12 Jam Di Jakarta

Ahmad Barnash
Chapter #2

Bab 2 — Pemandu Palsu

"Gue nobatkan diri gue sebagai tour guide resmi lo hari ini," kata Bram begitu kaki kami menginjak tegel berbatu di kawasan Kota Tua. Matanya berbinar penuh percaya diri, padahal dari tadi dia cuma modal nekat ngintilin gue dari halte Harmoni.

Gue mendengus, membetulkan posisi tali kamera analog gue yang mulai terasa berat di leher. "Pemandu palsu yang ada. Lo bahkan nggak tahu jalan pintas keluar dari stasiun tadi."

"Hey, itu namanya mengeksplorasi estetika labirin stasiun, Sari," kilah Bram santai, sama sekali nggak keganggu sama ketus gue.

Matahari jam sembilan pagi mulai terasa menyengat di ubun-ubun, membakar aspal dan bangunan tua bergaya kolonial di sekeliling kami. Di depan Museum Fatahillah, keramaian Jakarta yang familier mulai terasa: kepulan asap dari abang-abang kerak telor, tawa anak-anak yang menyewa sepeda ontel warna-warni, dan riuh rendah suara manusia.

Gue mengangkat kamera, membidik fasad museum yang megah tapi kusam dimakan waktu. Di dalam kotak penemu fokus, Jakarta kelihatan begitu tenang, seolah waktu bisa berhenti di sana.

Lihat selengkapnya