TENG NONG!
Kali ini sebuah bel khusus berbunyi nyaring, Mira tidak tahu entah di mana letak persis dari bel itu.
TENG NONG!
Bel berbunyi lagi, masih menyisakan sedikit gema membuat Mira memiringkan kepalanya, sekaligus kupingnya mendekat ke arah tembok di dekat pintu depan kamar Adrian.
TENG NONG!
Untuk ketiga kalinya telinga Mira masih belum menemukan posisi pasti dari bel tersebut. Kedua bola matanya berputar mencari-cari asal bunyi itu. Bagi perempuan jadul sepertinya, ia mengira ada semacam teknologi baru yang dapat membuat bel yang digetarkan oleh pelayan di luar berbunyi barengan dengan bel yang ada di dalam kamar Adrian.
Mungkin semacam persamaan frekuensi atau apa, ia pernah membacanya sekilas pada salah satu surat yang dikirim seorang dosen fisika kepada mahasiswa penelitiannya. Ya! resonansi frekuensi tepatnya.
Tapi imajinasinya itu kurang tepat, sangat jauh dari tepat malah. Pelayan tinggal menekan saja tombol di luar dan bel khusus keluar dari speaker tidak jauh dari kasur Adrian. Bel itu disiapkan kalau-kalau Adrian tidak menghiraukan bunyi ketukan pintu dari depan kamarnya.
Hal itu berarti bel khusus cuma diperuntukan untuk keadaan mendesak, seperti Adrian hilang, atau diculik. Atau tertukar tubuhnya dengan Mira dan terlempar ke tahun 1926, seperti saat ini.
"PAK ADRIAN!?"
Suara pelayan lelaki makin dekat. Masa bodo dengan rasa penasaran menemukan di mana letak sumber suara dari lonceng masa depan yang ada di bayangan Mira, ia sekarang berlari ke salah satu ruangan besar, tepatnya kamar baju Adrian. Ya, Adrian punya kamar besar lainnya yang masih terhubung dengan kamar utama, suatu ruangan besar untuk menyimpan baju-bajunya.
Mira yang sebelumnya sempat masuk ke kamar baju saat mencari barang untuk mengganjal pintu, masih saja merasa takjub saat melihatnya. Ia berpikir bagaimana mungkin orang di masa depan bisa mempunyai satu ruangan sebesar ini hanya untuk menyimpan baju. Hanya untuk SATU ORANG, Adrian, yang belum ia tahu wajahnya seperti apa. Tetapi sebentar lagi ia akan mengetahuinya.
Di zamannya, ruangan sebesar ini bisa menjadi gudang makanan ataupun karung beras yang dapat disusun hingga dapat memberi makan satu kampungnya selama berbulan-bulan. Ditambah lagi bukannya di masa depan pasti semua manusia bertambah banyak? Seharusnya mereka menggunakan ruangan sebijak mungkin. Tidak menghabiskannya hanya untuk satu orang saja.
Hey! Ruangan ini bisa menjadi tempat tinggal satu keluarga, ayah, ibu, mungkin satu anak saja cukup. Alih-alih hanya menjadi ruangan tempat menaruh pakaian Adrian.
Bel kembali berbunyi diikuti suara pelayan yang berangsur membesar meneriaki nama Adrian.
Mira cepat-cepat memilih pakaian laki-laki yang cocok untuk dirinya. Diambilnya celana chino berwarna cream yang ia kira pas. Kenyataannya karena tinggi Adrian lebih dua puluh centimeter darinya, Mira hanya 165 cm dan Adrian 185 cm, membuat bagian bawah celana cream memanjang melewati kedua kakinya. Tidak ambil pusing, dengan cepat Mira menggulungnya rapih.
Ditambah kemeja putih pria yang kebesaran terkatung-katung membuat dirinya merasa aneh melihat pantulan di cermin besar. Ia berpose tersenyum spontan mengangkat kedua tangannya memberikan angka dua, saat bel depan berdentang dua kali juga beriringan lebih cepat.
Mira tersadar lagi bahwa ia sedang diburu. Mata seorang wanita memang dari zaman ke zaman pasti selalu memiliki insting yang kuat jika melihat susunan pakaian apapun itu, langsung menemukan bagian kumpulan jaket di lemari Adrian. Ia senang karena jaket-jaket Adrian kurang lebih kebanyakannya bertipe hoodie, cocok dengan warna hitam, ia langsung mengambilnya. Warna itu kesukaan mereka berdua.
Baginya jaket bertipe hoodie itu seperti mantel kepunyaannya yang bertudung besar. Bedanya jaket ini lebih halus, mempunyai empat lubang. Sementara mantel tudungnya hanya punya satu lubang saja. Mira masih mengacak-acak jaket itu, menebak-nebak cara yang nyaman untuk memakainya. Untung saja kesukaanya pada fashion membuatnya memakai jaket itu dengan baik dan benar.
Yap sekarang satu setel pakaian Adrian dengan campuran sentuhan fashion darinya sudah mengait ditubuhnya. Terasa hangat padahal ruangan ini sangat dingin.
Dari depan suara pelayan terdengar sedikit ke telinga Mira.
"Baik pak sekuriti tolong sekarang ke kamar Pak Adrian!"
Celaka! Mereka akan mulai menerobos masuk. Mira tidak habis akal. Ia bersembunyi kembali di belakang jam bandul tua besar, yang posisinya mengarah ke tempat tidur Adrian. Jikalau si sekuriti atau siapalah yang disebut namanya tadi oleh pelayan melihat tempat tidur Adrian kosong, lalu mengarah ke ruangan yang lebih dalam, dirinya bisa keluar dari belakang jam bantul tua itu dan langsung menuju pintu keluar. Hmmm tapi tidak segampang itu sepertinya.
Terdengar suara gebrakan dari balik pintu.
BRAK! BRAK! BRAK!
Sialnya bagi si sekuriti—atau justru beruntung bagi Mira—kartu akses cadangan kamar Adrian malah tertinggal di control room.
Entah bagaimana, di tengah keadaan yang dianggap mendesak, sekuriti justru melupakan satu benda yang paling dibutuhkan. Mungkin karena sekuriti juga buru-buru tadi.
Apartemen Adrian sebenarnya masih berada di gedung hunian umum, hanya saja kelasnya termasuk yang paling tinggi di Jakarta. Ayahnya pernah menawarkan satu gedung apartemen mewah khusus untuk Adrian seorang, tetapi Adrian tolak mentah-mentah.
Adrian tidak suka hidup terlalu berlebihan.
Komprominya, sang Ayah tetap menyewa satu lantai penuh dan merombaknya khusus untuk anak tunggalnya itu.
Ya, tetap berlebihan juga sebenarnya.
Kembali ke si sekuriti yang sekarang hanya punya satu pilihan.
Mendobrak pintu.
BRAK!
Gedung semewah ini punya sistem keamanan canggih di mana-mana, tetapi pada akhirnya tetap saja kembali ke cara paling kuno.
Pakai tenaga.
PRANGGGG!!!!!!!!
Pintu akhirnya terbuka juga bersamaan dengan vas antik milik Adrian yang pecah, terjatuh dari atas meja yang mengganjal pintu. Mira terkaget dari balik jam bantul tua.
Sekuriti dan pelayan lelaki masuk menghiraukan beling-beling vas yang berceceran dan langsung menuju kasur Adrian. Seandainya mereka berdua tahu kalau Adrian sangat menyayangi barang-barang antiknya itu, pastilah mereka berdua sangat menyesal. 99% setelah Adrian mengetahui ini, ia akan memecat kedua pegawai tersebut.
Dua pegawai lelaki itu sampai di kasur Adrian, mereka tidak melihat batang hidung tuannya itu. Kemana perginya? Ruangan itu terlihat berantakan, apalagi sisa piring-piring makanan dan minuman yang sudah kosong dan pengganjalan paksa pintu di depan tadi menandakan terdapat seseorang penyusup di kamar ini.
Kedua lelaki yang sudah memasang wajah bringas langsung menelusuri ruangan yang lebih dalam. Mereka berdua tidak curiga sedikitpun pada jam bandul tua kayu, yang di belakangnya menyimpan gadis lugu nan cantik dari masa lalu, sedang bergetar sedikit tangannya mencoba untuk tetap tegar.
Adrenalin Mira kembali memuncak, setelah ia melihat kedua lelaki yang mencarinya sudah tidak terlihat dan cukup aman. Adrenalinnya menuntunnya keluar dari tempat persembunyian. Ia berlari pelan menuju luar.
Kaki-kaki kecil Mira tidak meninggalkan bunyi sama sekali. Tepat di samping pintu keluar, terdapat pula rak sepatu Adrian yang cukup besar. Berjejer sepatu-sepatu lelaki yang kebanyakan sneaker. Mira mengambilnya dengan cepat, sneaker yang berwarna hitam, dan menentengnya. Tidak ada waktu untuk memakainya.
Ketika di luar kamar, Mira bertemu dengan lorong panjang dari apartemen itu sementara kedua lelaki yang mencarinya masih di dalam dan belum menyadari keberadaannya. Kakinya merasakan karpet lorong apartemen yang menggelikan, dan agak dingin.
Sudah berjalan cukup jauh, ia melihat di atas langit-langit lorong bertuliskan:
<- Tangga Darurat - Lift ->
berwarna hijau terang.
Dia harus menuruni tangga karena ia tahu dirinya saat ini berada di suatu bangunan tinggi di atas langit. Berbeloklah kedua kakinya ke arah kiri. Tetapi apa yang ia lihat di depan, tembus melalui kaca dari pintu tangga darurat, seseorang lelaki sedang berdiri menghisap suatu benda yang ia tahu mirip dari 100 tahun lalu bernama rokok.
Ternyata benda itu masih ada seratus tahun kemudian meskipun kegunaannya kebanyakan negatif. Rokok saja ada, permen kapas kesukaannya pastinya juga bertahan hingga 100 tahun kemudian, gumam hatinya tidak sabar ingin segera bertemu dengan permen kapas pertamanya di tahun 2026. Tapi sebelumnya ia harus kabur dahulu dari dua lelaki yang mengejarnya.
Jadi kembali ke tujuan awal Mira yang ingin turun lewat tangga itu. Ia menghentikan langkahnya.
GAWAT! Bagaimana ini, ia tidak bisa semena-mena melewati lelaki itu takut-takut jika lelaki itu komplotan orang bernama sekuriti tadi. Mira masih mengira 'sekuriti' adalah nama dari seorang manusia.
Putar balik dengan sigap.
Seingatnya arah yang berlawan dari arah ini adalah menuju lift.
Apa itu lift? Bagi wanita muda berumur 22 tahun yang hidup sederhana dan sebatang kara di Batavia, tidak akan pernah merasakan apa yang namanya lift. Meskipun feelingnya memastikan pernah mendengar kata itu di antara selipan kalimat pada ribuan surat yang ia khilaf—iseng dibacanya hanya untuk menghilangkan rasa bosannya pada hari-hari tertentu.
Mira berjalan cepat menuju lift masih dengan menenteng sepatu sneaker Adrian. Dilihatnya dari kejauhan hanya ada ujung lorong yang berisikan sebuah pintu besi, tanda panah atas-bawah di bagian atas pintu besi itu dan di sebelah kanan juga.
Panah atas-bawah di bagian atas disandingkan dengan suatu nomor yang lama-lama mengecil nilainya.
56.
55.
54.
53.
Diikuti dengan panah ke bawah yang menyala berkedip-kedip perlahan.
Lima dua, lima satu, lima puluh. Mira ikut menghitung. Apa ini? Ia mencoba berjalan maju hingga hidung mancungnya menempel pada pintu besi, lalu diam sejenak.
Kemudian ia berjalan mundur dua langkah, maju lagi hingga mentok, mundur lagi.
Ia hanya mengikuti tanda panah itu yang menunjukan atas-bawah, benaknya mengartikan mungkin maju-mundur. Toh tanda panah kiri-kanan dari tangga darurat dan lift tadi juga memberikan arti belok kiri dan belok kanan. Seratus tahun, tidak ada yang berubah, selalu seperti itu jika urusannya arah penunjuk.
Hmmm tetapi ini tidak bekerja. Ia kira entah suatu cara modern apa yang mungkin saat ia melakukan gerakan maju mundur tadi dapat membawanya langsung ke tanah, ke bagian paling bawah gedung.
TELEPORTASI!