1 Rumah 2 Cinta

Herman Siem
Chapter #30

Bahagia

Setelah tiga bulan berlalu dengan keyakinan ...

Wiwin dan Satria tersenyum bangga melihat semua muridnya sedang fokus mengikuti lomba menggambar dipelataran halaman sekolah berpayung tenda besar.

"Saya sudah salah menduga pada Niar, Bu Wiwin. Niar sesungguhnya ia anak berkebutuhan khusus, tapi ia punya kelebihan dari rata-rata anak-anak pada umumnya. Maafkan saya, Bu Wiwin sudah mengeluarkan Niar waktu itu," tergurat sesal dari raut wajah Satria Kepala Sekolah SDN Nusa Bangsa.

Tidak lantas menjawab Wiwin, wajahnya tidak sengaja melihat jempol kanan dan celana bolong yang masih saja dipakai Satria siang itu.

"Iya Pak," singkat jawaban Wiwin menahan tawa.

Sontak saja semua peserta lomba menggambar dan wali murid juga ikut terpancing menahan tawa, melihat Satria sudah berdiri dihadapan semua peserta lomba. Semuanya melihat tertujuh pada tingkah aneh kepala sekolah itu.

Padahal waktu sebentar lagi habis, tidak ada lagi guratan setiap aneka warna pencil menggurat setiap lembaran kertas putih. Semua sudah menuangkan ide dan kreativitas tergambar jelas pada setiap lembaran kertas gambar.

Lihat saja gambar yang digambar Niar, wajahnya sedih sendu dan tersenyum perhatikan hasil gambar yang digambarnya. Jelas terlihat dalam gambar, ayah, ibu, kakek dan ia sholat berjamaah. Wajahnya terketuk sedih saat mengelus gambar Carlos berada diatas langit, artinya kakaknya itu sudah sangat dicintai Allah.

"Kalian kenapa?" tanya Satria bingung.

Semua peserta lomba menggambar hanya tersenyum manahan gelak tawa.

"Celana Bapak bolong ... Jempol Bapak nongol ..." kompak semua peserta lomba menggambar.

Baru sadar Satria menoleh kebawa, benar saja jempol kanannya kakinya bebas menghirup udara siang itu dan malunya lagi celana belakangnya bolong. Satria berlari cepat sambil dua tangannya menutupi celananya yang bolong.

"Sudah ... Sudah semuanya. Waktunya sudah habis, kumpulkan semua di meja itu," kata salah juri berdiri dihadapan semua peserta lomba gambar.

"Semoga Niar memang ya Anisa?" berharap sekali Rifan sambil menoleh pada Anisa tersenyum.

Lihat selengkapnya