Aku pernah baca di suatu tempat, katanya manusia itu ibarat kaca, kalau retak di dalam, kau tak akan langsung tahu. Sampai satu hari, ia pecah dan pecahannya melukai siapa pun yang mencoba memungutnya. Dan mungkin itu yang terjadi di kelas 12-K. Kami bukan sekumpulan murid. Kami adalah serpihan yang dipaksa berada dalam satu bingkai.
Setelah hari pertama yang sunyi dan menyebalkan itu, hari-hari berikutnya berjalan lebih… ganjil. Bukan karena ada yang berubah. Tapi karena semuanya tetap sama.
Anastasia tetap mencibir Maya setiap pagi. Komentarnya berganti-ganti,
"Tas kamu kayak digigit tikus ya?"
"Eh, kamu udah mandi belum sih?"
"Baju kamu kok bau pengungsian?"
Tapi tak satu pun dari kami bicara, beberapa hanya tergelak. Tidak karena kami tak bisa. Tapi karena diam terasa lebih nyaman-- atau lebih tepatnya, lebih aman.
Akan kukenalkan pada kalian beberapa rekan senasib pengungsian dari kebun binatang kecil ini. Kenapa rekan? Karena kami hanya berada di kelas yang sama dengan aktivitas yang sama, kami jelas bukan teman-- definisi teman yang kutau, tak terlukis di hubungan kami.
Adit Wibowo – anak emas sekolah. Ranking 1 sejak kelas 10. Dapat rekomendasi beasiswa luar negeri. Tapi sejujurnya, dia lebih suka bicara angka daripada manusia. Pernah ada yang curhat ke dia soal masalah keluarga, dan dia jawab "Kamu terlalu reaktif. Itu cuma pola disfungsional yang bisa diperbaiki dengan CBT." Kaku. Dingin. Tapi sangat cerdas. Sayangnya, itu tak berguna saat temanmu sedang di-bully. Sebagai perempuan, aku tidak tertarik sama sekali dengan binatang satu ini. Kusebut dia, tikus berkacamata.
Dio Prasetya – anak basket, tinggi, kulit sawo matang, senyum yang disukai banyak cewek. Tapi otaknya? Lebih banyak berisi playlist Spotify dan highlight NBA daripada empati. Pernah satu kali Maya tersandung meja dan jatuh, Dio hanya tertawa kecil dan berkata, "Wah, dia kayak glitch game." Lucu, katanya. Kusebut Dio, Rubah Jingga. Kenapa? Karena tampangnya menggoda tapi congor mulutnya luar biasa.
Salsa Khairunissa – gadis manis berhijab, lembut, selalu tersenyum. Tapi terlalu takut untuk berkata 'jangan' atau 'tolong berhenti' pada Anastasia. Dia lebih suka berdoa diam-diam-- mungkin berharap Tuhan yang turun tangan. Kadang aku ingin bertanya, "Apa doa juga bisa menyelamatkan seseorang… jika mulutmu terlalu enggan untuk sekadar berkata cukup atau hentikan?"
Lalu ada Yohanes, anak Katolik pendiam yang suka melukis. Lukisannya gelap. Selalu gelap. Kadang aku curiga dia tahu sesuatu yang tidak kita tahu. Atau itu hanya intrik jiwa pubertasnya saja yang dia sembunyikan dalam-dalam lewat kesan misterius dengan karya-karyanya. Tapi sebagai orang awam, jujur saja, lukisannya indah seperti profesional. Dia tak pernah peduli pada sekitar, lukisan baginya adalah teman sehidup sejiwa. Pernah Anastasia tak sengaja menyenggol lukisannya, raut muka Yohanes langsung berubah macam orang mau mengutuk. Anastasia tidak mau terlibat dengan Yohanes, dia buru-buru minta maaf.
Seaura dengan Anastasia, ada Finda, yang katanya mantan siswi pindahan dari sekolah elite. Sekilas terlihat biasa. Tapi ada sesuatu di matanya… semacam rasa muak pada dunia. Entah itu dunia luar, atau dunia dalam dirinya sendiri. Mungkin tipikal anak yang dilimpahi harta tapi tidak dengan kehadiran orangtua. Dia berteman cukup dekat dengan Anastasia tampaknya, tapi tak pernah peduli dengan apa yang dilakukan Anastasia, entah itu hal baik atau hal buruk sekalipun. Walau jujur saja, Anastasia dan hal baik adalah dua hal yang berseberangan.
Tiani dan Tania, ya, saudara kembar, tapi mereka tak identik. Keduanya adalah pendukung nomor satu Anastasia dalam hal pembullyan terhadap Maya. Mereka yang paling kencang tawanya, yang paling heboh saat Maya terjatuh disenggol Anastasia, mereka pula yang suka mengusik Maya saat Anastasia tidak dalam mode mood membully.
Yang selalu jadi sorotan walau dia tidak mau, Maya. Maaf kalau kata-kata yang kuutarakan hanya mengandung kerendahan cara pandang, tapi aku sudah berusaha memperhalus penyebutannya. Maya punya penampilan yang jauh di bawah standar, wajah? Bukan, pakaiannya. Tanpa perlu bertanya pekerjaan orangtuanya atau di mana rumahnya, kami semua langsung tau dalam sekali pandang bahwa Maya berasal dari keluarga serba kekurangan dengan sifat pecundang penyendiri yang takut hidup tapi tak mau mati.