100 Tahun

Awal Try Surya
Chapter #1

Terbangun

## PROLOG


Adrian sudah lama merasa hidupnya terlalu penuh.


Pukul delapan pagi rapat. Pukul sebelas bertemu direksi. Makan siang dengan orang yang bahkan tidak ia sukai. Sore membaca laporan keuangan. Malam menerima telepon ayahnya yang selalu berakhir dengan pembicaraan tentang perusahaan.


Begitu terus.


Padahal usianya baru dua puluh delapan tahun.


Malam itu ia pulang lebih cepat. Hampir pukul sebelas ketika pintu apartemen terbuka dan lampu-lampu otomatis menyala satu per satu.


Adrian melepas jas, melemparkannya ke sofa.


Dari lantai empat puluh tujuh, Jakarta tampak indah.


Setidaknya bagi orang yang hanya melihatnya dari balik kaca.


Lampu kendaraan membentuk garis panjang di jalan raya. Gedung-gedung tinggi berdiri seperti tidak mengenal malam. Sebuah layar iklan di gedung seberang menampilkan wajah seorang perempuan yang tersenyum sambil memegang parfum.


Adrian memperhatikannya sebentar.


Aneh.


Orang-orang zaman sekarang bisa menjual apa saja. Wajah, waktu, perhatian, bahkan kehidupan pribadi.


Ponselnya berbunyi.


Ayah.


Adrian melihat nama itu sampai panggilannya berhenti.


Beberapa detik kemudian masuk sebuah pesan.


**Besok jangan terlambat. Pak Hartono datang jam sembilan.**


Ia membalas pendek.


**Ya.**


Lalu meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.


Di dekat tempat tidurnya ada sebuah buku tua.


Ia membelinya siang tadi dari toko buku bekas di kawasan Blok M. Pemilik tokonya sampai heran mengetahui Adrian benar-benar ingin membelinya.


“Cetakan begini banyak, Mas. Bukan barang langka.”


Adrian tetap membayar.


Ia memang tidak tertarik pada nilainya.


Ia menyukai benda-benda tua karena satu alasan sederhana: benda-benda itu pernah hidup pada dunia yang berbeda.


Jam mekanik.


Kamera film.


Piringan hitam.


Buku yang halamannya sudah menguning.


Kadang Adrian membayangkan bagaimana rasanya hidup seratus tahun sebelumnya.


Tahun 1926, misalnya.


Kota belum dipenuhi gedung kaca. Jalan tidak sesak seperti sekarang. Orang yang ingin berbicara dengan seseorang harus datang menemuinya atau menulis surat dan menunggu berhari-hari.


Menunggu.


Adrian menyukai kata itu.


Pada zamannya, semua orang seperti takut menunggu.


Makanan harus datang tiga puluh menit.


Pesan harus dibalas lima menit.


Keuntungan perusahaan harus tumbuh setiap kuartal.


Kalau bisa lebih cepat, kenapa harus lambat?


Begitu kata orang-orang.


Adrian justru sering berpikir sebaliknya.


Kalau semua hal harus dikerjakan cepat, kapan manusia sempat menikmati hidupnya?

Lihat selengkapnya