Terjaga bangun Anisa dari tidur, deguban jantungnya makin kencang sekali seperti menandakan sinyal firasat buruk sedang terjadi.
Punggung belakangnya bersandar pada dinding kamar, masih saja ia tertidur depan kamar. Walau ia sudah diceraikan suaminya, tapi rasanya berat sekali menerima perceraian itu. Anisa masih bertahan, walau hatinya makin tersulut api kesedihan dan ketidak adilan cinta yang tengah mengoyak relung hatinya, semua ia lakukan demi anaknya. Walau satunya anaknya tengah terengut dari separuh nyawanya, tapi Anisa harus bertahan demi Niar.
"Semoga tidak terjadi sesuatu?" guman dalam hatinya gelisah.
Beranjak bangun Anisa dan meletakan bantal diatas kursi, langkahnyq mengajak pada lorong jalan pendek beratap samar cahaya. Mungkin malam itu ia ingin mencari angin malam, hanya untuk menyejukan hatinya yang seakan sedang gelisah dan berpangku cemas.
Ia berdiri tidak lantas membuka pintu padahal diluar masih betah berselimut gelap malam. Wajahnya menoleh pada undakan anak tangga keatas rooftop.
Padahal jantungnya masih berdegub kencang sekali seraya firasat tidak enak itu makin menandakan tengah terjadi sesuatu. Tersenyum sedikit wajahnya hanya untuk mengalihkan rasa cemas dan gelisahnya, kedua kakinya mengajak melangkah pada undakan anak tangga rooftop.
Mungkin diatas rooftop sana, kecemasan dan kegelisahan tidak jadi terjawab firasat tidak enak.
Langkahnya terhenti, wajahnya menatap pada papan ayunan tidak lagi kosong. Diatas rooftop biasanya selalu sepi beratap malam penuh sinar cahaya dari indung rembulan diatas langit sana. Tapi kali ini tidak, papan ayunan itu sepertinya sudah ada yang mendudukinya.
"Rifan?" pelan sekali terucap dari bibir Anisa.
Sontak lelaki itu terbangun dari atas papan ayunan, merasa tidak enak hatinya Rifan pada sang pemilik ayunan itu sudah datang.
Dua wajah saling menatap sendu tidak terpancing hasrat nafsu, keduanya berdiri masih saling menatap terhalang ayunan sedikit bergerak karena terpaan angin.
Taburan jutaan kedipan mata-mata nakal diatas langit terasa ingin mengulik dua hati, yang selama ini selalu terajang pisau tajam menyayat kedua hatinya.
Menarik pelan napas sekali Anisa menoleh pada meja kecil. Meja kecil itu serasa kedinginan, karena permukaan mejanya tidak lagi berselimutkan taplak putih itu lagi.