100 Tahun

Awal Try Surya
Chapter #1

Terbangun

"Selamat malam Mister Adrian. Anda memiliki rapat direksi terkait ekspansi bisnis pukul delapan esok pagi, dilanjutkan pertemuan dengan Pak Hartono selaku Kepala Wilayah Perusahaan Wijaya bagian Indonesia Timur pukul sembilan.”

Perempuan itu berbicara dengan datar dan kaku. Suaranya tidak memiliki jiwa seperti manusia pada umumnya. Lampu-lampu di suatu kamar besar apartemen mewah menyusul menyala otomatis satu per satu.

Adrian menghela napas, membanting tubuhnya di atas sofa pijat empuk yang menghadap ke arah gemerlap cahaya Kota Jakarta di bawah sana.

"Huft!" Bayangan wajah tampannya menatap balik dengan lesu dari kilas kaca apartemen yang menjadi pembatas antara dirinya dengan dingin dan gelapnya langit malam di luar.

Ia sudah lama berpikir kalau hidupnya ini terlalu penuh.

Adrian sudah memulai hari tadi dari pukul empat pagi. Harus terbang menuju ujung negeri untuk meresmikan cabang baru perusahaan Ayahnya yang berjarak dua jam lebih dengan pesawat jet pribadinya.

Sampai siang hari ia habiskan dengan mendengarkan ocehan potensi bisnis dengan orang berwajah asing, yang baru ia kenali saat itu juga sambil mengunyah lauk modern (Pan-Seared Sea Bass with Garlic Butter) nan hambar sajian makan siangnya.

Sorenya di atas langit biru, di dalam pesawat jet saat perjalanan balik, Adrian menerima dan membaca tumpukan file laporan laba rugi melalui tab pintarnya.

Begitu terus.

Padahal usianya baru dua puluh tujuh.

Baru sampai lagi di kamar apartemennya lantai empat puluh tujuh.

Bersamaan dengan jam bandul besar dari kayu jati, berhiaskan ukiran yang rumit, berdentang gemanya memenuhi sudut kamar apartemen sebanyak kali ke tujuh.

Adrian menengok ke handphonenya yang bergetar tergeletak begitu saja di atas meja di sampingnya. Terdapat panggilan tak terjawab dari Ayahnya sebanyak tiga puluh tujuh.

"PERSETAN!"

Hatinya meracau. Namun, ekspresinya tetap datar. Sangking penatnya ia.

Kadang dengan duduk saja melamun seperti ini, melihat lampu kendaraan membentuk garis panjang di jalan raya, juga gedung-gedung tinggi yang berdiri di depannya seperti tidak mengenal malam. Adalah satu momen saja yang ia pikir seperti hidup, di penghujung hari yang ia jalani layaknya robot, tidak berjiwa. Tak jauh beda dengan wanita yang mengeluarkan suara barusan.

Sebuah layar iklan di gedung seberang menampilkan seorang perempuan berpakaian vintage, abad dua puluhan awal.

Adrian memperhatikannya sebentar.

Sudah lama ia berpikir sepertinya ia lahir salah zaman.

Dalam benaknya, orang-orang zaman dahulu, misal seratus tahun yang lalu, mungkin saja tidak sesibuk saat ini.

Saat belum ada handphone, sosial media. Mereka masih bisa menikmati dan menghargai keberadaan waktu yang ada di depan mereka. Tidak hanya terpaut beku dengan layar dan bisnis.

Ya walaupun dahulu juga sudah ada koran. Tetapi itu tidak menghabiskan waktu sebanyak saat ini, berita-berita zaman sekarang dari gadget.

Juga dengan interaksi. Orang-orang dahulu pikirnya sangat diberkati. Bertemu dengan jodoh mereka secara natural, tidak dari layar maya yang dapat menipu baik dari sifat maupun fisiknya.

Adrian masih menerawang dan pikirannya masih berpetualang di awal abad dua puluh. Ia mengalihkan pandangannya ke jam bandul antik besar tadi di salah satu sisi kamar apartemennya.

Ia memang memendam ketertarikan dengan hal-hal yang berbau jadul. Apalagi dengan orang-orang dan masyarakatnya. Adrian menaruh respek setinggi-tingginya kepada mereka. Kerja keras, kesabaran, keuletan, hingga peradaban pun bisa sampai saat ini berkat mereka juga.

Lihat selengkapnya