100 Tahun

Awal Try Surya
Chapter #4

Masa Depan Membutuhkan Uang

Mira baru mengetahui satu hal tentang masa depan yang tidak pernah diceritakan buku-buku.

Selain masa depan pasti tetap membutuhkan matahari yang saat ini sudah mulai beranjak ke atas kepala Mira, masa depan juga membutuhkan uang.

Ia pun barusan terheran-heran. Entah itu dengan sebuah teknologi yang bisa menampilkan gambar dirinya yang bergerak, atau... dengan ketampanan Adrian yang tadi ditunjukkan teknologi itu.

Ahhh yang pasti ia takjub dengan teknologi yang disebut orang-orang 2026 sebagai benda tipis bernama 'televisi' . Bukan malah dengan wajah dari lelaki yang bisa-bisanya membuat dirinya bergumul dan tersesat sebatang kara saat ini, di masa depan. Eh tapi dirinya kan memang sudah sebatang kara dari dahulu.

Tapi sebatang kara kali ini jelas berbeda. Tidak ada uang, dikejar oleh para polisi maupun sekuriti pula dari semenjak ia terbangun. Mira yang merupakan pembelajar cepat sudah tahu kalau sekuriti adalah sebutan seperti petugas keamanan, layaknya polisi.

Ia juga membayangkan Adrian yang terbangun di kamarnya sudah bersenang-senang berwisata menjelajahi masa lalu berkat mesin waktu milik Adrian yang berhasil, dan harus mengorbankan dirinya ini yang hanya gadis lugu.

Dalam hati Mira berjanji, awas saja kalau nanti dia bertemu dengan Adrian lewat cara apapun itu, ia akan menuntut sebesar-besarnya pada Adrian karena telah menjadikannya sebagai objek uji coba mesin waktu. Mungkin dengan memintanya untuk menikahi dirinya—ehhh tuntutan macam apa itu yang diberikan oleh hatinya.

Jadi intinya Mira berasumsi kalau Adrianlah yang membuat mesin waktunya sendiri karena siapa tahu memang di tahun 2026 para manusia masa depan ini sudah dapat membuatnya. Padahal Adrian sendiri masih belum tahu mengapa dia bisa terlempar ke masa lalu.

Mira masih termenung, berdiri di depan sebuah toko besar yang menjual seluruh produk makanan, minuman, dan lain sebagainya (orang-orang 2026 menyebutnya minimarket). Ia masih seperti kebingungan, dipaksa harus memproses seluruh informasi secara cepat. Sudah hampir setengah jam seperti itu setelah meninggalkan toko televisi tadi.

Sekarang perutnya mulai lapar. Di tahun 1926 ia jarang sekali lapar dan bisa makan hanya satu kali saja sehari, untuk menghemat juga. Sedangkan di masa depan ini, dia baru saja menghabiskan satu paket makanan besar untuk lelaki yang mulai dirinya kesali. Ya meskipun porsinya kecil juga sih. Apa jangan-jangan karena ini bukan dunia aslinya, metabolisme tubuhnya jadi ikut terganggu. Entahlah. Masih banyak pertanyaan hinggap di benaknya yang ia tahu tidak butuh jawabannya sekarang. Ia harus menemukannya secara sabar satu per satu.

Dari dalam minimarket yang temboknya hampir seluruhnya terbuat dari kaca, Mira melihat seorang perempuan membawa keranjang yang di dalamnya terdapat roti-roti terbungkus plastik, botol-botol minuman berwarna-warni, dan makanan yang bahkan tidak ia tahu namanya. Perempuan itu kemudian seperti melakukan transaksi dengan seorang perempuan lainnya yang sepertinya penjaga toko itu—tanpa sekalipun mengeluarkan uang.

"Apa di 2026 makanan-minuman dasar seperti itu sudah di gratiskan?"

Tanya Mira dalam hatinya sembari lanjut menjawab pertanyaannya sendiri,

"Ya mungkin karena saking majunya peradaban manusia dan makanan melimpah ruah, sebagiannya jadi diGRATISkan. Hey bahkan Adrian saja mempunyai ruang baju sebesar gudang! Wah kalau betul begitu mengapa dari setadi aku tidak langsung saja memasuki toko itu."(Sebenarnya pemikiran Mira tentang makan gratis itu sudah diimplementasikan manusia masa depan namun ternyata hal itu kurang efektif.)

Baru saja Mira ingin melangkahkan kakinya untuk masuk, perempuan tadi mengeluarkan suatu kartu kecil dan diberikannya kartu itu ke penjaga toko. Tidak lama kemudian penjaga toko seperti melakukan satu dua gerakan yang Mira sendiri sama sekali tidak mengerti maksudnya. Perempuan penjaga toko itu bermain-main dengan suatu alat di depannya, mengetiknya, dan perempuan si pembeli juga ikut mengetik di alat itu. Setelahnya, mereka berdua saling tersenyum dan kartu kecil itu kembali ke pemiliknya. Perempuan itu pergi sambil membawa makanan-minuman belanjaannya yang telah berpindah tempat pada tas tentengnya yang lain.

"What the f*ck is that?" Mira mulai bergumam sok bahasa inggris. Terkadang memang ia sesekali belajar bahasa inggris dari bacaan surat-surat di tempat kerjanya.

Daripada tenggelam dalam seribu pertanyaan, Mira menyiapkan dirinya untuk melakukan adegan berbahaya dari masa depan tadi yang sama sekali tidak ia pahami. Namun, perempuan tadi yang telah berada di luar toko juga berhenti sejenak, menatapi Mira dengan aneh. Mira tahu tatapan itu. Dengan cepat Mira menepi ke samping toko. Ia berniat membalik jaket Adrian yang dikenakannya—jaket dua sisi yang bisa dipakai luar-dalam—agar tampilannya sedikit berbeda. Ia tidak sempat mengganti pakaian. Perutnya sudah lapar dan untungnya jaket Adrian itu memang reversible sesuai trend di 2026 saat itu.

Dengan warna jaket yang sudah berubah dari hitam menjadi hijau dongker perasaan Mira menjadi lebih tenang, tidak takut diintai seperti tadi. Saat ia sudah sepenuhnya berhasil membalik jaket itu, suatu kantong yang sebelumnya tidak ia sadari ada pada posisi tangan kanannya menyembulkan suatu tonjolan. Di kantong tersembunyi itu ia menemukan semacam dompet lelaki berkulit buaya yang ia tebak pasti milik Adrian.

Adrian memang sering menyelipkan berbagai macam dompetnya di berbagai macam jaket yang sering dipakainya jika sesekali ia ingin kabur mendadak dari Ayahnya dan urusan bisnis. Isinya bukan cuma uang tunai, melainkan kartu e-money dan kartu debit dengan saldo bisa dibilang sangat lebih dari cukup melalui rekening-rekening pribadi yang sengaja ia pisahkan dari urusan perusahaan dan keluarga.

Jadi sesekali ia bisa pergi ke mana pun tanpa Ayahnya yang harus selalu mendikte setiap langkahnya. Rekening-rekening itu Adrian perintahkan kepada bawahannya untuk dirahasiakan pada Ayahnya. Ia menganggap cara itu praktis—tinggal ambil jaket, dompet pelarian yang disiapkan sudah mengikut.

Lihat selengkapnya