"Bu?" merajuk sedih Niar teringat Carlos.
Gambar Carlos dalam selembar kertas selalu tidak lepas dalam pelukan Niar.
Dipeluknya Niar dalam pelukan ibunya terpancing kesedihan.
"Rifan! Apa-apan si kamu! Mau dibawa kemana baju-bajuku?!"
Rosi halangi Rifan berjalan keluar dari dalam kamar membawa segembolan pakaian Rosi.
"Brug!" dibuangnya baju-baju itu kedepan kamar.
Beranjak bangun Niar dan Anisa tidak mau ikut campur.
"Semua gara-gara kamu! Pasti kamu yang sudah menghasut Rifan?!" tuding Rosi pada Anisa.
"Huh! Uhhhh!" __ "Aduh! Auw!"
Tidak mau ibunya dituding terus, sontak Niar menggigit pergelangan tangan kanannya.
"Dasar anak aneh!"
"Prug!"
Merontah kesakitan Rosi mendorong Niar terjatuh. Gambar Carlos terjatuh dilantai dan sengaja diinjak-injak dua kaki Rosi meradang.
"Rosi! Jangan kamu sakiti terus anak saya! Niar, kamu tidak apa-apa?"