1 Wanita 3 Pewaris

Autami Anita
Chapter #1

Tawaran Gila

Berkat ibuku yang menjadi simpanan seorang pengusaha, aku bisa menempuh pendidikan di sekolah elit dan tinggal di asrama sekolah–yang lebih mirip apartemen bintang tujuh ketimbang asrama. Gerimis masih menggemercik ketika aku turun dari taksi, berdiri di depan gedung itu. Sore menjadi sangat gelap, padahal senja belum turun.

Aether Palace. Namanya saja sudah terdengar seperti tempat yang tidak boleh dimasuki orang sepertiku.

Koperku hanya satu—ritsletingnya bahkan sedikit macet dan harus kubalurkan lilin barulah dia bisa dibuka-ditutup dengan lancar. Aku menarik koper itu, rodanya berdecit halus di atas lantai marmer yang mengilap seperti kaca. 

Kurasakan tubuhku sedikit getar menggigil. Karena dingin atau gugup?

Lobi tampak lengang, hanya ada tiga-empat murid di lounge. Lihatlah … sepatu mereka mengilap. Tas mereka berlogo yang bahkan tidak berani kubaca keras-keras karena takut salah melafalkan. Cara mereka berjalan seperti sudah tahu dunia akan memberi jalan.

Sementara aku—

Aku bahkan tidak yakin harus berdiri di mana.

“Maaf, Nona. Bisa saya bantu?”

Seorang petugas wanita–yang sepertinya resepsionis, mendekat. Senyumnya sopan–aku ragu dia akan tetap tersenyum seperti itu setelah tahu siapa diriku.

Aku mengulurkan map dokumen dengan tangan sedikit gemetar. “Saya… dapat penempatan hunian dari sekolah. Tapi sepertinya ada kesalahan.”

Dia membaca sekilas, raut wajahnya berubah. Lebih hormat dan membungkuk padaku, mengatakan, “Selamat datang, di unit penthouse, Nona.”

Aku tertawa kecil, refleks. “Maaf … mungkin salah baca.”

“Tidak, Nona. Unit Anda di lantai paling atas. Di penthouse.

Hening. Sekelilingku juga. Entah mengapa, aku merasa tiba-tiba saja semua mata tertuju padaku. Setelah meneguk ludah, aku memastikan, “Pent-penthouse?”

“Ya. Unit paling eksklusif di puncak gedung ini.”

Aku tahu, aku akan tinggal di asrama megah ini, tapi, tak pernah kubayangkan akan tinggal di penthouse. Aku sudah baca dokumennya, kukira ada kesalahan, ternyata, semua yang tertulis di sana: benar.

Dengan gerakan kaku, aku mengikuti resepsionis itu, yang berkata akan mengantarku sampai lift.

Lift privat itu terbuka dengan suara nyaris tanpa bunyi. Aku masuk, sendirian. Dindingnya kaca. Kota di bawah kakiku tampak seperti lampu-lampu kecil yang berkedip, pendarnya mewarnai langit menjadi terang dan sedikit berwarna oranye.

Semakin naik… napasku tercekat. Ketika pintu terbuka, yang kulihat pertama kali adalah–

Lorong sunyi.

Karpet tebal. Pendar kuning hangat dari lampu kristal. Udara dingin yang wangi.

Dan satu pintu besar di ujung.

Aku berhenti dan menghitung denting yang berdetik di jantungku.

Ini salah.

Harusnya aku turun lagi. Harusnya aku minta mereka memastikan sekali lagi. Harusnya—

Klik.

Pintu itu terbuka dari dalam.

Dan seorang pria keluar.

Tinggi. Rapi, tapi tidak norak. Tatapan langsung jatuh padaku, membuatku beku.

“Siapa kamu?” Bukan tanya. Lebih seperti interogasi. Matanya menyipit dan suaranya berdesis saat mengatakan itu.

Aku mengangkat dagu sedikit, menahan gugup yang mulai merambat ke ubun-ubun. “Saya juga mau tanya hal yang sama. Ini unit saya.”

Sunyi.

Dia melangkah mendekat. Terukur. “Tidak mungkin.” Senyum sinisnya menyinggungku.

“Ada di dokumen saya.” Aku mengangkat map itu lagi. Kali ini lebih mantap.

Dia tidak langsung mengambilnya. Hanya melihatku. Dari ujung kepala sampai kaki. Menakar seolah aku ini barang antik yang tua dan lusuh.

Seolah-olah aku adalah sesuatu yang salah tempat.

Dan dia benar.

Aku memang salah tempat.

“Masuk.”

Aku mengerjap. “Apa?”

“Kalau kamu memang penghuni sini,” katanya datar, “silakan saja.”

Aku menahan napas sebentar… lalu melangkah masuk.

Dunia di dalam sana—

Jauh lebih gila.

Ruang tamu luas dengan kaca setinggi dinding. Sofa putih bersih. Meja marmer. Bahkan udara di sini terasa mahal.

Aku belum sempat mengagumi lebih lama ketika suara lain muncul.

“Wah.”

Aku menoleh.

Seorang pria lain berdiri di dekat dapur terbuka. Hoodie, rambut sedikit berantakan, tapi wajahnya—

Terlalu tampan untuk terlihat santai seperti itu.

Dia menyeringai.

“Jadi ini ‘anak haram’ yang lagi rame itu?”

Aku mengernyit. “Apa maksudnya?”

Dia tertawa kecil, berjalan mendekat.

“Lo belum baca? Satu sekolah udah ngomongin lo.”

Jantungku berdegup.

Belum sempat aku tanya, suara ketiga masuk.

“…Kamu?”

Aku menoleh lagi.

Pria itu berdiri di ambang lorong. Tidak seperti dua lainnya, dia tidak langsung mendekat. Hanya diam, tapi matanya menatapku seperti melihat sesuatu dari masa lalu.

Aku mengerutkan kening. “Apa kita kenal?”

Dia tidak langsung jawab.

Hanya satu langkah maju.

Pelan.

“…Kamu benar-benar tidak ingat?”

Aku belum sempat menjawab—

Getaran di ponselku memotong semuanya.

Notifikasi masuk bertubi-tubi.

Aku menurunkan pandangan.

Grup sekolah.

Puluhan pesan.

Lihat selengkapnya