“Kehidupan yang baru hanya akan memperbarui rasa sakit di masa lampau.”
‡ 10A(n)ger Story ‡
{ivorygs}
•~ (Re)-New Life ~•
Seorang gadis dengan seragam sekolahnya sedang asik mengutak-atik ponsel seraya mengunyah permen karet tak sudi. Surai legam dengan potongan sebahu terurai indah dan tampak bersinar kala sinar matahari menerpanya.
Semua mata tertuju padanya, banyak orang berbisik mengenai dirinya yang terlihat mengerikan, dan ada juga orang yang mengatakan bahwa dia cantik. Luciana tak menggubrisnya sama sekali dan terus mengikuti petunjuk dari ponselnya.
Mengandalkan benda mati untuk menunjukkan arah yang benar dapat membuat otaknya semakin bodoh, begitulah yang dipikirkan oleh Luciana Preziosa. Tapi apalah daya, pria brengsek itu terlebih dahulu pergi meninggalkannya tanpa memberikan sedikit petunjuk mengenai kehidupan baru yang akan ia jalani.
“Anda sudah sampai di tujuan anda.”
Begitulah kira-kira kata yang dilontarkan operator saat kedua kakinya berhenti tepat di gerbang sebuah sekolah yang tampak asing baginya.
“SMA Albany?”
Luciana menggulir netra kecoklatannya pelan untuk melihat pemandangan sekolah yang akan dikunjunginya satu tahun ke depan. Dahinya tertekuk, sangat sebal dengan wajah pria paruh baya dengan setelan jas rapih yang baru saja keluar dari mobil sedan mewah berwarna hitam legam.
Bahkan dari jarak yang cukup jauh, Luciana sungguh yakin orang itu adalah Ziosa, pria menyebalkan yang menghancurkan seluruh kehidupannya.
Luciana memuntahkan permen karet dari mulutnya seraya berkata, “Rasa manisnya sudah hilang sekarang.”
Dia mempercepat derap langkahnya dan menghampiri Ziosa yang tampak menyambutnya dengan sebuah senyuman. Bukannya membalas senyuman itu, Luciana malah melemparkan sebuah tinjuan pada perut pria menyebalkan itu.
“Apakah kau sudah bisa menggunakan ponselmu, Luciana? Kau bisa menjangkau informasi dari manapun hanya dengan menggunakan ponsel ini,” ucap Ziosa tanpa dosa sedikitpun.
Luciana mendengus sebal seraya menepuk dahinya seolah putus asa menghadapi Ziosa. Pria ini terlalu bodoh karena membiarkan putrinya berjalan sebagaimana orang dungu, sedangkan ia menancap pedal gas mobilnya padahal mereka pergi ke tempat tujuan yang sama.
“Oh, jadi hanya untuk menguji fitur ponsel? Berarti aku bisa pulang sekarang.”
Ziosa buru-buru menarik lengan Luciana, belakangan ini gadis itu sering memberontak kepadanya. Berkali-kali Luciana memberontak dan menyumpahi Ziosa saat mengetahui dirinya telah didaftarkan ke sekolah tanpa sepengetahuannya sendiri.
“Ayolah Luci, kau harus sekolah.”
“APA-APAAN NAMA PANGGILAN ITU?!”
Ziosa melipatkan kedua tangannya di dada seraya memikirkan nama panggilan apa yang cocok untuk putrinya ini. “Bagimana aku harus memanggilmu? Luciana? Luci? Ciana? Ana? Uci? Lucifer?”
“Seharusnya kau tidak memberiku nama sewaktu aku lahir dulu.”
“Kau harus sekolah,” final Ziosa.
Luciana melenguh malas, kini ia benar-benar putus asa dengan takdirnya yang sudah terkontaminasi dengan tangan ayahnya. Ziosa mengatakan padanya untuk hidup bebas dan bahagia, lantas mengapa kini pria itu merenggut kebebasan yang baru saja ia dapatkan beberapa hari lalu? Entahlah, terkadang pria tua itu sudah gila sekarang, pikir Luciana.
Pasrah. Kini ia hanya bisa mengikuti setiap langkah pria itu layaknya seorang gadis yang membenci setiap napas yang ia hirup dari tempat ini, tapi sejujurnya dia sudah tak sabar menantikan kebencian yang akan datang dan menyiksanya sampai mati.
“Masa-masa sekolah adalah masa paling indah ‘huh?”
Luciana menengadahkan kepalanya ke atas langit biru menatap kebebasan yang akan menyongsongnya sesaat setelah segenap jiwa bersatu dengan kematian.
Tiada hal baru, ataupun kebahagiaan yang singgah dalam waktu-waktu belakangan yang teramat singkat. Hidup yang dipenuhi dengan penderitaan hanya sedang terjeda dalam tempo yang sangat singkat dan kini penderitaan baru telah datang untuk menggerogoti segenap jiwa dan raganya.
“Kini, penderitaan baru telah hadir untuk menyiksaku sampai kedua mata ini tak mampu lagi menatap langit biru.”
***
Stanzelio mempercepat derap langkahnya sembari menggenggam erat buku-buku yang diserahkan Ibu Gabriela kepadanya. Jantungnya berpacu sangat cepat, entah karena berlarian atau karena terlalu girang akan kabar yang Ibu Gabriela wartakan padanya.
“Lio, ambil dan bagikanlah buku ini kepada teman-temanmu. Ibu harus bertemu dengan orang tua dari siswa baru yang akan jadi bagian kelas kita.”
Stanzelio Tryzzn, pemuda dari kelas 11-2 yang kerap disapa Zelio, menjabat sebagai ketua kelas dan salah satu anggota komite siswa. Keaktifannya sebagai anggota tim sepak bola semakin mendongrak popularitasnya di kalangan sekolah. Selain memiliki paras yang tampan, Zelio juga memiliki tingkah laku yang sangat baik sehingga semua kalangan sangat menyukainya.
“Aku harap itu dirimu.”
Sebuah senyuman manis langsung terpatri di wajahnya setelah kilas balik kejadian hinggap di benaknya sesaat. Pertemuan yang terjadi dengan singkat dengan gadis pemberontak di atap kondominium itu mampu membuat dirinya bertanya-tanya akan gadis. Jikalau takdir memberikannya kesempatan untuk bertemu kembali dengan gadis itu sekali lagi, Zelio tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Aku harus menjadi pacarnya! Atau mungkin teman ... teman hidup! Haha,” ucap Zelio seraya cengar-cengir bak orang gila.
Nahas, tingkah laku gilanya tak sengaja disaksikan oleh Leonardo Zenoversa, sahabatnya. “Najis banget cengar-cengir gitu.”
Leonardo Zenoversa atau kerap dipanggil Zeno merupakan pemuda paling tampan sekaligus paling cuek di sekolah. Dia banyak menghabiskan waktunya untuk bermain game online dan menonton film seraya bersantai di rumah. Walaupun suka bermalas-malasan, Zeno sangat bersemangat bila diajak bermain bola. Kemampuan dan fisiknya yang unggul dalam bermain sepak bola mampu membuat Zeno terpilih menjadi kapten sepak bola di sekolah.
“Mau ke mana Zen? Kan bentar lagi masuk. Nanti gadis-gadis itu pada nempel loh,” tegur Zelio.
Zeno mengumpat sarkas seraya menggerakkan jari-jari untuk menembaki setiap musuh yang ada pada layar ponselnya. “Kalah kan! Niatnya pengen numpang Wi-Fi di kelas sebelah, eh keburu kalah karena ngobrol sama Zelio si setan!”
Zeno segera mengantongi ponselnya, kemudian meraih beberapa buku yang digenggam erat oleh Zelio sedari tadi.
Zeno terkekeh, geli dengan tingkah laku sahabatnya hari ini. Beberapa hari yang lalu, mereka sudah berikrar untuk menyibukkan diri dengan pelajaran dan melupakan urusan percintaan. Tapi kini, Zelio seolah-olah lupa akan janji yang telah dibuatnya bersama dengan Zeno.
Lamat-lamat Zeno berpikir, agaknya gadis seperti apa yang mampu memikat hati Zelio?
Zelio menghentikan langkahnya kala melihat tingkah laku Zeno yang teramat aneh hari ini. Agaknya apa yang merasuki Zeno hingga senyum-senyum tak karuan seperti ini? pikir Zelio.
“Kau baru saja kalah, dan kini kau tersenyum lebar bak kesetanan. Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Zen?”
Zeno mengerucutkan bibirnya seraya meletakkan buku ke atas meja, kemudian segera duduk ke bangkunya. “Tidak ada. Seharusnya aku yang harus mempertanyakan hal itu!”
“Ada apa nih Zen, Zel. Cerita dong, payah ah!” potong Alfranez dengan rasa ingin tahu yang membabi-buta.
Alfranez Kenbarack atau kerap dipanggil Anes merupakan satu-satunya gadis yang mampu berinteraksi dengan bebas dengan Zeno. Anes memiliki sifat yang ramah hingga membuatnya mudah berteman dengan siapa saja. Dia menaruh kepedulian yang besar kepada sahabat-sahabat terdekatnya. Rambut keriting dengan potongan sepinggang, serta netra hazel miliknya merupakan sebuah kombinasi yang dikagumi oleh berbagai kalangan di sekolah.
“Bacot, Nes! Urusan cowok, cewek diem aja. Kalau mau gosip tuh gabung sama rombongan Richard,” bentak Zeno seraya menunjuk beberapa orang yang tengah bergosip.
Alfranez menghempaskan jari telunjuk milik Zeno kemudian menatap lekat-lekat wajah pemuda itu dengan raut wajah yang sebal. “Udah berapa kali kubilang sama kamu, Zen. Aku itu gak suka menjelek-jelekkan orang, aku itu cuma pengen bantu atau dengerin curhatan kalian gitu loh!”