin menjadi.
"Pak, bagiamana dengan nasib kami-kami?" tanya salah satu pegawai lelaki.
Semua pegawai berharap cemas, mereka hanya berdiri berharap ada jawaban pasti dengan nasib mereka semuanya. Tapi Rifan hanya berdiri menatap wajah-wajah berharap cemas menaruh harapan pada Bossnya itu, tapi sejak tadi bibirnya seraya terkunci tidak bisa berkata apa-apa.
"Kalian sabar semuanya. Berdoa saja agar semua ini bisa kita lalui bersama," itu jawaban Rifan.
Tapi rasanya jawaban itu tidak cukup untuk mengusir kecemasan dari setiap wajah-wajah pegawai hanya berdiri seraya patung begitu kuatnya terpapar terik sinar matahari.
Begitu saja jawaban Rifan, kini ia sudah duduk dibelakang kemudi setir mobil suv putih, masih tergurat wajah tidak enak hati melihat semua pegawainya bakalan kehilangan harapan sebentar lagi.
Mobil suv putih itu sudah berjalan meninggalkan perkantoran sudah tersegel bank dan semua pegawai menaruh harapan akan kepastian nasib mereka pada Rifan.
***
Wajah-wajah seakan berbalut tegang, sejak tadi hanya terdiam tidak bergerak kaku terduduk.
Dua jantung terdengar berdegub kencang, satunya berharap masih dikasih kesempatan untuk selalu bersama anaknya dan satu lagi deguban jantung itu makin terdengar egois ingin mengambil benih yang telah diteburnya saat masa dua belas tahun lalu.
"Jangan pisahkan aku dengan Carlos," terucap dari bibir penuh harapan.
Anisa sontak terduduk berdeku, seraya ia meohon pada Anwar agar mengurungkan niatnya untuk tidak mengambil Carlos darinya.
"Setelah kamu menaburkan benih itu, sekian tahun itu hanya ada ratapan tangisan yang selalu mengiringi langkah jalanku merawat dan membesarkan Carlos tanpa kamu," begitu rendahnya Anisa sangat memohon pada Anwar.
"Benarkan, kalau anak itu bukan anak biologisnya Rifan! Pantesan Ibu mertuamu tidak begitu menyukai anak gendut itu!" ditimpali Rosi ikut menegaskan.
Anwar menoleh pada Rosi tersenyum sinis berdiri disamping Anisa masih berdeku, masih berharap kemurahan hatinya Anwar.
"Udah kasih saja sama Bapaknya. Jelas Bapaknya itu bukan Rifan kok!" tandas Rosi.
"Aku mohon Anwar, jangan bawa dan ambil Carlos," memohon lagi.
Sampai terjatuh Anisa, saat dua tangannya terlepas dari dua pergelangan kaki Anwar sontak beranjak bangun.