12-K

hyaeonasa
Chapter #4

Hening yang Meledak

Ada dua jenis kematian di dunia ini.

Yang datang diam-diam… dan yang datang terlalu keras hingga tak ada yang bisa berpura-pura tuli.

Kematian pertama kami datang sebagai kombinasi keduanya.

Pagi itu, langit mendung seperti biasa. Udara lembab. Tanah becek. Tapi tidak ada yang memperhatikan itu. Karena sejak satu minggu terakhir, kami terlalu sibuk memperhatikan satu sama lain.

Setelah aku datang ke sekolah pagi-pagi buta demi bisa mengembalikan binder yang kucuri dari laci meja Maya, sejak hari itu amplop terus muncul di meja murid, selalu tanpa nama, tanpa suara, tanpa jejak. Setiap hari, satu orang menerima. Dan di setiap hari itu pula, yang menerima terus berubah.

Salsa berhenti tersenyum. Adit mulai paranoid. Dio menolak datang ke sekolah selama tiga hari. Anastasia... masih berusaha terlihat tenang. Tapi kukunya mulai ia gigit, dan kantong matanya mulai kelihatan jelas.

Dan aku? Aku menyimpan semua amplop yang kutemukan, yang dirobek, diremuk, dan dibuang murid-murid 12-K. Aku diam-diam di sudut kamar mulai menyusunnya seperti puzzle. Tapi tidak ada yang cocok. Belum. Yang kutemukan hanya satu, kenyataan bahwa amplop yang ditujukan untukku berbeda dengan amplop-amplop yang diterima semua murid 12-K.

Kami dikumpulkan di aula sekolah. Katanya ada pengumuman penting dari kepala sekolah. Kami duduk di bangku panjang, berderet seperti barisan nisan. Tak ada yang berbicara.

Lalu, kepala sekolah naik ke atas panggung. Di belakangnya, berdiri dua polisi. Wajah beliau pucat. Bicaranya gemetar. Tangannya terus meremas kertas.

“Ada berita duka… salah satu murid kita ditemukan meninggal dunia pagi ini… di rumahnya.”

Suara aula mendadak hampa.

“... Ananda… Salsa Khairunissa.”

Aku tidak percaya. Salsa? Yang paling baik? Yang paling penurut? Yang tak pernah menyakiti siapa pun?

Tapi detik berikutnya aku sadar, mungkin justru itu alasannya.

Kami berdua belas kembali ke kelas setelah pemberitahuan dan ucapan belasungkawa dari sekolah atas kematian peserta didiknya. Tak lama setelah itu, kepala sekolah muncul di kelas kami. Dengan muka serius, dia mulai berbicara.

“Seperti yang kalian dengar di aula tadi. Pihak keluarga menemukan ia di kamar, duduk bersandar dengan beberapa botol obat kosong di lantai,” lanjut kepala sekolah, dengan suara yang makin hilang. “Tidak ada tanda kekerasan. Diduga… bunuh diri.”

Dio berbisik, “Omong kosong.” Besoknya dia mulai meliburkan diri, tanpa keterangan tentunya.

Anastasia langsung berdiri, keluar dari kelas tanpa izin.

Aku masih duduk. Tapi tangan dan kakiku dingin seperti baru dicelup ke salju.

Lihat selengkapnya