Beberapa menit kemudian Agus sudah kembali dengan membawa jas yang di maksud dan menaruhnya diatas meja.
Alpha keluar dari kamar mandi mengenakan celana boxer dan handuk di bahunya.
“Gus yang lu ambil cuman jasnya doang? Kemejanya kagak lu ambil?” tanya Alpha pada Agus.
“Iya, kan lu bilangnya cuman jas.”
“Lu ada kemeja gak Ki?” tanya Alpha kepada Kiki yang sedang bermain game di handphonenya.
“Ada, di lemari atas barisan kedua sebelah kanan yang warna putih sama sekalian dasinya ada disitu juga,” jawab Kiki.
Alpha berjalan menuju lantai dua untuk mengambil kemeja dan dasi yang dimaksud oleh Kiki, ia turun kembali menuju lantai satu untuk mengenakan pakaiannya.
Ia melihat ke arah jam tangannya dan waktu menunjukkan jam setengah tujuh malam.
“Doain gua yah,” ucap Alpha pada mereka.
Ia memacu sepeda motornya menuju rumah Putri dengan perasaan yang campur aduk, rasa takut, marah, sedih, dan putus asa menemaninya sepanjang perjalanan menuju rumahnya.
Hembungan angin yang mengenainya, sedikit meredakan amarah dalam dirinya yang tak tahu entah akan ia luapkan kemana.
Di teras depan rumahnya, ada banyak orang dan mobil milik saudaranya terparkir dipinggir jalan.
Alpha berhenti tepat di seberang jalan rumahnya, ia melepaskan helm yang di kenakan lalu menaruhnya di tanki bensin dan kemudian mematikan mesin kendaraannya sambil duduk diatas sepeda motor menghadap ke arah rumah Putri.
Ia merogoh sakunya untuk mengeluarkan rokok dan korek api seraya menyalakan rokok tersebut dan menghisapnya, sembari mengamati setiap orang yang ada di rumah itu sambil berharap Putri melihatnya lalu menghampirinya.
Satu dari sekian banyak kemungkinan, tanpa sengaja ketika Putri keluar dari pintu rumah, ia melihat Alpha berada di seberang jalan sembari duduk diatas sepeda motornya dan Putri menghampirinya dengan masih mengenakan riasan pengantin yang terlihat sangat menawan.
Alpha yang melihatnya berjalan menghampirinya, membuang rokoknya ke tanah dan mematikannya dengan cara diinjak.
Dengan emosi yang meluap-luap dan air mata yang tak terbendung, ia membentaknya dengan kasar dan keras. “Ngapain kamu kesini? Kan Mbak udah bilang jangan menemui Mbak lagi!” sambil menesteskan air mata yang tergambarkan jelas bahwa dia masih mencintainya apapun yang terjadi.
“… ….”
Alpha hanya diam tidak menjawab ucapan dari Putri, ia yang masih terduduk diatas sepeda motor tak mampu berkata-kata dan hanya menatap wajahnya sambil tersenyum.
Bagaimana bisa kamu tersenyum seperti orang bodoh disaat seperti ini? Bagaimana bisa? Tanya Putri dalam hatinya.
Alpha berdiri dan mencoba mendekapnya, namun tangannya berhenti dibelakang punggung Putri tanpa menyentuhnya.
“Pergi … Pergi!” sambung Putri penuh isak tangis sambil memukul dan membenamkan wajahnya di dadanya.
No matter how hard you hit or pushed me away, you're the one whose getting hurt. ucap Alpha dalam hatinya.
Alpha menarik lengannya dari belakang punggung Putri dan mengusap air matanya. “Stop crying, okay?” tanyanya dengan lembut sambil tersenyum.
Putri kembali menatap Alpha yang masih tetap tersenyum semakin membuat dirinya merasakan sakit karena apa yang ia harapkan tidak terjadi, dan dia menutupi wajahnya sendiri dengan telapak tangannya.
Alpha yang masih tersenyum mengelus kepalanya. “It’s okay,” ucapnya dengan pelan dan hanya mereka berdua yang mampu mendengarnya.