## BAB 2
Hal pertama yang ia sadari adalah kasurnya berubah.
Terlalu empuk.
Ia membuka mata perlahan, masih setengah mengantuk. Langit-langit di atasnya berwarna putih bersih, jauh lebih tinggi daripada langit-langit kamar kecil tempat ia tidur semalam.
Ia mengerjapkan mata.
Mungkin ia belum benar-benar bangun.
Ia menarik selimut sampai ke dada, lalu berhenti.
Selimut itu juga bukan miliknya.
Bahannya lembut. Dingin ketika disentuh. Ada aroma samar yang asing, seperti wangi kayu bercampur sesuatu yang tidak bisa ia kenali.
Ia duduk.
Ruangan di sekelilingnya membuat rasa kantuknya lenyap.
Kamar itu besar. Bahkan mungkin lebih besar daripada seluruh rumah yang selama ini ia tempati.
Di sebelah kanan ada dinding kaca yang membentang hampir dari lantai sampai langit-langit. Tirainya terbuka sedikit, memperlihatkan cahaya matahari pagi.
Ia turun dari tempat tidur.
Kakinya menyentuh lantai yang dingin dan mengilap.
Beberapa langkah kemudian ia berdiri di depan kaca.
Dan lupa bernapas.
Kota terbentang jauh di bawahnya.
Gedung-gedung menjulang begitu tinggi hingga beberapa di antaranya terasa sejajar dengan tempatnya berdiri. Jalan raya dipenuhi benda-benda berwarna hitam, putih, merah, bergerak cepat seperti kereta tanpa rel.
Mobil.
Ia tahu itu mobil.
Tentu saja ia pernah melihat mobil. Beberapa kali.
Tapi bukan seperti ini.
Bukan ratusan sekaligus.
Bukan gedung sebesar ini.
Bukan kota yang seolah dibangun sampai ke langit.
Tangannya menyentuh kaca.
Dingin.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Ia pernah membayangkan masa depan.
Dalam khayalannya, jalan-jalan akan penuh mobil. Rumah akan mempunyai lampu di setiap ruangan. Perempuan memakai pakaian indah tanpa harus menunggu pesta. Orang mungkin bisa terbang ke kota lain dalam beberapa jam.
Ia pernah mengatakan itu kepada seorang perempuan tua di pasar.
Perempuan itu tertawa.
“Kamu kebanyakan membaca.”
Mungkin memang begitu.
Tapi pemandangan di depan matanya bahkan lebih aneh daripada buku apa pun yang pernah ia baca.
Ia menoleh kembali ke kamar.
Di atas meja terdapat sebuah benda tipis berwarna hitam.
Ia mengambilnya.
Tidak ada tombol.
Ia membalik benda itu beberapa kali.
Layar mendadak menyala.
Ia hampir menjatuhkannya.
Wajah seorang lelaki muncul memenuhi layar.
Gadis itu membeku.
Lelaki itu tampan.
Rambutnya sedikit berantakan, mengenakan kemeja putih dengan dua kancing bagian atas terbuka. Di belakangnya terlihat laut.
Di bawah wajah itu terdapat beberapa angka dan tulisan yang tidak ia pahami.
Ia menyentuh layar dengan hati-hati.
Gambar berubah.
Sekarang muncul deretan kotak kecil berwarna-warni.
Ia menyentuh lagi.
Sebuah suara perempuan tiba-tiba terdengar.
“Maaf, saya tidak mengerti.”
Ia melempar benda itu ke tempat tidur.
Beberapa detik ia hanya memandanginya dari kejauhan.
Benda itu tidak bergerak.
“Kurang ajar,” gumamnya.
Entah kepada siapa.
Ia mendekat lagi.
Kali ini lebih hati-hati.
Benda hitam itu masih menyala.
Di salah satu sudut layar tertulis angka besar.
**07.14**
Di bawahnya:
**12 Oktober 2026.**
Ia membaca tahun itu dua kali.
Kemudian sekali lagi.
Dua ribu dua puluh enam.
Tangannya perlahan turun.
Ia menoleh ke jendela.
Ke gedung-gedung.
Ke jalan raya.
Lalu kembali melihat angka di layar.
Seratus tahun.
Persis seratus tahun.
Ada suara kecil dari arah pintu.
Gadis itu menoleh.
Sebuah lampu hijau menyala pada dinding.
Lalu terdengar bunyi.
Pintu terbuka.
Seorang perempuan berseragam masuk sambil membawa sebuah nampan.
Perempuan itu melangkah dua kali sebelum berhenti.
Nampannya nyaris jatuh.
Mereka saling memandang.
“Maaf…”
Perempuan berseragam itu memandang ke tempat tidur, lalu kembali kepadanya.