Hal pertama yang perempuan itu sadari adalah kasurnya berubah.
Terlalu empuk. Sangat empuk. Seperti permen kapas yang di jual saat festival maupun perayaan-perayaan Kota Batavia.
Ia membuka mata perlahan, masih setengah mengantuk. Semalam ia harus begadang menulis surat lagi untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal.
Ibunya meninggalkannya sejak umur enam tahun, tuberkolosis. Sementara Ayahnya ketika umurnya belasan juga terkena penyakit misterius. Zaman itu memang pengobatan belum secanggih sekarang. Ia pun hidup sebatang kara tidak punya orang tua maupun saudara.
Setelah pulang kerja dari kantor pos, kebiasaan itulah yang hinggap di dirinya sejak ditinggal kedua orang tuanya. Setiap hari dia mengurus surat orang lain—surat untuk keluarga, kekasih, anak, orang tua—sementara dia sendiri sudah tidak punya siapa pun untuk dikirimi surat.
Sehingga tiap malam sebelum tidur kalau ia sedang rindu dengan mereka, Ia menulis surat tersebut untuk Ibu dan Ayahnya, kemudian ia simpan di kotak kayu kecil di pinggir meja kayunya. Sudah terhitung ribuan surat yang ia tulis.
Matanya sekarang terbuka lebar. Langit-langit di atasnya berwarna putih bersih, jauh lebih tinggi daripada langit-langit kamar kecil tempat ia biasa tidur.
Ia mengucek matanya beberapa kali. Ia tahu matanya itu tidak minus, tidak buram, tapi apa yang ia lihat di depannya seperti khayalan. Rasanya mungkin ia belum benar-benar bangun. Ia menarik selimut sampai ke dada, lalu berhenti. Selimut itu juga sangat halus. Lebih halus dari kain sutra di toko kain Nci Midah. Itu bukan miliknya.
Amat lembut dan mengeluarkan kesan dingin kalau disentuh cukup dalam. Ia bahkan bersumpah dalam hatinya bahwa selimut ini lebih baik dibanding satu-satunya gaun pesta terbaiknya di dalam lemari tua di kamar kecilnya.
Ada aroma samar yang asing, sepertinya ini wewangian khas lelaki.
"ASTAGA!"
Lelaki! Ia jarang sekali berinteraksi dengan laki-laki kalau memang tidak ada perlunya. Nah sekarang mengapa bisa-bisanya ia bangun di kamar aneh besar ini yang perasaannya sudah menebak bahwa ini pasti adalah kamar lelaki.
Ia duduk seketika dengan mata melotot, mengintai seluruh ruangan di sekelilingnya, membuat rasa kantuknya sekejap lenyap.
Kamar itu sangat besar. Lebih besar daripada seluruh rumah yang selama ini ia tempati.
Di sebelah kiri ada dinding kaca yang membentang hampir dari lantai sampai langit-langit. Tirainya terbuka sedikit, memperlihatkan cahaya matahari pagi.
Kakinya turun dari tempat tidur, menyentuh lantai marmer yang sejuk dan mengilap. Jemari kaki perempuan itu merasa tergelitik, saling meremas satu sama lain merasakan pengalaman pertama menyentuh entah lantai apakah itu.
Saat sudah beradaptasi, barulah kaki-kaki kecil itu berani melangkah ke arah depan kaca yang membentang luas menghadap langit biru.
Matanya lebih melotot dari sebelumnya, sampai lupa caranya bernapas.
Kota Batavia yang dahulu ia kenal sekarang sudah menjadi Jakarta, terbentang jauh di bawahnya. Meskipun ia masih tidak tahu bahwa itu adalah kota yang sama seratus tahun yang lalu.
Gedung-gedung menjulang begitu tinggi hingga beberapa di antaranya terasa sejajar dengan tempatnya berdiri. Jalan raya dipenuhi benda-benda berwarna hitam, putih, merah, bergerak cepat seperti kereta tanpa rel.
Mobil.
Ia tahu itu mobil.
Tentu saja ia pernah melihat mobil, hanya beberapa kali saja. Tapi tidak sebanyak ini!
"ASTAGA!"
Kali kedua jantungnya seperti loncat dari tubuh. Bentuknya pun sangat jauh berbeda.
Tangannya mencoba menyentuh kaca dengan penuh keraguan. Sedikit berharap kalau-kalau ia sentuh siapa tahu semuanya langsung menghilang dan itu hanya imajinasinya saja.
Tapi tidak. Pemandangan itu masih tetap sama.
Mulut imutnya terbuka sedikit membentuk huruf O. Ia memang pernah membayangkan masa depan berulang kali sejak dari kecil. Bahkan surat semalam yang ia tulis untuk kedua orang tuanya sedikit membahas hal itu.
"Ibu, Ayah,
Hari ini aku kembali mengirim begitu banyak surat milik orang lain. Kadang aku heran, bagaimana rasanya punya seseorang yang menunggu surat kita tiba.
Aku baik-baik saja. Jadi kalian tidak perlu khawatir.
Tadi aku melihat sebuah mobil lewat di depan kantor. Kata Pak Willem, suatu hari nanti mungkin jalanan akan penuh dengan benda semacam itu.
Aku jadi berpikir, seperti apa dunia seratus tahun dari sekarang?
Mungkin perempuan bisa pergi ke mana pun sendirian. Mungkin orang tidak perlu menunggu berminggu-minggu hanya untuk menerima kabar. Mungkin malam pun akan terang seperti siang.