"Kita mau ke mana lagi setelah ini?" tanya gue saat kami berjalan kembali menuju transportasi umum. Berdasarkan daftar di kepala gue, harusnya destinasi berikutnya adalah tempat yang tenang.
"Ikut gue. Kita ke tempat yang nggak ada di list rapi lo itu," ujar Bram dengan kerlingan misterius.
Ternyata, tempat yang dimaksud Bram adalah Pasar Tanah Abang. Tepat di jam sebelas lewat tiga puluh menit, saat pasar grosir terbesar itu lagi berada di puncak kegilaannya.
Begitu turun dari angkutan, gue langsung disambut oleh keriuhan total. Suara klakson motor yang saling bersahutan, teriakan abang-abang pengangkut barang yang memikul karung raksasa sambil teriak "Permisi, awas ketabrak!", dan lautan manusia yang saling berdesakan di koridor sempit.
Gue refleks mendekap kamera analog gue erat-erat di dada. Seseorang menyenggol bahu gue keras sampai gue hampir limbung, dan kamera gue nyaris saja terinjak kalau gue nggak buru-buru menyeimbangkan badan. Udara di sini panas, pengap, dan penuh bau keringat serta kain baru. Kepala gue langsung pusing. Ini benar-benar kebalikan dari kontrol yang biasa gue pegang.