12-K

hyaeonasa
Chapter #3

Surat Pertama dari Neraka

Senin pagi, hujan turun tanpa jeda. Seperti langit ingin mencuci sisa dosa dari tanah sekolah ini.

Aku datang lebih awal dari biasanya. Bukan karena semangat. Tapi karena tak bisa tidur sejak semalam. Dari jendela ruang kelas, aku melihat Maya sudah kembali masuk kelas, duduk diam di kursinya dengan sorot mata seperti dua lubang yang menganga, dalam, dan sunyi, seolah jika aku menatapnya terlalu lama, sesuatu dalam diriku akan ikut terseret masuk.

Aku mengalihkan pandangan cepat-cepat. Lalu membuka pintu kelas.

Sebuah amplop cokelat menungguku di meja. Tidak ada nama. Tidak ada pengirim. Hanya satu kata tertulis di permukaannya,

SAKSIKAN.

Refleks aku menoleh ke arah Maya.

Dia tampak tak peduli dengan kehadiranku. Mungkin bukan Maya lagi pengirimnya, pikirku.

Satu hal yang kusadari, tulisan tangan di amplop bukan milik Maya. Huruf-hurufnya terlalu rapi. Terlalu tenang. Seperti ditulis oleh seseorang yang tidak sedang marah-- melainkan seseorang yang sudah selesai merasa marah. Aku tidak tau kenapa aku berpikir seperti itu.

Dalam amplop itu ada lima foto.

Cetakan buram, tapi cukup jelas.

1. Foto Anastasia, tengah mengejek Maya, wajahnya bengkok oleh tawa puas.

2. Dio, menyorotkan senter ke mata Maya saat mati lampu di kelas, seperti sedang menginterogasi tahanan.

3. Adit, duduk di samping guru sambil menunjuk kertas laporan, ekspresi bangga. Di bawahnya, ada tulisan tangan, Dia tahu, tapi dia memilih berpaling.

4. Salsa, merekam video saat Anastasia mencoret rok Maya dengan spidol.

5. Foto terakhir... adalah aku sendiri, duduk di pojok kelas, tangan di dagu, melihat semuanya, tanpa bergerak.

Lihat selengkapnya