Di sebuah warung makan di Menteng, Sari dan Bram menghabiskan malam terakhir mereka bersama dengan kesadaran bahwa esok hari jarak akan memisahkan mereka. Tanpa membuat janji-janji tentang masa depan, Bram hanya ingin memastikan bahwa seluruh kebersamaan yang mereka lalui dalam satu hari itu adalah sesuatu yang nyata. Sebagai bentuk penghargaan atas momen tersebut, Sari memberikan satu rol film berisi kenangan perjalanan mereka kepada Bram, karena hanya Bram yang sejak awal percaya bahwa pertemuan singkat itu memiliki arti yang besar.
Saat perpisahan tiba, keduanya memilih berpisah dengan sederhana tanpa drama dan tanpa menahan satu sama lain. Dalam perjalanan pulang, Sari menyadari bahwa ia mungkin belum menemukan jawaban tentang apakah seseorang bisa jatuh cinta hanya dalam waktu satu hari. Namun, satu hal yang pasti, pertemuan singkat yang awalnya terasa seperti kebetulan telah menjadi kenangan berharga yang cukup untuk mengubah cara pandangnya tentang waktu, kehilangan, dan makna sebuah kebersamaan.
Atap sebuah warung makan di kawasan Menteng jam tujuh malam jadi saksi babak terakhir kami. Angin malam Jakarta bertiup agak kencang, membawa aroma aspal panas yang diguyur gerimis tipis di kejauhan. Di bawah lampu neon yang agak berkedip, kami menyantap makan malam terakhir tanpa ada lagi basa-basi atau janji palsu tentang masa depan. Kami berdua tahu, besok jarak kami bakal terbentang ribuan kilometer.
"Kita nggak tahu apa yang bakal terjadi setelah ini, kan?" tanya gue, menatap sisa es teh manis di depan gue.
Bram mengangguk, dia tersenyum—kali ini senyumnya kelihatan lepas, seolah beban berat di pundaknya sudah turun di taksi Sudirman tadi. "Nggak ada yang tahu, Sar. Dan itu nggak apa-apa."