12 Jam Di Jakarta

Ahmad Barnash
Chapter #1

Salah Halte

Kamera ini berat, tapi itu satu-satunya hal yang bikin gue merasa punya kendali.

Gue mengintip lewat viewfinder Fujifilm manual kesayangan gue, mengatur fokus ke arah aspal jalanan Harmoni yang mulai memantulkan panas matahari jam tujuh pagi. Bunyi klik mekanisnya selalu menenangkan. Itu cara gue memproses dunia: membingkainya dalam kotak kecil, membekukannya, lalu menyimpannya biar nggak hilang.

Dua belas jam lagi. Sisa waktu gue di kota ini sebelum gue diseret naik pesawat ke Belanda bareng nyokap-bokap. Rencana gue hari ini simpel banget: jalan sendiri, motret sudut-sudut Jakarta, dan yang paling penting—nggak usah ngerasain apa-apa. Gue udah latihan berhari-hari buat mati rasa. Anggap aja ini cuma hunting foto biasa.

"Anjir," umpat gue lirih waktu menurunkan kamera.

Gue melihat papan rute di atas kepala. Saking fokusnya nyari komposisi visual lewat lensa, gue malah naik bus yang salah dan berujung turun di Halte TransJakarta Harmoni. Benar-benar di luar rencana.

Gue mendesah jengkel, melirik jam tangan. Sialnya lagi, ada pengumuman lewat speaker kalau bus arah tujuan gue berikutnya bakal telat sekitar empat puluh menit karena ada kendala teknis. Sempurna. Dua belas jam gue yang berharga harus kepotong di halte yang pengap ini.

Gue memutuskan duduk di bangku panjang halte, berniat mengabaikan dunia. Tapi ruang kosong di sebelah gue ternyata udah diisi.

Ada seorang cowok seumuran gue, penampilannya kasual banget—kaus polos, jaket jins belel, dan sepatu kanvas yang warnanya udah agak pudar. Di tangannya ada sebuah buku fiksi tipis. Gue sempat melirik kavernya waktu dia membalik halaman: Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Hari gini, cowok umur 18 tahun baca ginian di halte bus? Bukan buat tugas sekolah pula, keliatannya.

"Bagus ya?"

Gue tersentak kecil waktu cowok itu tiba-tiba menoleh dan bersuara. Suaranya agak serak, tapi pembawaannya santai banget.

Lihat selengkapnya