Di tengah ketenangan Situ Lembang, Sari mulai menyadari bahwa ia benar-benar menikmati kebersamaannya dengan Bram. Namun, perasaan nyaman itu justru memunculkan ketakutan baru karena ia harus meninggalkan Jakarta keesokan harinya. Saat Bram menanyakan apakah sebenarnya Sari ingin tetap tinggal di Jakarta, pertanyaan sederhana itu menjadi pemicu luapan emosi yang selama ini ia pendam. Sari marah dan memilih pergi karena belum siap menghadapi kebingungan atas perasaannya sendiri.
Alih-alih mengejar, Bram memilih memberikan ruang bagi Sari untuk menenangkan diri. Sikapnya yang tenang perlahan meluruhkan amarah Sari dan membuatnya kembali duduk di samping Bram. Tanpa perlu kata maaf atau penjelasan, keduanya menikmati keheningan bersama sambil menyaksikan matahari terbenam, menyadari bahwa kedekatan yang terjalin di antara mereka telah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam dari yang mereka bayangkan.
Jakarta jam setengah enam sore adalah definisi neraka fungsional.
Kami terjebak di dalam taksi online di ruas Jalan Sudirman. Di luar kaca mobil, lautan kendaraan berwujud lampu merah buritan mobil dan motor yang saling menyelip menciptakan garis horizontal tanpa ujung. Bunyi klakson yang bersahutan terdengar diredam oleh kaca taksi, berbaur dengan suara AC mobil yang berembus pelan dan lagu radio yang sengaja diputar pelan oleh bapak sopir.
Kami nggak bisa ke mana-mana. Dan yang lebih parah, kami nggak bisa lagi saling diam. Ruang sempit ini memaksa atmosfer di antara kami jadi makin pekat.