1121681

Delta
Chapter #46

1-9-1415 E

Anna sedang melamun didalam kelas ketika temannya memanggil. “Anna!” teriak Ira menarik baju Anna.

“Hah, ya, kenapa?” tanya Anna terperangah dari lamunannya.

Karena dari semalam sehabis mereka berpamitan untuk pulang, Anna sulit di hubungi. “Dari tadi di panggil malah diam, kamu kenapa? Semalam juga di chat gak dibalas, ditelepon gak diangkat,” keluh Ira yang merasa diabaikan olehnya.

“Handphone, laptop, dompet, sama tasnya ilang semua, sedih banget,” jawab Anna dengan wajah muram.

Ira ikut merasa sedih atas kejadian yang menimpa sahabatnya. “Terus gimana? Padahal di laptop kamu ada banyak drakor yang belum aku tonton.”

“Malah sayang sama drakornya, gak ada akhlak emang kamu yah wati, hahaha.”

“Udah ngasih tahu mamah kamu soal ini?” tanya Ira.

“Belum, kan handphonenya ilang.”

“Bener juga yah."

“Pinjem punya kamu yah, mau ngabarin mamah, nanti beres itu kita ke kantor polisi sama bank, ngurusin barang-barang yang ilang,” ucap Anna kepadanya.

“Yuk.”

Mereka berdua berjalan keluar kelas sambil menceritakan kejadian yang di alami oleh Anna kemarin.

Beberapa hari kemudian Alpha yang sudah agak baikan, sedang duduk di kantin dengan ditemani oleh sahabatnya sambil merokok dan berbincang.

“Tumben juga lu pakai baju tangan panjang, tangan lu udha sembuh?” tanya Radin kepada Alpha yang sedang menghisap rokok.

“Belum, udah agak mendingan sih, malu kalau pakai tangan pendek, kesannya mau pamer tato,” tukas Alpha memberitahukan kondisinya. “Lagian udah seminggu juga, udah agak kering lukanya."

Saat sedang mengobrol, kursi Radin tersenggol oleh mahasiswa lain. “Kagak pernah sepi emang kantin ini, rame banget kek pasar malam,” tukas Radin sambil melototi orang yang menyenggolnya.

“Lu tahu sendiri dimari favoritnya, udah Din malu,” tukas Alpha mencoba menenangkannya. “Kagak kerasa udah tiga tahun kita kuliah dimari, kakak tingkat yang gua kenal cuman Kiki doang.”

“Lu mah enak ganteng, mau berteman sama siapa aja bisa,” sindir Radin kepadanya. “Lah gua? Tiap mau ngajak berteman pasti dikira bandar judi togel," sambungnya sembari menghela nafas karena setiap kali ia berkenalan selalu saja disangkut-pautkan dengan organisasi kriminal.

“Tapi lu tetap teman gua, coba telepon Kiki, Agus, sama Jack suruh kemari.”

“Kagak usah, Jack gak bakal datang kalau bukan hal penting, sekarang dia sama Rose terus,” tukas Radin yang meresa kesal karena Jack tak punya waktu untuk berkumpul seperti dulu, dan sebagian waktu luangnya hanya dihabiskan bersama dengan Rose.

Radin merain handphonenya yang berada diatas meja dan mengirim pesan teks kepada mereka berdua.

Tak berapa lama kemudian mereka datang dan memesan minuman sembari duduk.

Kiki mendapatkan informasi terbaru menyangkut hobi mereka. “Gua dengar katanya tiga bulan lagi ada festival musik, ikutan ayo," ajak Kiki kepada mereka.

“Nah ini, gua demen pembahasan kayak gini,” tukas Agus bersemangat.

“Ayo, gua bagian vokalis yah, gimana?” tanya Radin.

“Gak, gua yang vokalis.”

“Suara lu berdua gak memadai, gimana kalau gua aja?” tanya Kiki dengan penuh percaya diri.

Lihat selengkapnya